thumbnail Halo,

Memasuki usia ke-83, setidaknya ada empat aspek utama yang seharusnya menjadi agenda utama pembenahan PSSI.


Akhir pekan ini PSSI memasuki ulang tahun yang ke-83. Seiring perkembangan zaman, organisasi yang awalnya ditujukan menjadi alat perjuangan oleh Ir Soeratin Sosrosoegondo kini lambat laun merambah kepentingan yang lebih luas.

Tahun lalu publik merayakan ulang tahun PSSI dengan suasana ganjil. Ada dua asosiasi yang bertikai memperebutkan kendali kebijakan sepakbola tanah air, ada dua kompetisi yang berjalan, serta diwarnai pula dengan kekalahan 10-0 dari kandang Bahrain pada laga terakhir kualifikasi Piala Dunia 2014. Mari kita mengingat lagi, itu kekalahan terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Ketegangan sedikit mereda menjelang 19 April tahun ini. Kongres Luar Biasa PSSI 17 Maret lalu telah mengembalikan kendali sepenuhnya ke tangan Djohar Arifin Husin selaku ketua umum. Masalah dualisme kompetisi sudah diputuskan, begitu juga dengan masalah-masalah organisasional lain. Masalah ternyata tidak berhenti karena masih meninggalkan pertanyaan tentang pengelolaan kompetisi divisi utama serta penanganan timnas di bawah BTN. Jika digeneralisasi, setidaknya ada empat agenda utama yang harus menjadi pembenahan utama bagi PSSI pada periode kepengurusan saat ini.

Profesionalisme klub. Sejak era penyatuan kompetisi di bawah kepemimpinan Azwar Anas, visi industri sepakbola sebenarnya sudah dapat diprediksi. Begitu juga ketika Nurdin Halid mencanangkan Visi 2020. Namun, pada prakteknya pengelolaan klub-klub Indonesia tak beranjak lebih baik. Mayoritas klub kerap tersandung masalah klasik, yaitu pendanaan. Klub-klub besar dengan dukungan kedaerahan yang tinggi masih bernafas lega, tetapi untuk jangka panjang mereka pun masih sulit menangguk profit. Sepertinya dibutuhkan "revolusi industri sepakbola" supaya klub-klub dapat menjadi organisasi bisnis yang kuat lagi sehat, tidak sekadar menjadi panitia tahunan belaka.




Prestasi timnas. Tidak ada lagi prestasi yang dapat dibanggakan dari negara ini sejak SEA Games 1991. Masyarakat pun mulai kenyang dengan mitos kejayaan masa lalu, seperti kisah-kisah lama tentang bagaimana Indonesia pernah menjadi raja Asia dan "sering" mengalahkan Jepang atau Korea Selatan. Mungkin kisah itu benar, tetapi Indonesia tak pernah memperbaiki diri mulai ketika Arab Saudi berjuang menumbuhkan rumput di lapangan sepakbola sampai menjadi kekuatan sepakbola Asia dewasa ini. Pada kenyataannya, publik miris mengetahui Indonesia berada di peringkat 170 FIFA terkini. Piala Asia 2007 dan AFF Suzuki Cup 2010 menjadi bukti besarnya potensi sepakbola Indonesia jika ditangani dengan baik. Sayangnya, sepertinya yang lebih diperhitungkan adalah kalkulasi dari aspek bisnis semata dan melupakan bahwa sejatinya timnas merupakan piramida sepakbola yang tak bisa dipisah-pisahkan.



Kompetisi dan pembinaan usia muda yang ajeg. Jika timnas menjadi puncak piramida, roda kompetisi yang menjadi tubuhnya. Dalam sejarah, Ali Sadikin mencetuskan kompetisi semi-profesional bernama Galatama untuk mengembangkan sepakbola Indonesia. Galatama menjadi salah satu kompetisi semi-profesional pertama di Asia dan federasi Jepang pun sempat belajar dari Indonesia sebelum menggulirkan J-League. Di tengah perang popularitas dengan kompetisi Perserikatan yang amatir, PSSI menempuh jalan tengah dengan menggabungkan keduanya ke dalam satu wadah, yaitu Liga Indonesia pada 1994. Hampir 20 tahun unifikasi kompetisi itu berjalan, tetapi masalah tetap berkutat soal pendanaan, penjadwalan, hingga kualitas wasit. Sebagai tambahan, piramida sepakbola ini kian lengkap dengan dasar pembinaan usia muda yang mumpuni.



Tata kelola organisasi yang sehat. Beberapa bulan terakhir sepakbola dunia marak membahas skandal pengaturan hasil pertandingan yang mewabah di segala penjuru dengan sumber pada sindikat judi Timur Jauh. Sepakbola dan judi memang sulit dipisahkan serta sudah lama menjadi bahasan, seperti ketika Skandal Senayan yang membuat Tony Pogacnik dan menggagalkan mimpi emas Indonesia di Asian Games 1964. Selain itu, sepakbola dan korupsi juga punya catatan panjang, antara lain seperti skandal pencalonan presiden FIFA yang terindikasi suap beberapa tahun lalu. Judi dan korupsi terjadi di mana saja. Unsur good governance atau tata kelola organisasi yang baik menjadi faktor penting bagi PSSI dalam mengembalikan kepercayaan publik kepada mereka.



Menurut Anda, aspek mana yang sebaiknya diprioritaskan oleh PSSI saat ini? Sampaikan melalui polling di bawah ini. Atau Anda punya pendapat lain? Sampaikan melalui rubrik komentar di bawah ini! Kami dari GOAL.com Indonesia ingin mengetahui pendapat Anda.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.

Tendangan Bebas

Apa masalah utama sepakbola Indonesia saat ini?

Terkait