Indonesia Tak Perlu Malu Belajar Dari Jepang

Tony Sucipto menyatakan, sepakbola Indonesia sedang menuju era profesionalisme yang lebih baik.

LIPUTAN   PANDU PERSADA     DARI   BANDUNG   

Bek Persib Bandung Tony Sucipto mengatakan, Indonesia tidak perlu malu belajar dari Jepang maupun Korea Selatan untuk meningkatkan kualitas persepakbolaan nasional, baik dari segi kompetisi maupun infrastruktur.

Tony mengatakan, keberhasilan Persib mendatangkan Michael Essien merupakan awal dari perkembangan sepakbola profesional di Indonesia. Namun, Indonesia masih harus banyak belajar untuk menyamai kompetisi di sejumlah negara maju Asia.

SIMAK JUGA: Matsunaga Diasah Jadi Pelapis Van Dijk

“Kalau melihat kompetisi sepakbola kita dengan membandingkan negara-negara asia seperti Tiongkok, masih belum [sejajar]. Kita masih di bawah, seperti dari insfrastruktur dan kualitas rumput,” ujar Tony.

“Kita saat ini sedang menuju ke sana. Kita juga enggak seharusnya malu ambil contoh dari Jepang dan Korea yang punya kualitas rumput bagus.”

SIMAK JUGA: Legenda Minta Persib Hati-Hati Soal Essien

Sementara itu, Persib kembali menambah satu amunisi dari Diklat U-21 untuk melengkapi kuota pemain di bawah usia 23 tahun. Puja Abdillah diharapkan bisa menjadi pelapis Febri Hariyadi atau Gian Zola jika kedua pemain itu dipanggil memperkuat timnas Indonesia U-22 di tengah kompetisi.

“Ini langkah andaikan kami tidak bisa pakai [Febri Hariyadi]. Jadi, saya coba lihat pemain lain. Posisi dia winger, karena kami memang butuh di situ. Di gelandang tengah masih ada [Ahmad Subagja] Baasith. Kalau dirasakan enggak cocok, akan kami ganti dengan pemain lain,” tutur pelatih Djadjang Nurdjaman.

SIMAK JUGA: Persib Agendakan Uji Coba Lawan PSMS

“Nanti ada program untuk menaikkan mental para pemain U-23. Walau tidak diberikan secara khusus, itu hanya salah satu persiapan yang diberikan.”

Di lain sisi, Puja berusaha memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Pemain berusia 20 tahun itu pun tak merasa dihantui bayang-bayang Febri. Puja mengaku lebih termotivasi melebihi capaian Febri. (gk-68)