Tiga Raja Final Liga Champions

BagikanTutup Komentar
Kelolosan Juventus dan Real Madrid ke Cardiff menjadikan mereka sebagai klub dengan penampilan terbanyak di final Liga Champions bersama AC Milan.


OLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di twitter

Sejak format baru diperkenalkan pertama kali di musim 1992/93, Liga Champions telah menggelar 24 laga final. Untuk final edisi ke-25 di musim ini, dua tiket sudah dipesan oleh Juventus dan Real Madrid.

Juventus melaju ke partai puncak setelah sukses mendepak AS Monaco lewat skor agregat 4-1 di semi-final. Sementara Madrid mengeliminasi rival sekotanya, Atletico Madrid, dengan keunggulan agregat 4-2. Raksasa Italia dan Spanyol itu akan berjumpa di Stadion Millennium, Cardiff, Wales pada 3 Juni mendatang untuk memperebutkan trofi Si Kuping Lebar.

Lolosnya Juventus dan Madrid ke final Liga Champions bukanlah kejadian yang luar biasa. Dari 24 final sebelumnya, baik Juve maupun Madrid tercatat sebagai tim yang paling sering lolos, yakni sebanyak enam kali. Hanya AC Milan yang sanggup menyamai partisipasi Juve dan Madrid di final kompetisi elite Eropa tersebut.

Vaseline Raja Final UCL - Infografis

Dengan demikian, status raja final Liga Champions layak disematkan kepada Juve, Madrid. dan Milan. Namun, Madrid-lah yang paling pantas disebut sebagai raja sejati. Los Blancos mampu menjaga rekor 100 persen kemenangan di final dan berpeluang melanjutkan catatan impresif itu jika mengalahkan Juventus tiga pekan mendatang.

Kemenangan atas Juventus bakal menghadirkan gelar Eropa ke-12 bagi Madrid sekaligus menjadi tim pertama dalam format baru Liga Champions yang mampu mempertahankan gelar dari musim sebelumnya. Juventus, tentu saja bakal sekuat tenaga untuk menghentikan ambisi Cristiano Ronaldo dkk.

Terlebih, Bianconeri ingin memperbaiki rekor buruk mereka final di mana mereka selalu gagal dalam empat kesempatan terakhir. Juve bahkan tampil di tiga final berturut-turut (1995/96 hingga 1997/98), sayang hanya satu gelar yang berhasil mereka gondol. Juventus juga terpaksa pulang dengan tangan hampa di dua final berikutnya.

SIMAK JUGA: Zidane: Madrid Bukan Favorit Di Final UCL

Sementara Milan adalah kekuatan lama yang dahulu sangat disegani di Eropa. Rossoneri adalah tim terakhir yang mampu mempertahankan status sebagai juara Eropa (1988/89 dan 1989/90) sebelum format kompetisi diubah menjadi Liga Champions.

Dominasi The Dream Team, julukan skuat Milan kala itu, terus berlanjut dengan tiga kali beruntun muncul di final (1992/93 hingga 1994/95). Namun, seperti halnya Juventus, Milan hanya sanggup sekali menang dari tiga kesempatan itu. Di bawah arahan Carlo Ancelotti, Milan kemudian sanggup memboyong dua trofi tambahan, meski harus diselingi dengan kekalahan dramatis dari Liverpool.

Performa optimal di atas lapangan bisa membuat kusam wajah para pemain, tapi mereka tak perlu lagi cemas soal penampilan. Pasalnya ada Vaseline Men Active Bright Oil Expert Gel Wash yang mengandung Micro-Droplets of Vaseline Jelly yang dapat digunakan usai pertandingan untuk mengembalikan wajah tetap cerah dan #GantengMaksimal walau habis bercucuran keringat.

 

Artikel Selanjutnya:
Zinedine Zidane Tolak Label Pelatih Terbaik
Artikel Selanjutnya:
Laporan Pertandingan: Monaco 2-0 Caen
Artikel Selanjutnya:
Ada Masalah, Marcel Sacramento Diparkir Lawan Persija Jakarta
Artikel Selanjutnya:
Sergio Aguero Samai Rekor Gol Manchester City
Artikel Selanjutnya:
REVIEW Bundesliga Jerman: RB Leipzig Tempel Rapat Borussia Dortmund
Tutup