Presiden Napoli Sebut Giampiero Ventura Pelatih Kelas Serie C

Komentar
Kegagalan Italia ke Piala Dunia diakui presiden Napoli Aurelio de Laurentiis karena sosok Giampiero Ventura adalah pelatih kelas Serie C.


OLEH   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti di twitter

Presiden Napoli Aurelio de Laurentiis turut mengecam kegagalan Italia melaju ke Piala Dunia 2018 di tangan pelatih Giampiero Ventura. Menurutnya, Ventura tak lain adalah sosok juru taktik kelas Serie C Italia.

Rupanya, Laurentiis pernah memecat Ventura ketika melatih Napoli, yang di tahun 2005 bermain di kasta ketiga kompetisi sepakbola Italia. Hanya berjalan tiga bulan dari penunjukkannya, de Laurentiis memecat Ventura karena dinilai tak punya kapabilitas.

Kini, Italia harus merelakan tempat di Piala Dunia Rusia, yang merupakan kegagalan pertama Gli Azzurri berada di turnamen akbar empat tahunan itu untuk pertama kalinya sejak 1958, setelah tak kuasa melewati hadangan Swedia yang menang agregat, 1-0, di babak play-off kualifikasi.

Ventura sendiri diagendakan bakal dipecat FIGC, federasi sepakbola Italia, hari ini.

"[Presiden FIGC Carlo] Tavecchio adalah satu-satunya yang paling bertanggung jawab atas semua ini, karena dia mempertahankan pelatih yang memang sangat bagus, tapi saya pernah memecatnya di Serie C setelah tiga bulan!" tukas de Laurentiis kepada Sky Sport Italia.

Dari segi finansial, de Laurentiis menilai taktik Ventura telah menggembosi nilai pasar pemain-pemain yang tampil membela Italia karena ketidakmampuan sang pelatih menempatkan pemain sesuai dengan posisinya. Sang presiden tak habis pikir dengan taktik yang digunakan Ventura.

"Apa gunanya memanggil [Lorenzo] Insigne untuk tugas interasional jika Anda akan memainkannya di luar posisinya? Cara ini hanya membuang-buang waktu dia dan secara finansial juga merugikan klub, sebab itu membuat seolah-olah Insigne adalah pemain terburuk dari siapa dia sebenarnya."

"Anda tidak bisa memiliki pelatih yang memainkan 4-2-4 dan berusaha menekan Insigne atau pemain lainnya dalam sistem itu, sebab dia memberikan yang terbaik dalam sistem 4-3-3. Klub menyerahkan pemain mereka karena tugas internasional adalah ibarat jendela toko, namun itu bisa pula menjadi negatif."

"Orang-orang yang menyaksikan pertandingan Italia kemudian akan berkata, mereka ini pemain-pemain yang tidak seberbakat yang dikatakan dan itu bisa menurunkan nilai pasar mereka."

"Lalu apakah para klub seharusnya menuntut untuk ganti rugi finansial dari Tavecchio dan FIGC?" tandasnya.

Artikel Selanjutnya:
Andre Oktaviansyah: Kami Tak Boleh Lupa Diri
Artikel Selanjutnya:
Mitra Kukar Bidik Kemenangan Laga Tandang Perdana
Artikel Selanjutnya:
Borja Iglesias: Cristiano Ronaldo Pergi, Real Madrid Tak Kehilangan Taring
Artikel Selanjutnya:
Menang Atas Iran, Si Kembar Timnas Indonesia U-16 Enggan Terbuai
Artikel Selanjutnya:
Kalah, Iran U-16 Tak Terbiasa Dengan Lapangan Becek
Tutup