Play-Off Khusus Liga 2, Lelucon Besar Sepakbola Nasional 'Era Modern'

BagikanTutup Komentar
Sebuah kebijakan kontroversial dari PSSI dan PT LIB menelurkan pertandingan brutal nan memalukan dalam sejarah sepakbola Indonesia.


OLEH   TEGAR PARAMARTHA     Ikuti di twitter

PSSI sejatinya berkeinginan untuk mengubah arah sepakbola nasional menjadi modern layaknya negara lain, transformasi pengelola liga dan juga kompetisi menjadi modal awal, dengan PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) mengusung semangat 'baru' dari pendahulunya, sementara nama Liga 1 dicetuskan untuk menjauhkan kesan tradisional.

Semua tampak menjanjikan, aturan mengenai pemain asing diperketat, pemain Marquee Player didatangkan, pemain muda diorbitkan, namun sayang, lagi-lagi itu hanya dilakukan pada kulitnya saja.

Di era informasi ini, PSSI masih bisa mengeluarkan kebijakan aneh dan ajaib untuk menyikapi kesalahan yang dibuat oleh PT LIB sebagai operator kompetisi dalam menentukan posisi klub di klasemen Liga 2 - kasta kedua sepakbola Indonesia.

PT LIB melakukan blunder konyol dengan menempatkan Persewangi Banyuwangi sebagai klub yang lolos ke babak play-off, setelah menempati posisi ke-empat klasemen akhir grup 6 dengan poin 18, mengungguli PSBK Blitar yang memiliki perolehan angka sama namun kalah selisih gol. Padahal dalam aturan, selisih gol diperhitungkan setelah melihat head-to-head kedua tim, dan PSBK ternyata lebih unggul dalam H2H - menang 2-0 di Blitar dan kalah 2-1 di Banyuwangi.

Alhasil, hal tersebut membuat PSBK mengajukan protes kepada federasi sepakbola Indonesia, yang kemudian mengeluarkan kebijakan kontroversial, yaitu play-off khusus antara kedua tim tersebut pada 10 Oktober 2017 di Stadion Kanjuruhan Malang, hingga membuat jadwal babak play-off sebenarnya mundur. 

Sungguh sulit dinalar, karena PSSI justru ikut menabrak aturan meski bisa saja dengan enteng meminta PT LIB mematuhi aturan mereka sendiri, yang dengan otomatis meloloskan PSBK. Bahkan, pertandingan play-off itu sendiri juga dikeluhkan oleh manajer Persewangi, Hari Wijaya.

"Play off khusus tidak ada di regulasi Liga 2. Oleh karena itu kami memohon dengan hormat dan menghormati pejuang olahraga di Liga 2, jangan membuat keputusan setelah kompetisi selesai. Ini menjadi kecelakaan organisasi terbesar di Tanah Air," ujarnya.

Bagaimanapun juga, kendati sempat menolak bertanding, Persewangi akhirnya tetap muncul di hari laga untuk bertarung dengan PSBK, dan siapa sangka 'bertarung' ini diartikan secara harfiah di atas lapangan hijau.

Gelagat kurang sportif sudah ditunjukkan bahkan sebelum peluit kick-off dibunyikan. Pemain Persewangi tidak mau berjabat tangan dengan pemain PSBK, yang kemudian dibalas provokasi oleh kiper PSBK: "Pemain Persewangi tidak mau berjabat tangan karena takut dengan kita," seperti yang dilaporkan awak Goal - Abi Yazid - di tempat.

PSBK - Persewangi Play Off Khusus

Alhasil, pertandingan kemudian berjalan layaknya arena pencak silat, wasit harus mengeluarkan tiga kartu merah dalam tempo 19 menit (dua untuk Persewangi, satu untuk PSBK), karena begitu tidak terkontrolnya emosi para pemain kedua kubu. Itupun wasit masih terlihat tidak tegas karena dalam waktu tersebut sudah terjadi tujuh insiden perkelahian, bahkan pemain Persewangi sempat mencopot jersey mereka untuk menantang keputusan sang pengadil - yang tidak diganjar kartu kuning!

Pertandingan dipaksa terus berjalan meski situasi sudah tidak layak disebut sepakbola, "90 persen perkelahian, 10 persen sepakbola," tukas Abi.

PSBK pada akhirnya berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-69 melalui gol Prisma Chairul Anwar, untuk membuat mereka unggul 1-0. Permainan berlanjut dengan semakin panas tanpa ada ketegasan wasit ,sehingga terjadi keributan besar yang melibatkan pemain, tim cadangan dan ofisial kedua kubu pada menit ke-82, tetapi wasit setelah itu tetap 'nekat' melanjutkan laga.

Empat menit berselang, wasit akhirnya menyerah untuk meneruskan pertandingan yang sudah tidak dapat dikendalikan ini setelah ia menjadi sasaran amuk pemain Persewangi yang meminta hadiah penalti usai terjadi insiden di kotak penalti PSBK. Alhasil, belum ada skor akhir resmi untuk pertandingan ini.

Usai laga, kiper sekaligus kapten Persewangi, Nanda Pradana, mencoba mendinginkan suasana dengan menjelaskan mengapa ia dan rekan-rekannya enggan berjabat tangan sebelum kick-off. "Kami tidak mau salaman karena memang lawan kami bukan PSBK, saya sudah minta maaf kepada pemain mereka. Kami teman di luar lapangan,” ungkapnya.

PSBK - Persewangi Play Off Khusus

Bagaimanapun juga, pertandingan ini akan tetap menjadi catatan hitam dalam sejarah sepakbola nasional yang tengah berupaya bangkit kembali. Dan laga brutal nan memalukan ini seharusnya tidak perlu terjadi, tapi PT LIB yang kurang tegas menegakkan aturan sendiri jelas menjadi sumber pemicu, dan sikap negatif tersebut sebenarnya sudah jauh terlihat saat mengelola aturan di kasta tertinggi.

Salah satu kebijakan yang disorot adalah kewajiban klub memainkan pemain U-23, yang menjadi terobosan agar pemain-pemain muda memiliki jam terbang tinggi, kendati kemudian harus dihentikan secara tiba-tiba karena banyak pemain belia harus ditarik keluar dari klub untuk memperkuat tim nasional.

"Seharusnya regulasi ini minimal harus diberlakukan selama satu putaran, tidak seperti sekarang pada pekan ke-11. PT LIB tidak bisa seenaknya, main hapus aturan. Karena regulasi dibuat dan tetapkan dengan tahapan yang panjang dan memperhatikan berbagai aspek," ujar Sekretaris Sriwijaya FC Ahmad Haris.

Pelatih PSM Makassar, Robert Rene Alberts, juga merasa bingung dengan perubahan aturan yang dilakukan oleh PT LIB tersebut. “Regulasi ini sangat lucu saja kedengarannya. Selama bukan turnamen resmi dari FIFA dan AFC maka tak seharusnya PSSI tak berhak mengambil pemain dari klub saat ini,” ungkap mantan pelatih Arema FC tersebut.

“Itu yang melepas juga adalah hak kami. Kalau pun kami akan memberikan, itu artinya ada niat baik kami untuk membantu mereka, dan saya hanya bertugas memberikan yang terbaik bagi PSM.”

Terbaru di Liga 1, sebanyak 15 klub - yang menamakan diri sebagai Forum Klub Sepakbola Profesional Indonesia (FKSPI) mengancam untuk melakukan mogok tanding karena menilai PT LIB masih belum bisa menjalani tata kelola yang baik seperti diamanatkan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sebelum kompetisi dimulai.

Beberapa hal yang dianggap tidak ada kejelasan antara lain perhitungan pembagian keuntungan berdasarkan rating televisi, sistem pengaturan jadwal, transparansi jumlah sponsor, hak gaji pemain yang dipanggil timnas, penugasan wasit asing hingga regulasi kompetisi secara umum.

Dengan 'bom' sudah meledak di Liga 2, PSSI dan PT LIB diharapkan melakukan evaluasi internal agar carut marut tidak berkepanjangan dan semua kompetisi bisa dijalankan dengan tidak ada lagi pihak yang merasa dirugikan akibat inkonsistensi aturan.

 

Artikel Selanjutnya:
PREVIEW Liga Champions: Chelsea - AS Roma
Artikel Selanjutnya:
Keylor Navas Tak Bahagia Diimbangi Tottenham Hotspur
Artikel Selanjutnya:
Jurgen Klopp Semringah Dengan Rekor Gol Liverpool
Artikel Selanjutnya:
Kyle Walker Sanjung Penampilan Heroik Ederson
Artikel Selanjutnya:
REVIEW Liga Champions: Sevilla Kalah Telak Di Rusia, APOEL Imbangi Borussia Dortmund
Tutup