Kisah Naby Keita: Dari Jalanan Guinea Ke Gemerlap Eropa

BagikanTutup Komentar
Kisah perjalanan karier Naby Keita, yang akan bergabung dengan Liverpool musim panas mendatang.


OLEH  MELISSA REDDY           ALIH BAHASA  AGUNG HARSYA

Remaja bertubuh mungil itu menggiring bola dengan kaki telanjang. Kausnya kebesaran sehingga mudah ditarik oleh lawan bermainnya. Remaja itu tidak peduli dan terus berlari. 

Mendadak dia merasakan ada benturan dari belakang. Keseimbangannya goyah sejenak, tapi tak menghentikan langkahnya sebelum menembak bola. Naby Keita berhasil mencetak gol. Saat merayakannya, dia baru sadar, beberapa detik yang lalu dia disenggol mobil.

"Itu biasa terjadi," ujar Keita secara eksklusif kepada Goal saat mengenang masa kecilnya di Koleya, sebuah kawasan di Conakry, ibukota Guinea.

"Kami bermain di mana saja di luar ruang, biasanya di jalanan dan kami harus berkelit menghindari mobil!"

"Saya disenggol beberapa kali, tapi tetap bermain karena saya tak mau kehilangan bola. Tidak ada yang bisa mencegah saya dan saya banyak belajar dari pengalaman di jalanan itu."

"Kami bermain dengan apa saja yang kami temukan dan kaki saya tidak memakai apa-apa. Kadang-kadang, saya bermain dengan sepatu butut yang sudah rusak," lanjut gelandang yang baru saja menembus Goal 50 2017, yaitu daftar peringkat 50 pemain terbaik di dunia yang akan kami umumkan Selasa, 14 November.

"Saya tidak punya sepatu dan saya sangat menjaga kaus sepakbola yang diberikan ke saya. Semuanya membantu saya saat bersiap menjadi pemain profesional sehingga tidak ada yang membuat saya gentar di lapangan."

"Tubuh saya kecil, jadi saya harus berjuang sekuat tenaga. Mulai dari kesempatan bermain, merebut bola, meraih respek, dan bahkan mobil-mobil tidak membuat saya berhenti. Itulah asal agresivitas permainan saya yang begitu penting untuk posisi bermain yang saya tempati."

Raja Jalanan Conakry itu kini menjadi pemain sepakbola Afrika termahal dalam sejarah. Liverpool mesti mengaktifkan klausul penjualan £48 juta dari kontrak sang pemain dengan RB Leipzig. Transfer akan berlangsung 1 Juli tahun depan.

Kepindahan itu sudah dibayangkan Keita sejak remaja, tapi menjadi pemain terbaik adalah sesuatu yang diimpikannya sejak kecil. Saat berlatih berjalan, ibu Keita, Miriam Camara, harus menyingkirkan semua benda dari kakinya.

"Beliau bilang benda apapun yang jatuh dari meja, entah itu botol minum atau sebutir jeruk, saya akan langsung menggiringnya," kisahnya sambil tergelak.

"Apapun yang tergeletak di lantai saya tendang, saya bermain-main dengannya. Ke mana pun ibu membawa saya, saya akan melakukannya."

Ayah Keita, Sekou Keita, percaya takdir anaknya sudah ditentukan sejak lama.

"Ayah bilang saat bayi saya sudah menyukai bola, saya memandanginya dan menyentuhnya. Selalu ada bola dalam jangkauan saya."

Meski disadari sulit mencegah keinginan anaknya menekuni sepakbola, kedua orangtua Keita sempat mengarahkannya ke jalur lain.

"Mereka ingin saya kuliah," ujar pemain 22 tahun itu. "Mereka merasa pendidikan sangat penting dan menjamin stabilitas, tapi tidak ada hal selain sepakbola buat saya."

"Mereka terus mencoba, tapi mereka bisa melihat apa sebenarnya isi hati dan kepala saya. Semua tetangga mengatakan, saya pemain terbaik di Conakry, dan pada akhirnya orangtua saya bilang mereka menyadari bakat spesial yang saya miliki dan mendukung penuh impian saya."

Saat berusia 12 tahun, pemantau bakat lokal sudah menyarankannya untuk ke Eropa. Tapi, terlalu muda baginya untuk melakukan hal itu.

"Saya belum siap mental untuk mengambil langkah sebesar itu," jelas Keita. "Dua tahun kemudian, ketika sudah banyak menyaksikan Ligue 1, Liga Champions, dan Liga Primer di televisi, saya tahu sayaa ingin bermain di level seperti itu."

"Mustahil melakukannya di negara asal saya, jadi jelas kiranya kalau saya harus mencoba kemampuan di Eropa. Saya bertekad menjadi pesepakbola, bukan karena mencintai olahraga ini, tetapi untuk membuktikan diri kepada keluarga."

Jadi, ketika berusia 16 tahun, dia pergi ke Eropa untuk menempuh trial bermodalkan perasaan antusias. 

"Orangtua saya khawatir. Mereka tidak mau saya pergi jauh-jauh dan mereka risau bagaimana saya beradaptasi dengan lingkungan baru," sambung Keita.

"Memang jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. Segalanya berbeda di luar kendala bahasa. Biasanya saya bermain dengan teman-teman, sekarang bersama orang asing yang jarang mau berbaur."

Keita kemudian ulang-alik dari Conakry ke Eropa Barat. Penolakan dari Lorient menjadi salah satu kenyataan pahit yang harus diteirmanya.

"Saya ragu apakah saya bisa berhasil. Itu periode yang sulit," jelasnya. "Mimpimu ada di ujung kuku, tapi kemudian runtuh seketika dan kamu harus memulainya lagi dari awal."

Hal yang paling menggentarkan Keita bukanlah tempat yang asing, perbedaan budaya, beradaptasi dengan orang-orang, melainkan adalah cara interpretasi sepakbola yang sama sekali berbeda.

"Saya tak pernah tahu aspek profesional dalam sepakbola," imbuh Keita. "Saya tidak pernah masuk akademi, semua yang saya tahu saya pelajari dari jalanan. Saya dapat bola, saya akan berlari menggiringnya, mengelabui lawan, dan mencetak gol."

"Selama proses trial ini, para pelatih meminta saya melakukan hal-hal yang tidak pernah saya dengar! Mereka menggunakan istilah sepakbola yang tidak saya pahami, serta memberikan instruksi yang tidak saya ketahui. Saya tidak tahu apa-apa soal taktik. Alasan itu yang diberikan ketika saya dinyatakan tidak lulus trial."

Baru lah enam tahun yang lalu Keita mendapatkan balasan menggembirakan. Hingga kini, sulit menemukan seorang gelandang dengan kemampuan bermain dan efektivitas seperti dirinya, baik saat bertahan maupun menyerang. Direktur Chelsea Christian Heidel memuji Leipzig memiliki "pemain ke-12" karena "Naby seperti dua pemain sekaligus, anak ini sulit dibendung".

Dia bisa melakukan tekel, melewati bek, intersep, melakukan transisi dengan cepat, membendung lawan, mendikte tempo pertandingan; kombinasi yang unik dan berharga.

Le Mans menjadi klub pertama yang menilai potensial Keita, bukan kemampuannya yang masih mentah. Namun, mereka tak bisa merekrutnya karena berada di ambang kebangkrutan. Keita, yang saat itu berusia 18 tahun, ditawarkan salah satu pengurus klub ke direktur olahraga FC Istres, Frederic Arpinon. 

Dia lalu bicara dengan para pemantau bakat yang menyaksikan penampilan Keita dalam sebuah turnamen di Marseille, yang dikelola oleh mantan bek Celtic Bobo Balde. Review dari mereka dianggap cukup bagi Istres untuk melakukan trial dan Naby dalam sekejap mampu menyita perhatian. 

Istres memberinya kontrak tiga tahun. November 2013, Keita berterima kasih dengan memberikan satu buah gol dan satu assist pada penampilan debut melawan Nimes, yang berakhir dengan skor 4-2.

"Saya sudah lama menunggu, ada beberapa kekecewaan, dan ketika mendapat peluang pertama, saya ingin membuktikan diri bahwa saya pantas bermain di Eropa," kenang Keita.

"Orangtua saya masih sangat risau. Saya harus menelepon mereka enam kali sehari dan mengatakan apa pun yang sedang terjadi!"

Arpinon sadar akan sulit bagi mereka untuk menyembunyikan bakat rekrutan anyarnya. Saat klub Ligue 1 ragu-ragu mengucurkan banyak dana untuk mutiara terpendam itu, Gerard Houllier yakin untuk membawanya ke Red Bull Salzburg.

Eks pelatih timnas Prancis dan Liverpool itu menjabat sebagai Head of Global Football klub Austria itu. Houllier membahas tentang Keita bersama Ralf Rangnick, yang menjadi direktur olahraga klub minuman energi itu sebelum mendapuk jabatan serupa di RB Leipzig.

Keduanya menyaksikan Keita ketika tampil berseragam timnas Guinea dalam laga uji coba melawan Mali, 25 Mei 2014, di Prancis. Houllier mendorong agar Salzburg mengikat Keita. Musim panas itu, Kaita menandatangani kontrak lima tahun untuk Die Roten Bullen, tempat Sadio Mane berkiprah sebelum hijrah ke Southampton.

Awalnya, saya tidak mendapat kesempatan tampil inti dan itu sangat membuat frustrasi," ungkap Keita. "Saya tak menyukainya dan itu malah mempersulit proses adaptasi. Tapi Sadio bilang, 'Adik kecil, tenang saja. Kesempatan akan tiba dan saat itu datang, manfaatkan sebaik mungkin'."

"Dia banyak membantu saya, mulai dari bahasa, bergaul, memahami klub, dan beradaptasi dengan kota. Tentu saja, dia benar. Begitu saya masuk tim inti, saya membuktikan kualitas dan segalanya menjadi lebih lancar."

"Salzburg membantu saya mengembangkan diri sebagai pemain dan saya banyak belajar di sana. Saya mendapat pembelajaran taktik yang benar. Peran Sadio begitu penting, sampai saat ini! Buat saya, dia seperti abang sendiri. Dia senang mempelajari banyak hal baru, mengembangkan diri, dan kami memiliki kesamaan karakter. Dia teladan bagi saya."

Mane, tiga tahun lebih tua daripada Keita dan juga diwakili oleh grup olahraga Arena11, masih punya naluri melindungi pemain Guinea itu dan menyaksikan pertandingannya bila sempat, langsung maupun lewat cuplikan.

"Dia pemain yang spesial dan sudah seperti keluarga bagi saya," ujar pemain cepat Liverpool itu. "Hubungan kami erat di Salzburg dan kami masih berhubungan. Saya senang menyaksikannya dan saya ingin membantunya lagi saat dia datang tahun depan."

"Dia bertanya soal Liverpool dan saya bilang klub ini luar biasa dengan banyak pemain berbakat, manajer yang hebat, dan punya ambisi besar. Kota dan masyarakatnya baik, dia akan betah berada di sini."

Musim depan bukan lah kesempatan pertama Keita mengenakan seragam Liverpool.

"Saat berusia 11 atau 12, teman-teman dan saya memilih seragam mana yang akan dipakai oleh tim. Karena ayah saya menjuluki saya Deco karena bermain sepertinya, saya ingin kami mengenakan seragam Barcelona, favorit saya," bilang Keita.

"Namun, semua teman saya fans Liverpool dan saya pun menyukainya, jadi kami memutuskan memakai seragam Liverpool. Saya rasa tidak ada yang menyangka atau membayangkan kalau saya benar-benar akan bermain untuk Liverpool dan mengenakan seragamnya!"

Selain teman-temannya dulu, ada figur lain yang terus memberikan masukan untuk Keita.

"Ayah saya fans berat Liverpool!" ungkapnya. "Sejauh yang saya ingat, dia sibuk membicarakannya. Ketika saya tahu apa itu Liverpool sewaktu kecil, dia begitu tergila-gila."

"Tentu saja dia sangat bahagia ketika mengetahui minat mereka dan ketika transfer musim depan terwujud. Dia ingin membahas soal Istanbul, Steven Gerrard, dan semua pertandingan besar atau pemain legendaris Liverpool."

Namun, Keita tidak mau buru-buru berpikiran soal bermain untuk pasukan Jurgen Klopp.

"Masih banyak yang mesti saya capai bersama Leipzig musim ini dan fokus saya tetap bersama mereka," tukasnya.

"Klub memperlakukan saya dengan baik dan saya berkembang pesat bersama mereka. Kepindahan dari Salzburg ke Leipzig adalah langkah besar buat saya dan saya dapat merasakan level yang lebih tinggi. Musim lalu terasa istimewa buat kami, kami bermain baik dan finis kedua di Bundesliga serta untuk kali pertama merasakan Liga Champions."

"Biasanya saya menyaksikan Xabi Alonso di Liga Champions dan Liga Primer ketika masih tinggal di Guinea. Musim lalu, saya berkesempatan bermain menghadapinya sebelum pensiun. Ketika memikirkan hal-hal seperti ini, saya merasa bersyukur, tetapi juga menunjukkan hasil kerja keras saya. Tapi ini baru awal, saya tidak pernah puas, saya tidak pernah merasa nyaman."

Ketika nominator Pemain Terbaik Afrika ini kembali ke Guinea, dia disambut dengan kenangan serta inspirasi untuk terus mendorongnya berkembang.

"Saat pulang ke Conakry, masih banyak anak bermain di jalanan tanpa sepatu, di antara mobil-mobil. Saya selalu membeli sepatu sebanyak mungkin untuk anak-anak itu karena saya tahu betapa besar artinya memberikan hal sesederhana itu. Saya merasa bangga karena begitu banyak bakat bertebaran di Guinea."

Tidak semuanya sama saat kepulangannya. "Saya ingin menjadi seperti Deco, Titi Camara, atau Pascal Feindouno ketika masih muda, dan sekarang banyak anak mengenakan nama saya di seragam mereka! Itu motivasi besar buat saya dan saya harap terus menunjukkan mereka bahwa dengan keberanian dan semangat, mereka dapat mencapai segalanya."

"Tidak peduli semiskin apa atau tempat asal dirimu, kalau siap berkorban, bekerja keras, dan tidak pernah berhenti, semua mimpi dapat diraih."

Begitu banyak perubahan yang terjadi dalam hidup Keita, tapi selalu ada hal yang tetap sama. "Ibu saya di sini, dia datang berkunjung setiap tiga bulan sekali, dan tinggal bersama saya," ujarnya.

"Sekarang dia tidak perlu berteriak supaya saya berhenti menendang benda-benda, tapi dia tetap menjadi batu karang buat saya. Tanpa keluarga, saya bukan apa-apa dan apa pun yang terjadi, saya takkan melupakan asal usul saya."

Dari salah satu pemain yang diincar di Bundesliga musim lalu, kini kelihatannya Keita menjadi pemain yang selalu disorot. Pelatih Leipzig, Ralph Hasenhuttl, tak mengkhawatirkan tiga merah yang diterima pemain No.8 itu hanya dalam kurun 39 hari, sambil menyatakan pemainnya "sering diprovokasi". Keadaan itu menunjukkan perkembangan status Keita dan betapa penting perannya di mata pemain lawan.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Pengaruhnya takkan sirna hanya dalam seketika. "Saya ingin menang," cetusnya. "Saya ingin menjadi lebih baik dan lebih kuat. Ini baru awal bagi saya."

"Saya sudah datang begitu jauh, jadi kenapa tidak membidik posisi paling tinggi sekalian?"

 

Artikel Selanjutnya:
Persib Bandung Antisipasi Laga Tandang Beruntun
Artikel Selanjutnya:
Roberto Martinez Dorong Eden Hazard Tinggalkan Chelsea
Artikel Selanjutnya:
Lawan Persija Jakarta Di Bantul, Dias Angga Putra Anggap Keuntungan Untuk Bali United
Artikel Selanjutnya:
Jose Fonte Putus Kontrak Dengan Dalian Yifang
Artikel Selanjutnya:
Pembicaraan Gareth Bale Dengan Julen Lopetegui Berakhir Positif
Tutup