Kenapa Bayern Munich Pecat Carlo Ancelotti?

BagikanTutup Komentar
Dari luar tak terlihat sebagai krisis, namun sebetulnya ada gejolak di tubuh Bayern. Inilah tiga faktor utama yang membuat Ancelotti lengser.


OLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di Twitter

“Jika Anda menang 3-0, maka segalanya akan terasa baik-baik saja. Dansa polonaise akan dimainkan, pesta besar akan bergulir. Tapi itu semua tidak patut karena kita sedang membicarakan sepakbola,” ungkap Arjen Robben selepas timnya ditimpa petaka di Paris.

Pernyataan Robben di atas seakan menggambarkan kisah Carlo Ancelotti di dunia sepakbola. Ia memang kerap “menang 3-0” dengan mampu merengkuh bermacam rupa gelar di tempat berbeda-beda – total 20 trofi berhasil dikoleksi. Tapi di saat bersamaan, Ancelotti kesulitan menggariskan kontinuitas di level tertinggi, satu hal yang sangat krusial dalam sepakbola. Termasuk di Bayern Munich.

Pada Kamis (28/9) kemarin, Ancelotti harus menyudahi kiprahnya sebagai trainer Bayern seusai menelan kekalahan telak 3-0 dari Paris Saint-Germain di Liga Champions. Kabar ini tentu mengejutkan bagi sebagian khalayak umum mengingat statistik Ancelotti di Bayern terbilang cukup memuaskan.

Ya, seklias Bayern tidak mengalami krisis berkadar darurat sehingga harus berganti pelatih. Lantas apakah yang membuat Bayern berani mendepak seorang pelatih dengan reputasi emas di saat musim masih menginjak bulan September?

GFXID Ancelotti Bayern

Kehilangan Wibawa di Ruang Ganti

Pemecatan Ancelotti bukannya terjadi secara tiba-tiba. Segalanya bermula ketika sejumlah pemain seperti Robert Lewandowski, Thomas Muller, dan Robben melemparkan kritik kepada klub. Robben bahkan secara terbuka enggan menyatakan dukungannya kepada Ancelotti selepas kekalahan di Paris. Di sini muncul gejala bahwa Ancelotti telah kehilangan kontrol di ruang ganti.

Hal ini dikonfirmasi oleh presiden Bayern Uli Hoeness yang mengungkapkan bahwa posisi Ancelotti menjadi sulit dipertahankan karena ada sekelompok pemain yang tak lagi mendukung pelatih asal Italia tersebut. "Ada lima pemain yang melawan Ancelotti. Mustahil bisa keluar dari situasi seperti itu," ujar Hoeness kepada Westfalenpost tanpa menyebut siapa kelima pemain tersebut.

Karakter Santai Ancelotti

Sebagaimana yang telah disinggung di awal, Ancelotti memang kurang memiliki ambisi dan konsistensi prestasi yang dibutuhkan di sebuah klub besar. Sekalipun bergelimang trofi, ia punya sejumlah dosa-dosa kecil: hanya sekali meraih Scudetto dalam karier panjangnya di AC Milan, gagal membawa PSG mencegah Montpellier menjadi kampiun Prancis, dan hanya sanggup mengantar Real Madrid finis di belakang Atletico Madrid

Tak heran, hingga kini Ancelotti terhitung sebagai pelatih dengan label spesialis tidak pernah menyelesaikan kontrak di klub yang diasuhnya. Dimulai sejak menangani Parma, Juventus, Milan, Chelsea, PSG, dan Madrid. Sekarang di Bayern, Ancelotti lagi-lagi melanjutkan kebiasaan buruknya itu, di mana ia dikontrak tiga tahun tetapi sudah kehilangan pekerjaan di awal musim keduanya.

Barangkali hal itu tidak bisa lepas dari karakternya. Selama puluhan tahun berkarier sebagai pelatih, Ancelotti dikenal sebagai pribadi yang kalem, santai, dan jauh dari kontroversi. Di Bayern, hanya saat ia mengacungkan jari tengah kontra Hertha Berlin pada Februari lalu menjadi satu-satunya momen yang bukan Ancelotti. Namun reaksi tersebut terbilang wajar karena Ancelotti diludahi suporter Hertha.

Sayangnya, sikap adem ayem ala Ancelotti ini kurang cocok dengan atmosfer di Sabener Strasse. Terlebih, para pemain Bayern sudah terbiasa bermain dengan intensitas tinggi warisan Pep Guardiola, yang memiliki karakter kontras dengan Ancelotti. Dalam hal ini, sang Italiano gagal mendorong para pemainnya untuk mengerahkan 100 persen di setiap pekan, setiap laga.

GFX Carlo Ancelotti Bayern München

Bayern Ingin Ubah Mental Cepat Puas

Pemecatan Ancelotti mungkin saja merupakan langkah gegabah, namun di satu sisi bisa menjadi batu loncatan bagi Bayern untuk memodifikasi atmosfer di dalam klub yang tengah digerogoti mental cepat puas. Hal itu begitu tampak ketika Bayern menyia-nyiakan keunggulan dua gol dalam laga kandang melawan Wolfsburg pada akhir pekan lalu.

Memiliki kekuatan finansial, tempat berkumpulnya para pemain terbaik di Jerman, selalu mendominasi liga – Bayern memiliki segala aspek sebagai klub sukses yang, sayangnya, bersifat semu. Model ekonomi dan olahraga yang diterapkan Bayern ini tidak hanya merugikan diri sendiri, namun juga berpotensi mengancam Bundesliga. Hal tersebut sudah mulai tampak dengan kiprah buruk tim-tim Jerman di kompetisi Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Lantas diikuti dengan turunnya peringkat Jerman di koefisien UEFA, dari urutan kedua ke keempat.

Lengsernya Ancelotti pada akhirnya mengirimkan pesan bahwa Bayern ingin "menurunkan standar kepuasan" mereka demi terciptanya atmosfer yang lebih kompetitif. Bukankah treble 2013 diraih setelah Bayern bersakit-sakit dahulu dengan treble runner-up di tahun sebelumnya?

Namun, pemecatan Ancelotti terjadi di waktu yang kurang tepat karena Bayern bakal kesulitan untuk menunjuk pengganti ideal. Sang pelatih interim, Willy Sagnol, dinilai masih minim pengalaman. Kandidat seperti Thomas Tuchel punya sejarah kerap bentrok dengan direksi klub. Sementara Julian Nagelsmann, meski ingin melatih Bayern, bakal sulit ditarik dari Hoffenheim di tengah musim.

 

Artikel Selanjutnya:
Skuat Gemuk Sriwijaya FC Jadi Strategi Rahmad Darmawan Musim Ini
Artikel Selanjutnya:
Diego Costa: Wasit Membenci Saya
Artikel Selanjutnya:
Curi Taksi, Empat Pemain West Bromwich Albion Lolos Dari Jerat Hukum
Artikel Selanjutnya:
Gennaro Gattuso: Pekerjaan Saya Mimpi Buruk Bagi Pemain
Artikel Selanjutnya:
Toni Kroos Jadi Target Utama Manchester United
Tutup