Jalan Luis Milla Masih Panjang

BagikanTutup Komentar
Luis Milla masih perlu waktu dalam membangun filosofi bermain timnas Indonesia.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter

Bagaimana cara yang tepat dalam mengevaluasi penampilan timnas Indonesia di bawah asuhan pelatih Luis Milla?

Bersama Milla, Indonesia sudah menjalani tiga laga uji coba internasional. Jumlah ini masih bisa ditambah jika menghitung tiga kali pertandingan uji coba yang dilakukan menghadapi klub domestik. Terkini, Selasa (13/6) malam, Indonesia bermain tanpa gol menghadapi Puerto Riko. Secara keseluruhan, penampilan tim Merah-Putih masih jauh dari memuaskan.

Penunjukan Milla diawali dengan keinginan membentuk filosofi sepakbola yang baru dan tepat untuk timnas Indonesia. Dengan resume yang dimiliki, Milla diharapkan bisa menularkan gaya bermain operan-operan pendek, mengandalkan sirkulasi bola cepat, dan agresif. Pendeknya, Indonesia diharapkan tampil seperti Barcelona atau timnas Spanyol.

Setelah empat bulan bertugas, Indonesia belum terlihat memeragakan permainan yang diinginkan. Indonesia bermain agresif, tapi tanpa kontrol penguasaan bola yang memadai. Tidak jarang para pemain melakukan umpan-umpan panjang, baik dari lini belakang ke depan maupun antarsayap. Indonesia juga hanya mampu menghasilkan tiga gol dan kebobolan tiga dalam laga uji coba internasional.

SIMAK JUGA: Halaman Khusus Timnas Indonesia

Tugas Milla masih banyak. Namun, secara obyektif, tiga kali pertandingan internasional (plus tiga uji coba lokal) tidak dapat memberikan penilaian menyeluruh atas kinerja pelatih asal Spanyol itu. Tahun ini, selaku pelatih timnas senior yang rangkap jabatan menangani timnas U-22, Milla difokuskan untuk mengejar target medali emas SEA Games Kuala Lumpur. Atas dasar itu, banyak pemain muda yang diberikan kesempatan tampil di pentas internasional.

Total sudah ada 30 pemain yang ditampilkan Milla pada uji coba internasional. Dari jumlah itu, 24 di antaranya belum pernah merasakan penampilan bersama timnas Indonesia senior. Di luar lima pemain senior yang dimainkan, hanya Evan Dimas yang pernah mengantungi caps untuk Merah-Putih.

Keputusan menyertakan banyak pemain muda di timnas disertai pula dengan kebijakan yang mengharuskan klub peserta Liga 1 musim ini memainkan pemain di bawah usia 23 tahun dengan jumlah dan menit bermain tertentu. Kemudian, diterapkan pula aturan yang membatasi jumlah pemain dengan usia 35 tahun ke atas. PSSI tampaknya hendak melakukan perubahan besar dengan membentuk generasi pemain baru.

Hasilnya, Milla membentuk skuat timnas yang diperkuat para pemain dengan usia rata-rata 21,9 tahun. Angka tersebut sudah sesuai dengan ancang-ancang Indonesia mengikuti kualifikasi Piala Asia U-23 di Thailand bulan depan dan SEA Games. Irfan Bachdim (28 tahun) menjadi pemain tertua yang dipanggil Milla, sedangkan Asnawi Mangkualam Bahar (17 tahun) menjadi yang termuda.

Jika dilihat dari menit bermain, hanya Bagas Adi Nugroho yang selalu tampil penuh dalam tiga pertandingan internasional. Menit bermain bek tengah Arema FC itu (270 menit) hanya bisa disaingi oleh Febri Hariyadi (224). Sementara, bersama dua pemain senior, Fachruddin Aryanto dan Bayu Pradana, Gavin Kwan Adsit dan Hanif Sjahbandi mengumpulkan 180 menit.

SIMAK JUGA: Dua Hal Yang Perlu Diasah Pemain Timnas Indonesia

Dengan komposisi 80 persen pemain yang belum pernah merasakan pengalaman di level teratas internasional, kemunculan banyak muka baru di skuat Merah-Putih terkesan dipaksakan. Ada pula kritik yang menilai, kemampuan pemain muda semestinya diukur dari kompetisi sehingga kemudian berbuah kepercayaan untuk tampil dengan seragam timnas. Kalau bukan kompetisi top tier, mungkin membentuk kompetisi junior yang berjenjang menjadi langkah yang baik.

Anomali itu kian diperkuat jika melihat jumlah menit bermain para penggawa timnas di level klub. Di luar penampilan di Piala Presiden 2017, Bagas baru mencicipi 390 menit bermain di liga top tier bersama Arema. Begitu pula dengan Febri yang baru mengukir 616 menit penampilan di liga top tier untuk Persib Bandung. Pengalaman bermain pula yang sejatinya mengasah dua aspek yang menjadi evaluasi Milla usai uji coba melawan Puerto Riko, yaitu finishing dan mental bertanding.

Kita tidak bisa mengabaikan fakta jika masih jarang klub Indonesia memberikan kesempatan bermain kepada para pemain muda. Peremajaan generasi pesepakbola merupakan proyek PSSI yang berani. Dengan demikian, untuk melihat hasil yang diinginkan, Milla tentu membutuhkan waktu lebih banyak dalam membangun komposisi tim serta mencari formula taktik yang sesuai dengan materi pemain.

SIMAK JUGA: "Performa Indonesia Memuaskan"

Milla sudah melihat penampilan Timnas U-19 saat berkiprah di Turnamen Toulon, awal bulan ini. Secara permainan, Indonesia mampu mengimbangi Brasil, Ceko, dan Skotlandia. Tim asuhan Indra Sjafri dapat memeragakan penguasaan bola yang baik, operan-operan pendek, dan mengandalkan kecepatan serta keberanian pemain dalam berduel. Gaya permainan yang diinginkan Milla untuk timnya.

"Ini pertandingan yang telah disiapkan untuk tim nasional. Kami lihat ada kemauan yang cukup besar dari para pemain untuk menang. Saya sangat senang melihat pola permainan yang diterapkan tim U-19 hampir mirip dengan yang kami terapkan," ujar Milla kepada wartawan.

Kesinambungan seperti ini diperlukan. Di awal penunjukan Milla, Indra pernah melontarkan pujian seraya mengatakan akan mencontoh pendekatan pelatih asal Spanyol itu dalam membangun taktik dan menjalin kedekatan individual dengan para pemain. Milla perlu mencari cara mengkomunikasikan detail taktiknya kepada para pemain dengan lebih baik, terutama aspek antisipasi dan positioning awareness.

Seperti yang terlihat di Turnamen Toulon dan uji coba melawan Puerto Riko, standar sepakbola internasional sudah sedemikian tinggi. Taktik membangun serangan dari kiper dan operan bola pendek sudah sangat lazim. Para pemain muda Brasil, Ceko, serta Skotlandia bahkan sudah memiliki kemampuan membaca permainan. Mereka sanggup menerapkan disiplin taktik yang meruntuhkan sepakbola "pepepa" yang masih menjadi parameter ideal tim-tim Indonesia.

Mengejar kualifikasi Piala Asia U-23 dan SEA Games, Milla hanya memiliki kesempatan bersiap dalam pemusatan latihan yang dilakukan di Bali setelah Lebaran.

 

Artikel Selanjutnya:
Massimo Oddo Ditunjuk Jadi Pelatih Udinese
Artikel Selanjutnya:
Rekor Gol Baru Cristiano Ronaldo Di Liga Champions
Artikel Selanjutnya:
Laporan Pertandingan: Borussia Dortmund 1-2 Tottenham Hotspur
Artikel Selanjutnya:
Laporan Pertandingan: Sevilla 3-3 Liverpool
Artikel Selanjutnya:
Laporan Pertandingan: AS Monaco 1-4 RB Leipzig
Tutup