GoalPedia Piala Dunia: Jejak Tersisa Indonesia Di Turnamen Terakbar

Komentar
Inilah penampilan satu-satunya sebuah tim yang berisikan manusia Indonesia di Piala Dunia.


OLEH   FARABI FIRDAUSY  &  SANDY MARIATNA

Sebelas orang pemuda yang mayoritas adalah pelajar berdiri tegap di tengah lapangan hijau. Di antara mereka, tersempil seorang pria berkacamata dan berbadan relatif kecil. Dialah Frans Alfred Meeng.

Pria kelahiran Palembang itu memimpin rekan-rekannya mewakili Hindia Belanda tampil di Piala Dunia Prancis 1938. Saat itu Piala Dunia masih menggunakan sistem gugur dan hanya menyertakan 16 negara sebagai kontestan.

Meeng dkk. sebenarnya memiliki catatan yang tak bisa begitu saja dihilangkan dari sejarah sepakbola Indonesia, bahkan Asia sekalipun. Karena, kesebelas pria itu adalah orang-orang Asia pertama yang merasakan bagaimana mewakili negara mereka di ajang sepakbola paling ditunggu umat manusia tahun ini, Piala Dunia.

Hindia Belanda yang kala itu dihuni pemain keturunan Belanda, etnis Maluku, Jawa, dan Tionghoa, dikomandoi oleh pelatih asal Belanda, Johannes Christoffel van Mastenbroek. Mereka berangkat ke Piala Dunia tanpa perlu mengeluarkan keringat.

Jepang yang seharusnya menjadi lawan Hindia Belanda di babak kualifikasi zona Asia tidak bisa tampil karena masalah transportasi dan juga karena sedang berperang dengan Tiongkok. Jalan ke putaran final Piala Dunia terbuka begitu saja bagi Hindia Belanda tanpa harus berkeringat.

Namun dalam prosesnya, keberangkatan mereka sempat diwarnai persengketaan antara Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI), dua induk sepakbola di Nusantara. NIVU, sebagai federasi yang diakui FIFA, merasa berhak untuk menentukan komposisi pemain sehingga melanggar perjanjian dengan PSSI.

Pada akhirnya, Hindia Belanda di bawah panji NIVU tidak cuma membawa sejumlah pemain keturunan Belanda saja, namun juga ikut menyertakan pemain pribumi seperti Achmad Nawir, Anwar Sutan, Hans Taihitu, Suvarte Soedarmadji, dan Hong Djien Tan.

GFXID GoalPedia Piala Dunia H-25 - Kiprah Indonesia Di Piala Dunia

Takdir pun mempertemukan Hindia Belanda dengan Hongaria di Stadion Velodrome Municipal, Reims. Menurut berbagai sumber, sekitar 10.000 pasang mata hadir di perhelatan sepakbola termasyhur itu, termasuk para wartawan dari berbagai penjuru dunia yang melontarkan komentar lucu soal pasukan Hindia Belanda.

Hindia Belanda disebut sebagai kurcaci lantaran tubuh-tubuh mereka yang kalah besar dibandingkan Hongaria. Meski begitu, banyak yang menyebut bahwa Anwar Sutan cs memiliki giringan bola yang indah dan menyulitkan, tapi hal tersebut tidak diimbangi dengan pertahanan mereka yang bobrok.

Seperti dikira, baru 13 menit laga berjalan gawang Hindia Belanda yang dikawal Mo Heng Tan sudah harus jebol. Tendangan keras Vilmos Kohut tak kuasa dibendung Tan. Dua menit kemudian, Geza Toldi kembali menghajar pertahanan Hindia Belanda untuk membawa Hongaria unggul 2-0. Paruh pertama pun ditutup dengan skor 4-0 untuk Hongaria, di mana dua gol sisa dicetak oleh kapten Sarosi dan Gyula Zsengeller.

Babak kedua Hindia Belanda disebut tampil lebih baik, bahkan wartawan Belanda bernama CJ Goorhoff yang kala itu berada di sana mencatat, bahwa kapten Meeng punya giringan bola yang sangat-sangat baik, kendati dengan tampilan berkacamata, Meeng disebut gelandang tengah yang brilian dan berani berduel.

Tertinggal empat gol Hindia Belanda tak kendur dan berani bermain terbuka, namun permainan Hongaria masih lebih baik dari mereka. Dua gol kembali bersarang di gawang Tan, Gyula Zsengeller membawa Hongaria unggul lima gol di menit ke-76, kemudian gol penutup dari Sarosi pada menit ke-89.

Kekalahan 6-0 dari Hongaria pun tercatat sejarah sebagai hasil perdana yang dicatatkan wakil Asia pertama di Piala Dunia. Hindia Belanda langsung tersingkir dari turnamen dan itulah satu-satunya pertandingan yang mereka jalani. Hongaria sendiri akhirnya menjadi runner-up di edisi ketiga Piala Dunia tersebut setelah dibekap Italia di final.

Kendati kalah telak, Hindia Belanda mendapatkan simpati tersendiri, mereka dianggap sopan dan memberikan penghormatan layak kepada penonton di Stadion Velodrome. Sayangnya, kala itu lagu "Indonesia Raya" belum berkumandang di Prancis. Hindia Belanda menyanyikan lagu kebangsaan "Wilhelmus" yang tak lain merupakan lagu kebangsaan Belanda.

Sesudah lepas dari Belanda dan menjadi negara merdeka, Indonesia masih belum bisa menyamai torehan yang diukir timnas pendahulunya itu. Sampai hari ini, mentas di putaran final Piala Dunia adalah momen impian yang sangat dinantikan oleh PSSI dan segenap masyarakat Indonesia.

 

GoalPedia Piala Dunia adalah artikel berseri dari Goal Indonesia tentang fakta-fakta menarik dalam sejarah Piala Dunia yang diterbitkan sejak H-30 sampai kick-off Piala Dunia 2018. Simak daftar lengkapnya di sini!

Artikel dilanjutkan di bawah ini

 

LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Komdis PSSI Hukum Maskot Persebaya Surabaya
2. Indra Sjafri: Jangan Sampai Timnas U-19 Jadi Kelinci
3. Tiga Klub Besar Siap Tebus Harga Mohamed Salah
4. Parma Kembali Ramaikan Serie A Italia
5. Juventus & Barisan Tim Juara Liga Tujuh Musim Beruntun

 

Artikel Selanjutnya:
Pemain Persib Bandung Diminta Tak Bersantai-Santai
Artikel Selanjutnya:
PREVIEW Liga Champions: Valencia - Juventus
Artikel Selanjutnya:
Jadwal TV Siaran Langsung Sepakbola Hari Ini
Artikel Selanjutnya:
Jose Mourinho Beri Indikasi Mainkan Marcus Rashford Lawan Young Boys
Artikel Selanjutnya:
Witan Sulaeman Antusias Timnas Indonesia U-19 Bakal Jajal Tiongkok
Tutup