Ditinggal Philippe Coutinho? Bukan Masalah!

BagikanTutup Komentar
Coutinho resmi pindah ke Barcelona, tetapi sehari setelah kepergiannya, Liverpool malah menampilkan salah satu performa terbaiknya.


OLEH    YUDHA DANUJATMIKA     Ikuti di twitter

“Philippe Coutinho? Siapa itu?”

Sikap pura-pura tidak tahu itu mungkin banyak Anda dengar setelah Coutinho meninggalkan Liverpool demi pindah ke Barcelona. Ungkapan itu mungkin hanyalah rasionalisasi atau mungkin bentuk kekecewaan para fans yang ditinggal pemain kesayangannya. Ya, seperti ketika Anda ditinggal sang kekasih begitu saja demi orang lain, sebisa mungkin Anda berusaha melupakan walau masih ada sakit di dada.

Adapun akhir pekan lalu di Anfield, ketika The Reds menjamu Manchester City yang jadi pemuncak klasemen Liga Primer Inggris, rasa sakit itu sedikit buyar berkat aksi gemilang Alex Oxlade-Chamberlain. Gelandang Inggris itu mendribel bola sendirian, melenggok sedikit ke depan kotak, lalu melepas tendangan mendatar dengan kaki kanannya.

Sepakannya tidak seindah, semelengkung, dan seajaib Coutinho, tetapi pada akhirnya bola melewati sela tangan Ederson, menggoyang jala Man City di menit kesembilan.

Liverpool Manchester City Premier League 01142018

Masih ada asa pasca-Coutinho

Gol tersebut hanyalah simbol dari kekuatan Liverpool yang patut ditakuti semua pihak. Ada penegasan di balik momen itu, bahwa skuat Jurgen Klopp tidak akan goyah ditinggal satu pemain. Kalau sedikit ragu, pasti ada pemain yang mampu naik ke permukaan dan menjawab tantangan. Hal itu terkulminasi pada kemenangan 4-3 atas The Citizens setelah peluit panjang dibunyikan.

Bukan hanya kemenangan itu yang penting, mengingat pertandingan itu merupakan salah satu performa terbaik The Reds di musim ini.

Pada putaran pertama, patut diingat bahwa Liverpool kalah memalukan 5-0 dari Manchester City di Etihad Stadium. Jika Klopp mengambil langkah defensif di Anfield, tentu takkan ada yang menyalahkannya. Namun manajer jangkung asal Jerman itu tetap menasbihkan sepakbola beringas yang jadi identitasnya.

Gegenpressing atau sepakbola heavy metal bergema di Anfield malam itu. Man City yang terkenal dominan sepanjang musim jadi bulan-bulanan sepakbola menyerang Kloppo. Liverpool menampilkan satu aspek yang jarang terlihat ketika Coutinho masih bermain, yakni dinamisme di lini tengah.

Liverpool vs Manchester City

Coutinho adalah tipe playmaker yang mampu mengendalikan alur dan tempo permainan. Keajaiban kadang tercipta dari kakinya, tetapi pengendalian arus serangan jadi salah satu kekuatan utamanya. Tanpa gelandang Brasil itu, arus yang biasanya dikendalikan jadi kacau tak beraturan. Dari sudut pandang fans, permainan tanpa kontrol tempo itu mungkin terkesan mengkhawatirkan, tetapi bagi pemain Man City, skema seperti itu malah tampak seperti air bah.

Tekanan demi tekanan dihadapi oleh lini tengah dan belakang Citizens. Para gelandang dan trio macan di lini depan selalu membuat hidup John Stones dkk tidak tenang. Sedikit saja salah umpan, Mohamed Salah dan Sadio Mane siap merebut bola, belum lagi Roberto Firmino yang bergerak ke sana-sini, lalu Ox dan Gini Wijnaldum yang ikut menutup ruang. Deretan blunder pun dilakukan oleh pemain-pemain berseragam biru langit itu.

Sialnya lagi, untuk Man City, trisula andalan Kloppo sedang berada dalam performa terbaik. Mereka tampil efisien di depan gawang. Setelah paruh pertama berakhir imbang 1-1 (Leroy Sane sempat menyamakan kedudukan), The Reds mampu mencetak tiga gol dalam kurun waktu sembilan menit. Firmino, Mane, dan Salah masing-masing mencetak satu gol. Total empat gol Liverpool tercipta dari tujuh tembakan akurat dan 36 persen penguasaan bola!

2018-01-11 philippe coutinho

Coutinho? Siapa itu?

Kepergian Coutinho memang jadi kehilangan tersendiri. Jika menghadapi tim yang parkir bus, kreativitas gelandang Brasil itu jelas dibutuhkan. Adapun gaya bermain penuh kendali khas Coutinho sebenarnya lebih cocok ada di Barcelona. Umpan-umpan magisnya bisa memanjakan Lionel Messi dan Luiz Suarez, terlebih style umpan-umpan pendek Blaugrana bakal menguntungkan Coutinho.

Kloppo menyadari hal tersebut, pasti ada yang hilang, tetapi ia tak ingin berkeluh kesah atas kepergian The Little Magician. Kemenangan atas Man City justru jadi penegasan sekaligus kenyataan bahwa Cou sudah pergi. Memang ada lubang yang harus ditutup secara taktik, namun secara psikologis, Liverpool tidak kekurangan suatu apa pun.

“Ini adalah pernyataan yang tepat. Bukan berarti saya mengatakan pada rapat, ‘Bocah, bakal sangat membantu jika Anda bisa menang dan tak ada yang bicara soal Phil Coutinho lagi,’ karena kami sangat ingin bicara tentang dirinya dan ia mungkin masih melompat di ruang tamu barunya di Barcelona, ikut girang atas kemenangan ini,” ujar sang manajer setelah laga.

“Namun penting bagi kami untuk menunjukkan bahwa sangat masuk akal bagi kami untuk bermain tanpanya dan kami melakukannya. Itu adalah penegasan yang sepenuhnya sangat penting.”

Liverpool

Jangan lupakan pula Ox yang tampil impresif mendukung The Fab Three (Mane, Salah, Firmino). Dengan golnya ke gawang Ederson, Ox resmi melampaui catatan golnya di Arsenal. Dalam 51 penampilan pada dua musim terakhir bersama Gunners, ia tak pernah mencetak lebih dari dua gol di Liga Primer selama semusim. Di Anfield, ia bahkan sudah mencetak tiga gol musim ini.

“Sangat menyenangkan untuk menyaksikan betapa ia mampu beradaptasi. Saya senang. Ia berada pada jalur yang bagus dan ia menikmatinya. Ia masih bisa bermain di sayap, namun ia menggunakan kecepatannya di posisi gelandang. Ia masih harus beradaptasi. Ini lebih seperti mimpi baginya, ketimbang realitas, karena ia tidak terlalu sering bermain. Sekarang, ia berada pada jalur yang bagus,” sambung Kloppo.

Akankah Ox mampu menggantikan Coutinho? Kedua pemain tersebut adalah dua tipe yang berbeda, tapi bukan tidak mungkin gelandang Inggris itu mengisi kepergian Cou dengan performa lain. Tentu, harapan setiap fans Liverpool adalah melupakan Coutinho seperti mereka melupakan Suarez di lapangan.

Coutinho? Siapa itu?

Artikel Selanjutnya:
Jadwal, Hasil & Klasemen Piala Dunia 2018 Grup B: Dramatis, Spanyol Di Puncak, Portugal Runner-Up
Artikel Selanjutnya:
Laporan Pertandingan Piala Dunia 2018: Iran 1-1 Portugal
Artikel Selanjutnya:
Laporan Pertandingan Piala Dunia 2018: Spanyol 2-2 Maroko
Artikel Selanjutnya:
Uji Coba Persela Lamongan Bergantung Kondisi Pemain
Artikel Selanjutnya:
Tes Medis Tentukan Nasib Melvin Platje Di Bali United
Tutup