Catatan Dari Thailand: Obat Pahit Untuk Timnas Indonesia U-16

BagikanTutup Komentar
Timnas U-16 gagal total di Piala AFF U-15 yang menjadi pelajaran berharga sebelum turun di Pra Piala Asia U-16 2018.


LIPUTAN   MUHAMAD RAIS ADNAN     DARI   CHONBURI    

Peluit panjang dibunyikan oleh wasit Ngo Duy Lan asal Vietnam, sebagai tanda berakhirnya laga  grup A antara tim nasional (timnas) Australia U-16 kontra Indonesia U-16 di Stadion IPE Chonburi Campus 1, Kamis (13/7) malam. Secara spontan, air mata pun mengalir dari mata para penggawa Indonesia U-16 lantaran harus menerima kekalahan di laga itu dengan skor 7-3.

Yang membuat mereka semakin bersedih, kekalahan itu terjadi setelah sebelumnya di awal laga mereka sempat unggul dua gol lebih dulu lewat kaki Amiruddin Bagus Kahfi Alfikri. Bagus pun menjadi salah satu pemain yang terlihat paling deras air matanya setelah pertandingan tersebut, sampai harus ditenangkan oleh staf pelatih dan rekan-rekannya yang lain. 

Maklum, kekalahan ini juga yang membuat tim berjulukan Garuda Asia itu dipastikan gagal melangkah ke babak semi-final Piala AFF U-15 2017, meski masih menyisakan dua laga lagi melawan Laos U-16 (15/7) dan Singapura U-16 (17/7). Sebelumnya, Indonesia U-16 hanya bermain imbang 2-2 dengan Myanmar dan kalah dari tuan rumah Thailand dengan skor 1-0.

Timnas Indonesia U-16

Setelah itu, kekecewaan mendalam tampaknya masih sangat terasa di dalam diri Rendy Juliansyah dan kawan-kawan. Menargetkan dua kemenangan dalam dua pertandingan terakhir, secara mengejutkan mereka kembali kalah dari Laos U-16, skor 3-2. Kekalahan ini langsung membuat pelatih Indonesia U-16 Fakhri Husaini marah besar.

SIMAK JUGA: Menang, Fakhri Sebut Timnas U-16 Masih Belum Tampil Sesuai Harapan

Tampak kekecewaan yang berat dari Fakhri melihat para pemainnya tak bisa menunjukkan performa terbaik di laga tersebut. Suasana bus pemain yang biasanya masih terdapat canda saat pulang ke hotel setelah pertandingan pun menjadi hening, usai pertandingan itu. 

SIMAK JUGA: Pelatih Singapura Akui Timnya Kalah Kelas Dari Timnas Indonesia U-16

"Kalau kalahnya dari Thailand atau Australia saya masih bisa menolerirnya. Tapi ini kalah dari Laos, anak-anak bermain tak seperti biasanya," kata Fakhri, dengan nada penuh kecewa selepas pertandingan.

Menurutnya, kegagalan di turnamen ini menjadi tamparan yang keras bagi timnya, setelah begitu dielu-elukan lantaran sebelumnya berhasil menjuarai turnamen mini Tien Phong Plastic Cup 2017 di Vietnam. Fakhri pun menjadi tahu betul kelemahan yang paling mendasar di timnya saat ini.

"Hal ini membuktikan kalau kami belum apa-apa, dan belum layak untuk dielu-elukan seperti juara turnamen kemarin. Ini obat pahit yang harus kami terima. Tapi semoga obat pahit ini bisa menghasilkan sesuatu yang manis untuk kualifikasi Piala Asia U-16 nanti," tegasnya.

Ya, eks kapten timnas Indonesia itu memang harus segera berbenah jika tak ingin lagi timnya terpuruk di Pra Piala Asia U-16 2018 nanti. Ajang itu pun akan kembali digelar di Thailand pada 16-24 September nanti. Tergabung di grup G, Indonesia akan kembali bertemu dengan Thailand dan Laos, serta Timor Leste dan North Mariana Islands.

Fakhri Husaini - Pelatih Timnas Indonesia U-16

Dari rangkaian pertandingan yang telah dijalani di Piala AFF U-15, masalah mental bertanding menjadi hal utama yang patut disorot. Itu membuat kualitas yang sebenarnya dimiliki para pemain Indonesia U-16, seperti hilang di dalam pertandingan.

Kondisi itu juga sempat terjadi pada babak pertama ketika menghadapi Singapura U-16 di laga terakhir grup A di Stadion IPE Chonburi Campus 2, Senin (17/7) petang. Beruntung, Ahmad Rusadi dan kawan-kawan bisa sedikit memperbaiki performa mereka di babak kedua, hingga akhirnya menang dua gol tanpa balas lewat kaki Brylian Neghieta Dwiki Aldama pada menit ke-55 dan 61. Kemenangan itu membuat Indonesia finis di peringkat kelima dengan nilai empat.

"Permainan bola dari kaki ke kaki mereka hilang, ketika menguasai bola mudah lepas, dan sulit untuk keluar dari tekanan, kesalahan mendasar pun jadi sering dilakukan. Memang kalau mental itu sudah hilang, kemampuan yang dimiliki pemain pasti akan ikut hilang," jelasnya.

Pencarian pemain baru dipastikan bakal dilakukan oleh Fakhri selepas Piala AFF U-15 2017. Rencananya, minimal ada tujuh pemain yang bakal tersingkir dari skuat saat ini.

Seperti kata Fakhri, obat pahit ini memang harus ditelan. Tapi kita tak boleh terus meratapi kegagalan ini, dan harus mulai menatap ke depan untuk pembenahan tim yang para pemainnya diharapkan bisa menjadi tumpuan timnas senior dalam 10-15 tahun ke depan. Artinya, fondasi kuat harus segera ditanamkan agar bibit-bibit ini tak hilang begitu saja ketika sudah selesai dalam masa tugasnya bersama timnas.

PSSI pun harus mulai berpikir sesegera mungkin untuk menggulirkan kompetisi usia dini yang berjenjang dan berkesinambungan. Karena hanya dari kompetisi, mental bertanding si pemain itu bisa terus terasah. Ketika Goal Indonesia berbincang dengan beberapa pelatih dari negara peserta, mereka mengungkapkan setidaknya punya wadah untuk mencari pemain mulai dari usia dini.

Thailand misalnya. Mereka memiliki kompetisi usia dini mulai dari U-13, meski memang bukan diselenggarakan oleh pihak Asosiasi Sepakbola Thailand (FAT). "Kompetisi kelompok umur di sini (Thailand) digulirkan oleh pihak swasta dan berjalan sampai delapan bulan setiap tahunnya," beber Salvador Valero Garcia, pelatih Thailand U-16.

Lain lagi dengan Malaysia. Pelatih Malaysia U-16 Raja Azlan Shah Raja Soib mengungkapkan, di negaranya sudah dibuat wadah kompetisi untuk U-15 di setiap negara bagian mereka. Nantinya, akan dipilih 50 pemain terbaik terbaik dari tiap negara bagian itu untuk dimasukkan dalam sebuah kamp nasional. Sehingga dia mudah untuk memantau pemain yang akan digunakannya untuk timnas. 

"Dari situ lah akan terjadi promosi-degradasi pemain. Kalau mereka lulus dari kamp nasional ini, para pemain itu akan dikembalikan lagi ke negara bagian masing-masing, untuk mengabdi ke klub dari negara bagian itu minimal satu tahun. Jadi tak bisa misalnya ada pemain dari negara bagian Selangor, selepas lulus diambil oleh negara bagian Perak," jelas Raja Azlan.

Dari contoh di atas, PSSI sudah bisa berkaca bahwa mereka memang sudah tertinggal cukup jauh soal pembinaan pemain usia dini dari para negara tetangga. Konsep pembinaan yang tepat pun kabarnya sedang digodok oleh direktur teknik PSSI Danurwindo. Semoga hal itu tak lagi hanya menjadi konsep semata dan bisa dilakukan secara nyata. 

Timnas Indonesia U-16

Footer Goal Indonesia Instagram

Artikel Selanjutnya:
Laporan Pertandingan: Perseru Serui 1-0 Sriwijaya FC
Artikel Selanjutnya:
Laporan Pertandingan: Bhayangkara FC 1-1 Borneo FC
Artikel Selanjutnya:
Laporan Pertandingan: Bali United 0-0 Persib Bandung
Artikel Selanjutnya:
Mohamed Salah Diklaim Absen Di Piala Dunia
Artikel Selanjutnya:
Egy Maulana Vikri Akui Butuh Adaptasi Lagi Di Timnas Indonesia U-19
Tutup