CATATAN: 88 Tahun PSSI, Sepakbola Indonesia Harus Sehat

Komentar
Bukan hanya dari sisi organisasi PSSI, tapi juga elemen lainnya harus bisa menciptakan atmosfer sepakbola Indonesia menjadi lebih baik.


OLEH   MUHAMAD RAIS ADNAN

Hari ini, PSSI tepat berusia 88 tahun. Namun, jelang beberapa hari ulang tahun organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia itu mendapatkan kado pahit.

Pasalnya, kembali dua suporter dari dua klub Tanah Air meninggal dunia setelah mendukung tim kesayangan mereka masing-masing. Pertama, seorang Bonek, sebutan pendukung Persebaya, Micko Pratama, yang harus meregang nyawa dalam perjalanan pulang ke Surabaya setelah menonton pertandingan antara PS TIRA kontra Persebaya Surabaya di Stadion Sultan Agung, Bantul.

Micko disebut dikeroyok oleh sekelompok orang di Banyuagung, Kadipiro, Banjarsari, Solo, tepatnya di Jalan Ki Mangun Sarkoro, Sabtu (14/4/2018) dini hari WIB.

Setelah itu, muncul lagi korban dari Aremania, Dhimas Duha Imron. Menurut keterangan dari Yoga Purna selaku kakak ipar pria berusia 16 tahun itu, Dhimas mengalami bengkak di leher dan tangan setelah pulang dari Stadion Kanjuruhan. Dhimas adalah salah satu Aremania yang menyaksikan langsung laga antara Arema FC kontra Persib Bandung, Minggu (15/4) malam, yang berakhir ricuh.

Menurut rekan korban, Nur Rosidin, yang ikut menonton pertandingan, Dhimas pada saat itu memanjat pagar karena ingin keluar stadion melalui pintu gerbang pojok (pintu besar yang digunakan untuk masuk kendaraan besar). Untuk lewat pintu itu harus memanjat pagar. Naas, saat memanjat Dhimas terkena gas air mata sehingga matanya mengalami perih dan mual. Diapun oleng dan terinjak-injak oleh Aremania yang lain yang juga ingin keluar menyelamatkan diri.

Dhimas sempat dibawa lebih dulu ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, namun nyawanya tak bisa terselamatkan lagi dan mengembuskan nafas terakhir, Rabu (18/4).

Kerusuhan Kanjuruhan - Arema FC

Berkaca dari dua kejadian itu, menyadarkan kita bahwa sepakbola Indonesia masih belum sehat. Masih perlu adanya perbaikan yang dilakukan oleh seluruh elemen sepakbola Indonesia.

Mulai dari organisasi PSSI, operator kompetisi, klub, suporter, hingga pemerintah dalam memberikan dukungan untuk menciptakan atmosfer sepakbola Indonesia menjadi lebih baik, yang berujung pada prestasi timnas Indonesia maupun klub di pentas internasional.

Micko dan Dhimas adalah salah satu contoh kasus bagaimana sepakbola Indonesia masih semrawut dalam hal pengelolaan keamanan suporter. Panpel maupun pihak keamanan tak bisa disalahkan sepenuhnya dalam kejadian ini, karena suporter juga harus mengintrospeksi diri terkait cara mereka dalam memberikan dukungan terhadap tim kesayangan mereka.

Pihak keamanan tak akan mengambil tindakan, jika suporter bisa bersikap tertib dan sportif saat memberikan dukungan terhadap klub mereka di stadion. Tapi penanganan yang diterapkan oleh pihak keamanan maupun panpel dalam menangani kericuhan suporter juga harus diseragamkan sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations.  

Suporter juga harus menyadari, rivalitas itu semestinya hanya 90 menit di atas lapangan hijau. Selebihnya, sepakbola harusnya dijadikan sebagai alat pemersatu. Betapa indahnya, jika kita melihat dalam setiap pertandingan suporter dari kedua klub yang bertanding duduk berdampingan di atas tribun dengan memberikan dukungan melalui kreativitas masing-masing tanpa melontarkan kata-kata bernada SARA, yang bisa memicu permusuhan.

Dari sisi PSSI, juga harus berlari cepat untuk mengejar ketertinggalan mereka dalam mengelola sepakbola. PSSI sendiri saat ini sedang gencar mengampanyekan Filosofi Sepakbola Indonesia (Filanesia), yang mereka anggap sebagai acuan yang tepat terhadap program pembinaan maupun cara main sepakbola Indonesia. 

Selain itu, program untuk terus mencetak pelatih berlisensi AFC terus dilakukan. Bahkan, untuk tahun ini pertama kalinya PSSI menggelar kursus lisensi AFC Pro, yang merupakan lisensi kepelatihan tertinggi di AFC. Wasit yang selalu dijadikan "kambing hitam" dalam sebuah pertandingan, juga harus terus diperbaiki kinerjanya oleh PSSI.

Kursus Instruktur Pelatih 2017

Di sisi lain, klub juga harus terus berupaya mengembangkan dan memperbaiki diri. Tak cuma berkutat dalam masalah yang itu-itu saja setiap tahunnya ketika mengikuti kompetisi. Mulai dari urusan kesulitan menggunakan stadion yang layak sesuai standar Liga 1, hingga urusan kesulitan finansial. 

Miris rasanya, jika mendengar klub belum bisa membayar gaji pemain mereka lantaran masih harus menunggu pencairan dana subsidi komersial dari operator kompetisi. Belum lagi, jika kita melihat jumlah klub Indonesia yang masih minim untuk mendapatkan lisensi klub profesional AFC.

Pun dengan operator yang mesti terus mengembangkan sistem pengelolaan kompetisi agar bisa berjalan dan berkembang secara kondusif. Sehingga industri sepakbola itu bisa benar-benar tercipta dengan baik. 

Bagaimana dengan Pemerintah? Diharapkan Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga juga bisa terus bersinergi dengan pemangku kepentingan sepakbola lainnya, tanpa harus melakukan intervensi yang justru menimbulkan masalah baru. Karena, PSSI memang tak bisa berjalan sendiri untuk membangun sepakbola Indonesia.

Akhir kata, selamat ulang tahun PSSI semoga tetap sehat dan lebih berprestasi di usia yang semakin tua ini.

 

 

LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Insiden Di Kanjuruhan, Mario Gomez Ingin Komdis PSSI Tegas
2. Balada Sepekan Man United: Dari Heroik Jadi Memalukan
3. Hindari Penyusup, Tiket Persija Kontra Persib Cuma Dijual Untuk Jakmania
4. Sandro Wagner: Bayern Munich Tak Perlu Sembunyi Lawan Cristiano Ronaldo!
5. Tur Signal Iduna Park, Simbol Cinta Abadi Borussia Dortmund

 

Artikel Selanjutnya:
Dimitri Payet & Florian Thauvin Puncaki Indeks Performa Ligue 1
Artikel Selanjutnya:
PREVIEW Liga Champions: Barcelona - PSV Eindhoven
Artikel Selanjutnya:
Jacksen F. Tiago: Wasit Nodai Pertandingan
Artikel Selanjutnya:
Jordan Henderson Tak Khawatir Aksi Teatrikal Neymar
Artikel Selanjutnya:
Imbangi Barito Putera, Widodo Cahyono Putro: Ini Hasil Yang Fair
Tutup