1000 Laga Keabadian Gianluigi Buffon

BagikanTutup Komentar
Dengan resmi menembus laga ke-1000, mustahil untuk mencopot label Superman pada diri Buffon.


OLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di twitter

Setelah menorehkan sejumlah rekor impresif dan deretan statistik menawan selama berkarier, Gianluigi Buffon akhirnya mencapai sebuah angka keramat ketika membela timnas Italia melawan Albania dalam partai kualifikasi Piala Dunia 2018, Sabtu (24/3) dini hari WIB.

Ya, Buffon resmi memainkan partai ke-1000 di sepanjang karier seniornya dalam laga yang dimenangi Italia 2-0 tersebut. Bermula dari debut spesial di umur 17 tahun bersama Parma dengan langsung menghadapi tim kuat AC Milan pada November 1995, Buffon kemudian menuliskan sejarahnya sendiri secara gemilang.

Buffon terus melahap laga demi laga, melakukan penyelamatan demi penyelamatan, pindah ke Juventus sebagai kiper termahal sepanjang masa, menjadi juara dunia, turun ke Serie B, bangkit kembali, dan mencapai 1000 laga pada Maret 2017. Usianya kini sudah 39 tahun.

SIMAK JUGA: Buffon & Caps Terbanyak Di Eropa

Tidak sembarang pemain bisa menembus milestone ini. Peter Shilton, Javier Zanetti, Xavi Hernandez, Frank Lampard, Raul Gonzalez, Paolo Maldini, dan Ryan Giggs adalah segelintir pemain langka yang sanggup masuk ke dalam klub 1000 ini. Shilton bahkan total mengukir 1390 laga, menjadikannya sebagai pesepakbola dengan jumlah penampilan terbanyak.

Buffon mungkin tidak akan sanggup menyamai jumlah laga milik kiper legendaris Inggris itu. Namun, siapa bisa membantah bahwa rekam jejak Buffon selama 22 tahun terakhir adalah sesuatu yang layak diabadikan.

Angka-angka berbicara sendiri. Selain 1000 laga -- yang terbagi dari 832 penampilan di level klub dan koleksi 168 caps bersama Gli Azzurri -- Buffon total sudah mencatatkan 19 trofi mayor dan 446 clean sheet di sepanjang kariernya. Catatan kebobolannya juga terbilang spesial, hanya menyentuh 0,8 gol per laga.

GFXID Buffon 1000

Di partai ke-1000-nya melawan Albania itu pula, Buffon juga resmi jadi pemain dengan caps internasional terbanyak di Eropa, satu laga lebih banyak ketimbang Vitalijs Astafjevs (Latvia) dan Iker Casillas (Spanyol).

Sebelumnya, rekor-rekor lain sudah lebih dulu tertulis rapi di buku sejarah Buffon. Musim lalu, misalnya, Buffon menjadi pemegang rekor tak kebobolan terlama di sepanjang sejarah Serie A Italia, yakni selama 974 menit atau 12 partai beruntun. Trofi individual juga berjejer rapi di lemari kacanya.

Namun, selain kemampuan teknisnya yang sudah terbukti unggul sejak 1995, Buffon juga memiliki satu faktor lain yang mungkin lebih berpengaruh dalam menopang konsistensi bermainnya hingga kini: karakter, kepribadian, dan wataknya. Ya, Buffon adalah salah satu pesepakbola dengan mentalitas terbaik.

SIMAK JUGA: Buffon Kiper Terbaik Sepanjang Masa

Buffon lebih dari sekadar kapten bagi timnya. Sebagai sosok pemimpin, ia tidak cuma menuntun rekan-rekannya, namun juga berani berkorban. Contoh terbaik adalah kesediaannya untuk turun kasta ke Serie B ketika Juventus terseret skandal Calciopoli pada 2006 silam.

Kritik juga tidak menghalanginya. Franz Beckenbauer pernah meledeknya dengan sebutan “pensiunan” akibat kekalahan dari Bayern Munich di perempat-final Liga Champions 2013. Di musim ini, muncul topik “pemakaman Buffon” menyusul blunder beruntunnya melawan Udinese dan Spanyol.

Tapi Buffon selalu sukses membungkam para pengkritiknya itu dengan performa kelas wahid di lapangan hijau. “Akan hadir momen di mana Anda butuh mengubah kata-kata dengan tindakan," ungkap Buffon. Sang Superman dipastikan akan terus beraksi di bawah mistar selama beberapa tahun ke depan selagi usia tidak menjadi penghalang.

“Saya masih tidak merasa seperti seorang pria tua. Saya mungkin baru akan pensiun di usia 65 tahun. Siapa yang tahu?” seloroh Buffon. Menarik dinanti apakah setelah laga ke-1000 tindakan Buffon akan berbicara lebih keras ketimbang kata-katanya itu.

Kartun Goal Internasional 2017 - Gianluigi Buffon, Super 1000

 

Artikel Selanjutnya:
Agen: Jorginho Berpeluang Tinggalkan Napoli
Artikel Selanjutnya:
Tak Tergoda Real Madrid & Barcelona, Davinson Sanchez Bahagia Bersama Tottenham Hotspur
Artikel Selanjutnya:
Daniele De Rossi: Shakhtar Donetsk Tak Bisa Diremehkan
Artikel Selanjutnya:
Oriol Romeu Enggan Pulang Ke Barcelona
Artikel Selanjutnya:
REVIEW Liga Champions Asia: Buriram United Melempem Di Kandang Sendiri
Tutup