- GOAL-ID
- Transfer Pemain
-
INDONESIA
- Halaman Khusus Sepakbola Indonesia
- Semua Berita Nasional
- Indonesian Premier League (IPL) - Jadwal, Hasil, Klasemen
- Indonesia Super League (ISL) - Klasemen
- Indonesia Super League (ISL) - Jadwal & Hasil
- Tim Nasional Senior
- Tim Nasional U-23
- Berita Arema Indonesia FC
- Berita Persebaya Surabaya
- Berita Persib Bandung
- Berita Persija Jakarta
- Berita Persipura Jayapura
- Berita PSMS Medan
- Berita Semen Padang
- Berita Sriwijaya FC Palembang
- Piala AFF
- Kualifikasi Piala Asia 2015
- Piala AFC
- Zona Eropa
-
Inggris
- Halaman Khusus Sepakbola Inggris
- Semua Berita Inggris
- Liga Primer Inggris - Klasemen
- Liga Primer Inggris - Jadwal & Hasil
- Piala FA
- Arsenal
- Chelsea
- Liverpool
- Manchester City
- Manchester United
- Tottenham
- Halaman Khusus Transfer Pemain
- Zona Transfer Inggris
- Daftar Pemain Cedera
- Semua Klub & Panduan 2012/13
- Rapor Pemain EPL
-
Italia
- Halaman Khusus Sepakbola Italia
- Semua Berita Italia
- Serie A Italia - Klasemen
- Serie A Italia - Jadwal & Hasil
- Coppa Italia
- AC Milan
- AS Roma
- Fiorentina
- Internazionale
- Juventus
- Lazio
- Parma
- Halaman Khusus Transfer Pemain
- Zona Transfer Italia
- Daftar Pemain Cedera
- Semua Klub & Panduan 2012/13
- Rapor Pemain Serie A
- Spanyol
- Jerman
- Prancis
- Belanda
- Jepang
-
Lainnya
- Berita Liga-Liga Eropa Lainnya
- Semua Berita Amerika Latin
- Semua Berita Asia
- Semua Berita Afrika
- Piala Afrika / Africa Cup Of Nations
- PIALA DUNIA
- Kualifikasi Zona Asia (AFC)
- Kualifikasi Zona Eropa (UEFA)
- Kualifikasi Zona Amerika Selatan (Conmebol)
- Kualifikasi Zona Afrika (CAF)
- Kualifikasi Zona Amerika Utara, Tengah, Karibia (Concacaf)
- Kualifikasi Zona Oseania (OFC)
- Piala Dunia U-20
- Piala Dunia U-17
- FIFA Club World Cup / Piala Dunia Antarklub
-
Video
- Video Sepakbola Internasional
- Video Sepakbola Asia
- Video Sepakbola Amerika Selatan
- Video Sepakbola Eropa
- Video Liga Champions
- Video Liga Europa
- Video EPL, Piala FA & Football League
- Video Serie A Italia
- Video Primera Liga Spanyol
- Video Bundesliga Jerman
- Video Ligue 1 Prancis
- Video Major League Soccer
- TOP
|
|
Indonesia
Indonesia
(2.91)
Pertandingan Selanjutnya - Ujicoba Antarnegara
Pertandingan Sebelumnya - Asia - Asian Cup Qualification
Berdiri: 1930
Alamat: Main Stadium Gelora Bung Karno Gate X-XI Senayan Indonesia
Telepon: +62 21 570 4762
Faksimile: +62 21 573 4386
Surat Elektronik: pssi@pssi-football.com
Laman Resmi: http://www.pssi-football.com/
Ketua: Djohar Arifin Husein
Direktur: Farid Rahman
Stadion: Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta
Sejarah Singkat
Indonesia, Macan Asia Yang Tertidur
Pernah disegani di kawasan Asia, kini sepakbola Indonesia tertidur pulas.
Oleh Agung Harsya
Seiring semangat kebangsaan yang tercetus dasawarsa 1920-an, Ir. Soeratin Sosrosoegondo mendirikan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk mewadahi kegiatan sepakbola di nusantara sekaligus menjadi salah satu alat perjuangan bangsa. Tanpa inisiatif tersebut, sepakbola Indonesia tidak pernah dikenal di zaman kolonialisasi karena terkotak-kotak ke dalam berbagai bond sepakbola lokal.
PSSI mulai dikhawatirkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sebagai bentuk upaya menandingi kekuatan PSSI, didirikan Nederlandsh Indische Voetbal Unie (NIVU) pada 1936. Menjelang Piala Dunia Prancis 1938, dibuatlah perjanjian antara kedua pihak untuk mengirim tim perwakilan. Namun, karena tidak menghendaki bendera yang dipakai tim, Soeratin membatalkan secara sepihak perjanjian tersebut. NIVU tetap mengirimkan tim ke Prancis dengan bendera Hindia Belanda. Tim tersebut adalah perwakilan Asia pertama sepanjang sejarah Piala Dunia.
Jejak Indonesia sebagai salah satu tim yang disegani di kawasan Asia pun dimulai.
Sepakbola Indonesia memasuki periode keemasan disertai dengan sederetan pemain legendaris Merah-Putih lahir pasca-kemerdekaan, seperti antara lain Ramang, Maulwi Saelan, Suardi Arland, dan Tan Liong Houw. Pada periode yang sama, Indonesia dilatih pelatih legendaris asal Yugoslavia, Tony Pogacnik.
Nama Indonesia mulai diperhitungkan di kawasan Asia. Merah-Putih sukses menembus semi-final Asian Games Manila 1954, namun kalah 4-2 dari Taiwan. Pada partai perebutan medali perunggu, Indonesia dikalahkan Burma (sekarang Myanmar) 3-2.
Pada Olimpiade Melbourne 1956, Indonesia juga mengirimkan tim sepakbola. Di babak perempat-final, Indonesia langsung menghadapi favorit juara Uni Soviet. Setelah sempat menahan imbang 0-0, Indonesia takluk 4-0 pada partai ulangan hari berikutnya. Prestasi ini kemudian selalu disebut-sebut sebagai sejarah tertinggi sepakbola Indonesia.
Di kancah Asian Games dua tahun berikutnya di Tokyo, Indonesia kembali gugur di babak semi-final dari lawan yang sama. Kali ini Taiwan lolos ke final setelah memenangkan pertarungan 1-0. Namun, Indonesia sukses membungkus medali perunggu dengan melibas India 4-1.
Kesempatan terbaik untuk meraih medali emas muncul empat tahun kemudian ketika Asian Games digelar di Jakarta. Persiapan dilakukan dengan menyiapkan dua timnas -- satu terdiri dari pemain senior dan satu lagi dari para pemain muda. Sayangnya, ketika semangat mulai terbangun, timnas dihantam Skandal Senayan. Beberapa pemain diduga tersangkut penyuapan oleh bandar judi. Kekuatan Indonesia berkurang dan cabang sepakbola gagal total saat berlaga.
Indonesia sebenarnya juga berpeluang menembus kualifikasi Piala Dunia 1962. Setelah melewati hadangan Cina, Indonesia harus melewati Israel -- lawan yang sedang diboikot negara-negara Arab, termasuk Indonesia. Masalah politik terpaksa membendung ambisi masyarakat menyaksikan bendera Indonesia berkibar di Piala Dunia.
Hegemoni sepakbola Indonesia mulai beralih ke kawasan Asia Tenggara. Sebelum berpartisipasi dalam SEA Games 1977, Indonesia kerap berlaga di turnamen antarnegara, seperti Merdeka Games Malaysia, Piala Raja Thailand, Piala Aga Khan Bangladesh, atau President Cup Korea Selatan.
Setelah turun di pesta sepakbola Asia Tenggara itu, Indonesia harus menunggu sepuluh tahun sebelum meraih medali emas. Gol tunggal Ribut Waidi ke gawang Malaysia pada babak pertama di Senayan mengukuhkan nama Indonesia sebagai raja Asia Tenggara.
Setahun sebelumnya, Indonesia mengukir kejutan di Asian Games Seoul. Di bawah asuhan pelatih Bertje Matulapelwa, Indonesia meraih tempat keempat. Prestasi yang cukup menggembirakan itu ditambah ketika Sinyo Aliandoe mampu membawa Indonesia selangkah lebih dekat ke Piala Dunia 1986. Namun, Merah-Putih kalah tangguh dibandingkan Korea Selatan -- yang akhirnya lolos ke Meksiko.
Prestasi Indonesia mulai menukik. Usai Ferril Hattu mengapteni tim memenangi medali emas SEA Games 1991, tidak ada lagi prestasi tinggi yang diraih Merah-Putih.
Terutama ketika mulai 1999, SEA Games diikuti tim U-23. Untuk tim senior Asia Tenggara, Piala AFF -- atau dulu dikenal Piala Tigers -- menjadi ajang prestise tertinggi. Prestasi Indonesia mentok di posisi runner-up. Catatan tersebut diraih tiga kali penyelenggaraan beruntun -- 2000, 2002, dan 2004. Tidak hanya posisi nomor dua, Indonesia menuai hujatan setelah pada Piala Tigers 1998 sengaja mengalah 3-2 ketika melawan Thailand. Pertandingan itu ditandai dengan gol yang disengaja Mursyid Effendi ke gawang sendiri.
Indonesia hanya mampu mencetak kejutan-kejutan yang hanya dapat dianggap sebagai prestasi minor belaka. Empat kali berturut-turut berlaga di Piala Asia, Indonesia hampir selalu menghadirkan kejutan.
Di Uni Emirat Arab 1996, Widodo Cahyono Putro mencetak gol spektakuler yang kemudian dinobatkan sebagai gol terbaik Asia tahun yang sama. Setelah melempem di Libanon 2000, Indonesia sukses membukukan kemenangan pertama di kancah pesta sepakbola tertinggi Benua Kuning itu. Qatar ditekuk 2-1, sekaligus membuat pelatih Philippe Troussier dipecat. Pada edisi terakhir di kandang sendiri, 2007, Indonesia sempat menang 2-1 atas Bahrain. Kalah di dua pertandingan selanjutnya atas Arab Saudi dan Korea Selatan, tapi seperti dimaafkan berkat penampilan yang penuh semangat.
Animo masyarakat pun melonjak tinggi. Prestasi boleh minim, timnas tetap dicintai. Apapun, catatan tersebut tak lantas menghilangkan seretnya prestasi sepakbola Indonesia. Sudah 17 tahun lebih Indonesia tak lagi meraih gelar bergengsi. Terakhir di Piala AFF 2008, Indonesia kalah tangguh dari Thailand di babak semi-final.
Macan yang dulu mengaum lantang di Asia itu kini sedang tertidur pulas...
Indonesia, Macan Asia Yang Tertidur
Pernah disegani di kawasan Asia, kini sepakbola Indonesia tertidur pulas.
Oleh Agung Harsya
Seiring semangat kebangsaan yang tercetus dasawarsa 1920-an, Ir. Soeratin Sosrosoegondo mendirikan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk mewadahi kegiatan sepakbola di nusantara sekaligus menjadi salah satu alat perjuangan bangsa. Tanpa inisiatif tersebut, sepakbola Indonesia tidak pernah dikenal di zaman kolonialisasi karena terkotak-kotak ke dalam berbagai bond sepakbola lokal.
PSSI mulai dikhawatirkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sebagai bentuk upaya menandingi kekuatan PSSI, didirikan Nederlandsh Indische Voetbal Unie (NIVU) pada 1936. Menjelang Piala Dunia Prancis 1938, dibuatlah perjanjian antara kedua pihak untuk mengirim tim perwakilan. Namun, karena tidak menghendaki bendera yang dipakai tim, Soeratin membatalkan secara sepihak perjanjian tersebut. NIVU tetap mengirimkan tim ke Prancis dengan bendera Hindia Belanda. Tim tersebut adalah perwakilan Asia pertama sepanjang sejarah Piala Dunia.
Jejak Indonesia sebagai salah satu tim yang disegani di kawasan Asia pun dimulai.
Sepakbola Indonesia memasuki periode keemasan disertai dengan sederetan pemain legendaris Merah-Putih lahir pasca-kemerdekaan, seperti antara lain Ramang, Maulwi Saelan, Suardi Arland, dan Tan Liong Houw. Pada periode yang sama, Indonesia dilatih pelatih legendaris asal Yugoslavia, Tony Pogacnik.
Nama Indonesia mulai diperhitungkan di kawasan Asia. Merah-Putih sukses menembus semi-final Asian Games Manila 1954, namun kalah 4-2 dari Taiwan. Pada partai perebutan medali perunggu, Indonesia dikalahkan Burma (sekarang Myanmar) 3-2.
Pada Olimpiade Melbourne 1956, Indonesia juga mengirimkan tim sepakbola. Di babak perempat-final, Indonesia langsung menghadapi favorit juara Uni Soviet. Setelah sempat menahan imbang 0-0, Indonesia takluk 4-0 pada partai ulangan hari berikutnya. Prestasi ini kemudian selalu disebut-sebut sebagai sejarah tertinggi sepakbola Indonesia.
Di kancah Asian Games dua tahun berikutnya di Tokyo, Indonesia kembali gugur di babak semi-final dari lawan yang sama. Kali ini Taiwan lolos ke final setelah memenangkan pertarungan 1-0. Namun, Indonesia sukses membungkus medali perunggu dengan melibas India 4-1.
Kesempatan terbaik untuk meraih medali emas muncul empat tahun kemudian ketika Asian Games digelar di Jakarta. Persiapan dilakukan dengan menyiapkan dua timnas -- satu terdiri dari pemain senior dan satu lagi dari para pemain muda. Sayangnya, ketika semangat mulai terbangun, timnas dihantam Skandal Senayan. Beberapa pemain diduga tersangkut penyuapan oleh bandar judi. Kekuatan Indonesia berkurang dan cabang sepakbola gagal total saat berlaga.
Indonesia sebenarnya juga berpeluang menembus kualifikasi Piala Dunia 1962. Setelah melewati hadangan Cina, Indonesia harus melewati Israel -- lawan yang sedang diboikot negara-negara Arab, termasuk Indonesia. Masalah politik terpaksa membendung ambisi masyarakat menyaksikan bendera Indonesia berkibar di Piala Dunia.
Hegemoni sepakbola Indonesia mulai beralih ke kawasan Asia Tenggara. Sebelum berpartisipasi dalam SEA Games 1977, Indonesia kerap berlaga di turnamen antarnegara, seperti Merdeka Games Malaysia, Piala Raja Thailand, Piala Aga Khan Bangladesh, atau President Cup Korea Selatan.
Setelah turun di pesta sepakbola Asia Tenggara itu, Indonesia harus menunggu sepuluh tahun sebelum meraih medali emas. Gol tunggal Ribut Waidi ke gawang Malaysia pada babak pertama di Senayan mengukuhkan nama Indonesia sebagai raja Asia Tenggara.
Setahun sebelumnya, Indonesia mengukir kejutan di Asian Games Seoul. Di bawah asuhan pelatih Bertje Matulapelwa, Indonesia meraih tempat keempat. Prestasi yang cukup menggembirakan itu ditambah ketika Sinyo Aliandoe mampu membawa Indonesia selangkah lebih dekat ke Piala Dunia 1986. Namun, Merah-Putih kalah tangguh dibandingkan Korea Selatan -- yang akhirnya lolos ke Meksiko.
Prestasi Indonesia mulai menukik. Usai Ferril Hattu mengapteni tim memenangi medali emas SEA Games 1991, tidak ada lagi prestasi tinggi yang diraih Merah-Putih.
Terutama ketika mulai 1999, SEA Games diikuti tim U-23. Untuk tim senior Asia Tenggara, Piala AFF -- atau dulu dikenal Piala Tigers -- menjadi ajang prestise tertinggi. Prestasi Indonesia mentok di posisi runner-up. Catatan tersebut diraih tiga kali penyelenggaraan beruntun -- 2000, 2002, dan 2004. Tidak hanya posisi nomor dua, Indonesia menuai hujatan setelah pada Piala Tigers 1998 sengaja mengalah 3-2 ketika melawan Thailand. Pertandingan itu ditandai dengan gol yang disengaja Mursyid Effendi ke gawang sendiri.
Indonesia hanya mampu mencetak kejutan-kejutan yang hanya dapat dianggap sebagai prestasi minor belaka. Empat kali berturut-turut berlaga di Piala Asia, Indonesia hampir selalu menghadirkan kejutan.
Di Uni Emirat Arab 1996, Widodo Cahyono Putro mencetak gol spektakuler yang kemudian dinobatkan sebagai gol terbaik Asia tahun yang sama. Setelah melempem di Libanon 2000, Indonesia sukses membukukan kemenangan pertama di kancah pesta sepakbola tertinggi Benua Kuning itu. Qatar ditekuk 2-1, sekaligus membuat pelatih Philippe Troussier dipecat. Pada edisi terakhir di kandang sendiri, 2007, Indonesia sempat menang 2-1 atas Bahrain. Kalah di dua pertandingan selanjutnya atas Arab Saudi dan Korea Selatan, tapi seperti dimaafkan berkat penampilan yang penuh semangat.
Animo masyarakat pun melonjak tinggi. Prestasi boleh minim, timnas tetap dicintai. Apapun, catatan tersebut tak lantas menghilangkan seretnya prestasi sepakbola Indonesia. Sudah 17 tahun lebih Indonesia tak lagi meraih gelar bergengsi. Terakhir di Piala AFF 2008, Indonesia kalah tangguh dari Thailand di babak semi-final.
Macan yang dulu mengaum lantang di Asia itu kini sedang tertidur pulas...
Pertandingan
- Terakhir
- Berikut
| ACQ | Indonesia - Saudi Arabia | 1 - 2 |
| ACQ | Iraq - Indonesia | 1 - 0 |
| UJI | Jordan - Indonesia | 5 - 0 |
| AFF | Malaysia - Indonesia | 2 - 0 |
| AFF | Indonesia - Singapore | 1 - 0 |
| AFF | Indonesia - Laos | 2 - 2 |
| WCQ | Bahrain - Indonesia | 10 - 0 |
| WCQ | Indonesia - Iran | 1 - 4 |
| UJI | Indonesia - Belanda | 07/06/13 07:00 WIB |
| ACQ | Indonesia - China | 15/10/13 03:00 WIB |
| ACQ | China - Indonesia | 15/11/13 07:00 WIB |
| ACQ | Indonesia - Iraq | 19/11/13 03:00 WIB |
| ACQ | Saudi Arabia - Indonesia | 05/03/14 03:00 WIB |
Kompetisi Aktif
Terlaris Dibahas
Pencetak Gol Terbanyak
| Pemain | Gol | Penalti | |
|---|---|---|---|
|
|
Boaz Solossa
Striker Persipura |
1 | 0 |
|
|
Muhammad Ridwan
Bek Persib |
1 | 0 |
|
|
Andik Vermansah
Gelandang Persebaya IPL |
1 | 0 |
|
|
Raphael Maitimo
Gelandang Mitra Kukar |
1 | 0 |
Goal.com Indonesia
Lain-Lain
Hak cipta © 2013 GOAL.com dilindungi oleh undang-undang. Dilarang menerbitkan, menyiarkan, menulis ulang, atau menyebarkan informasi dari situs ini tanpa meminta izin tertulis dari GOAL.com.