thumbnail Halo,
CATATAN: Ketika Gaya Hidup Pemain Berubah

The Goal Rich List 2013

CATATAN: Ketika Gaya Hidup Pemain Berubah

Pesepakbola kerap dicibir karena gaya hidup mewah mereka, tapi ada beberapa profesional yang mendedikasikan sejumlah besar uang mereka untuk memperbaiki hidup orang lain.


PENYUSUN   DEFANIE ARIANTI    
 Peter Staunton
 Penulis Sepakbola
Follow di

Sepakbola telah mengembangkan iklim mikro-ekonominya dalam dua dekade terakhir ketika pemain-pemain bergaji tinggi makin kebal terhadap kesulitan finansial yang dihadapi banyak negara di berbagai belahan dunia. Fokus terhadap bisnis, serta munculnya berbagai oportunis untuk kepentingan komersil di dunia sepakbola, telah membentuk generasi pesepakbola dengan kekayaan pribadi yang sulit untuk dibayangkan. Goal Rich List akan menunjukkan betapa besarnya kekayaan yang mereka terima.

Perubahan dramatis keadaan itu telah menciptakan karikatur pemain yang menggunakan telepon seluler ciptaan desainer, memainkan iPhone, membawa tas Louis Vuitton, dan lebih tertarik menambah koleksi mobilnya ketimbang membantu orang-orang yang kurang beruntung dibandingkan mereka. Tapi anggapan itu tidak sepenuhnya adil.

"Kita hidup di dunia yang sangat sinis," ujar Clark Carlisle, bek Northampton Town sekaligus chairman Professional Footballers' Association.

"Banyak orang tidak bisa berbuat benar karena perbuatan yang salah. Rich List akan dipublikasikan dan orang-orang akan berkata, 'Apa yang dilakukan para pemain ini dengan begitu banyak uang? Apakah mereka layak mendapatkannya?'"

"Saat ini ada [badan amal dan pekerjaan yang dilakoni komunitas] fantastis mulai dari tingkat teratas piramida hingga paling bawah, dan kami tahu kami melakukan pekerjaan ini sebagai industri dan kami dari PFA serta serikat kerja memuji apa yang dilakukan para pemain ini."

Alih-alih menimbun kekayaan serta mengisolasi harta yang semakin berkembang, makin banyak pesepakbola yang menyadari jurang pemisah antara yang kaya dan miskin serta berjuang untuk menyeimbangkannya lewat perusahaan dan badan usaha.


Bersyukur | Didier Drogba adalah salah satu dari pemain Pantai Gading yang terlibat dalam kegiatan amal
 
Salah satu contoh bisa ditemukan di Afrika, terutama di Pantai Gading, di mana pelayanan medis masih mengkhawatirkan menyusul perang saudara kedua. Kurangnya persediaan air bersih untuk minum serta stok darah untuk transfusi, begitu juga kurang efektifnya upaya memerangi HIV/AIDS, meningitis, lepra, dan kolera, menggambarkan krisis kesehatan yang dihadapi negara itu.

Eksperimen singkat ketika pemerintahan Alassane Outtara memberikan layanan kesehatan gratis akhirnya ditinggalkan pada Januari 2012 karena penanganan yang kurang baik. Yang membuat khawatir, kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Unocha) telah mengidentifikasi bahwa tingginya biaya di Pantai Gading menjadi hambatan utama dalam penyediaan perawatan medis terhadap masyarakat.

Berlatar belakang masalah itu, Kalou bersaudara, Bonaventure dan Salomon, belum lama ini melakukan intervensi. Mantan bintang Feyenoord dan PSG serta striker Lille itu mendirikan Foundation Kalou, di mana mereka mengumpulkan £400.000 untuk membangun pusat terapi dialisis ginjal di Bouake, Pantai Gading bagian tengah. Sekitar tujuh persen populasi dewasa di wilayah Afrika barat mengidap HIV/AIDS dan hal itu bisa mengakibatkan gangguan serius pada ginjal.

Foundation Kalou didirikan pada 2009 dengan tujuan memperbaiki layanan kesehatan di Pantai Gading, sedangkan pusat dialisis ginjal, yang dibuka Februari lalu, menyediakan 16 mesin dialisis, 14 generator serta 20 komputer baru untuk para staf dan administrasi.

"Pasien yang membutuhkan perawatan dialisis biasanya harus melewati jarak jauh melintasi negara. Pusat kesehatan ini akan menyediakan pelayanan yang dibutuhkan sehingga mereka bisa mendapatkan perawatan lebih dekat dengan rumah, dan diharapkan bisa menyelamatkan nyawa seseorang," ujar Salomon.

Kalou bersaudara hanya satu contoh dari semakin banyaknya pemain yang kembali ke komunitas dengan kegiatan amal mereka. Kompatriot Emmanuel Eboue telah mengumpulkan dana lebih dari £132.000 untuk berbagai proyek pendidikan di Pantai Gading seperti buku, beasiswa, seragam dan sepatu.

Sepakbola telah memberikan saya segalanya dan saya merasa wajib untuk mengembalikannya kepada masyarakat

- Samuel Eto'o

 

Di tempat lain, kapten tim Elephants Didier Drogba, menempati posisi 24 Goal Rich List, sudah dikenal gemar melakukan amal. Melalui Didier Drogba Foundation, yang bertanggung jawab atas berbagai pelayanan kesehatan di Pantai Gading, mantan striker Chelsea mendanai sejumlah kegiatan penting dari kantongnya sendiri. Penyerang Galatasaray diketahui menyumbangkan seluruh pemasukan komersil dari brand seperti Nike dan Pepsi kepada badan amalnya agar bisa didistribusikan ke berbagai proyek amal, dan dikenal sebagai pahlawan di kampung halamannya.

Memang, di seluruh Goal.com Rich List, ada banyak pemain yang memanfaatkan profil serta kekayaan mereka untuk membentuk serta melakukan berbagai proyek amal di seluruh dunia. Samuel Eto'o Foundation bekerja untuk kepentingan anak-anak di bagian barat Afrika, menyediakan layanan kesehatan serta mendukung pendidikan serta mempromosikan kegiatan sosial melalui olahraga.

Eto'o, yang menerima sekira £20 juta setiap musimnya bersama Anzhi Makhachkala, mengatakan: "Sepakbola telah memberikan saya segalanya dan saya merasa wajib untuk mengembalikannya kepada masyarakat. Tidak ada yang membuat saya merasa lebih baik selain berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan."

Michael Essien Foundation berjuang menyediakan infrastruktur dasar, seperti air bersih untuk minum, toilet publik, dan perpustakaan untuk masyarakat kurang mampu di kampung halamannya di Awutu Breku, Ghana. Pembangunan sumur itu, terutama, memiliki arti khusus bagi Essien, yang kehilangan kakaknya akibat kecelakaan tragis saat tengah mengambil air untuk keluarga mereka. Badan amal ini juga mengajarkan keahlian-keahlian dasar yang ditujukan untuk mendukung perempuan; sebagai bentuk penghormatan kepada sang ibu, yang disebut Essien merupakan "tiang kokoh yang mendukung saya."

"Kemiskinan ada dimana-mana, tapi di negara-negara Afrika tentu saja itu lebih parah," ujar Essien. "Jadi kami ingin memberikan kembali [ke masyarakat] dan membuat banyak hal menjadi lebih baik."


Tangkapan Emas | Pemain anyar PSG mendonasikan gajinya selama lima bulan untuk amal

Pemuncak Rich List David Beckham belum lama ini meramaikan tajuk utama media karena keputusannya untuk mendonasikan gajinya selama lima bulan bersama Paris Saint-Germain kepada badan amal anak-anak di pusat kota. "Saya sangat bersemangat [membantu] anak-anak serta badan amal itu," ujar Beckham kala menandatangani kontrak bersama PSG bulan lalu. "Jadi kami bekerja sama, ini sangat istimewa."

Mereka yang sinis memandang kemurahatian Beckham sebagai upaya menghindari pajak atau sekadar tindakan humas untuk membantu mempromosikan badan amal Victoria and David Beckham Charitable Trust yang melakukan inisiatif untuk merawat anak-anak penyandang cacat maupun sakit.

Sementara itu, Clarence Seedorf baru-baru ini mendanai konstruksi Clarence Seedorf Stadium di Para, Suriname. Sedangkan proyek Champions for Children miliknya telah membuatnya mendapat penghargaan di kampung halamannya maupun di Belanda.

Lionel Messi adalah salah satu duta besar Unicef terpopuler, sementara Cristiano Ronaldo aktif dalam kegiatan untuk Save the Children. Mega bintang Real Madrid menyumbangkan £100.000 untuk mendanai pusat penyakit kanker di kampung halamannya di Madeira setelah dokter di sana merawat sang ibu untuk penyakit yang sama. Ronaldo juga terlibat dalam rehabilitasi provinsi Aceh di Indonesia, menyusul bencana tsunami 2004 lalu. Kedua pemain itu juga ikut ambil bagian dalam kegiatan FIFA, "11 for Health", yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap serta perilaku anak-anak atas penyakit-penyakit di wilayah negara berkembang.

Memang, kita hidup di era di mana pesepakbola elit bukan lagi sekadar dikenal sebagai atlet hebat, mereka dikenal sebagai pencipta tren, selebriti, ikon, dan mungkin yang terpenting, panutan.

Ketertarikan kita terhadap hidup mereka di luar lapangan memungkinkan adanya penghakiman di media ketika mereka tidak memenuhi ekspektasi kita ataupun standar 'kehidupan publik'. Tapi, penting untuk melihat sisi lain dari koin itu, terutama bagaimana bintang sepakbola menggunakan profil serta kekayaan mereka untuk melakukan perubahan positif yang memiliki arti penting bagi mereka, karena itu bisa memberikan kepuasan lebih besar.


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!


Terkait