thumbnail Halo,

Dalam edisi perdana pemain legenda di J-League, Goal Asia merefleksikan karir bintang Gamba Osaka dan Jepang Yasuhito Endo.


GOALOLEH   DONNY AFRONI

Tak banyak pemain yang telah menjadi bagian dari sejarah sepakbola profesional di Jepang selama bertahun-tahun seperti dilakukan Yasuhito Endo.

Kendati loyalitasnya kepada Gamba Osaka baru sebatas enam trofi antara 2005 dan 2009, penghargaan individu dan rekornya bersama tim nasional membuat dia termasuk ke dalam salah satu pemain besar di Jepang.
GAYA BERMAIN
Endo mampu menempati posisi apa pun di lini tengah, tapi dia lebih sering menjadi playmaker. Dia memiliki bakat dalam menempatkan posisi, skill yang telah membantu diirnya bersinar, walau tak punya kecepatan.

Kemampuannya membaca permainan membuat Endo bisa mencuri bola, dan dengan cepat mengoperkannya kepada rekan-rekannya. Dia juga memiliki catatan bagus dalam hal menjebol gawang lawan berkat akurasi tendangan bebasnya yang mematikan.

Endo lahir di Kagoshima pada 1980. Di saat kota yang terletak di bagian Kyushu ini minim pemain profesional, 'Yatto' tumbuh besar di keluarga sepakbola bersama dua kakaknya yang juga bergelut di olahraga. Sebagai seorang remaja, Yatto menjadi bintang di SMU Jitsugyo, salah satu sekolah di Jepang dengan sepakbola sebagai olahraga favorit.

Endo mengawali profesionalisme sepakbola dengan tidak mulus. Setelah pindah ke Yokohama untuk bergabung dengan Fluegels pada 1998, klub tersebut mengalami permasalahan keuangan, sehingga gulung tikar.

“Itu sungguh mengejutkan,” kenang Endo dalam wawancara tahun 2011. “Saya dan rekan-rekan satu tim mengkhawatirkan karir kami. Kami benar-benar tidak punya bayangan seperti apa ke depannya.”

Endo beruntung akhirnya bergabung dengan Kyoto Purple Sanga, di mana pada 1999 dan 2000 dia bermain bersama pemain bertalenta seperti Kazuyoshi Miura, dan dan jebolan Jitsugyo, Daisuke Matsui. Walau memiliki pemain bertalenta, Sanga justru terdegradasi di akhir musim 200, dan Endo kemudian bergabug dengan Gamba Osaka.

Di awal 2001, Endo menjadi pemain kunci, dan simbol bagi Gamba. Ia menjadi pemain paling krusial yang membuat klub mencatatkan sejarah.


Endo terkenal dengan sikap dinginnya, baik di dalam dan luar lapangan, serta bersikap serius dalam wawancara. Endo termasuk pemain langka di J-League yang tak suka kebut-kebutan, dan rekan satu timnya menyebut dia sebagai pengemudi yang lamban. Ayah empat anak ini juga merupakan penulis beberapa buku dan kolom mingguan 'Ashita yarou wa baka yaro', yang artinya 'Sungguh konyol jika melakukan sesuatu esok hari terhadap apa yang bisa dilakukan hari ini'.

Pada 2005, Gamba Osaka meraih gelar pertama mereka di J-League lewat pertarungan dramatis dengan tim satu kota, Cerezo Osaka, di pekan terakhir liga. Tiga tahun kemudian, masih bersama Endo, Gamba secara meyakinkan menjuarai Liga Champions Asia dengan status tanpa terkalahkan, dan mengalahkan wakil Australia, Adelaide United, lewat kemenangan agregat 5-0.

TENDANGAN 'KORO-KORO'
Di puncak karirnya, Endo menjadi terkenal berkat tendangan bebas uniknya. Dia akan mempelajari gerakan kiper sebelum mengeksekusi bola, dan menempatkan si kulit bundar dengan akurasi tendang berputar mendatar. Pada 18 Desember 2008, tendangan ini 'koro-koro' (berputar pelan dalam bahasa Jepang) tendangannya itu menjebol gawang Manchester United yang dikawal Edwin Van der Sar di semi-final Piala Dunia antarklub, salah satu kekalahan yang dikenang Gamba Osaka dengan skor 5-3.
Endo untuk kali pertama dipanggil masuk tim nasional Jepang pada 2002, dan selanjutnya menorehkan 146 caps. Dia menjadi pemain pengganti di Piala Dunia 2006, tapi di Afrika Selatan, ia menjadi andalan yang mengubah permainan Jepang.

Pada 24 Juni 2010, dia mencetak gol yang patut dikenang publik Jepang lewat tendangan bebas melawan Denmark di laga pamungkas grup. “Beberapa saat setelah menendang bola, saya berlari untuk merayakannya. Saya sudah tahu bola akan masuk,” kenang Endo mengenai momen indah itu. Pertandingan berakhir dengan kemenangan 3-1 untuk Samurai Biru, sehingga mereka membuat sejarah dengan lolos ke babak 16 Besar.

Ketika Gamba gagal mendapatkan gelar sejak 2009, penghargaan individu terhadap Endo menjadi sebuah legenda. Walau klubnya terdegradasi pada 2012, Endo justru masuk ke dalam jajaran pemain terbaik sembilan musim berturut-turut. Di musim berikutnya, Endo membawa Gamba kembali ke kasta tertinggi, dan terpilih sebagai pemain terbaik di J2.

Di usia 34 tahun, Endo tetap menjadi kapten Gamba Osaka, dan tampil di Piala Dunia di Brasil. Satu-satunya kekecewaan dalam karirnya adalah mereka tidak pernah bisa melihat kemampuannya di klub asing.

Goal hadir via ponsel dengan alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi Goal secara langsung untuk OS ponsel Anda:
Apple iTunes
Apple iOS
Blackberry App World
Blackberry
Google Play
Android
Nokia OVI Store
Nokia
Windows Phone
Windows Phone


Terkait