thumbnail Halo,

Cerita menakjubkan di balik jersey yang dipakai oleh ratusan pemain sepakbola J-League.

Dengan kolektor di berbagai penjuru dunia yang memburu jersey klub Jepang, bukan hal mengejutkan bila J-League berisi banyak cerita menakjubkan terkait dengan jersey yang dipakai para pemain di setiap pertandingan.

Ketika liga pertama kali bergulir pada 1993, jersey secara eksklusif diproduksi oleh Mizuno untuk semua klub pertama yang berjumlah sepuluh. Bagaimanapun juga, tim-tim diperbolehkan memakai apparel lain untuk jersey piala domestik. Hal tersebut berlangsung hingga tahun 1997, ketika kontrak Mizuno berakhir dan apparel-apparel baru akhirnya membanjiri sepakbola Jepang.

Mengatur apparel bukan satu-satunya hal yang dikhawatirkan oleh pihak liga. Banyak klub menginginkan warna biru sebagai warna utama mereka, hingga pihak J-League meminta tim-tim seperti Sanfrecce Hiroshima dan Shimizu S-Pulse mengadopsi warna lain.

Biru bukan hanya satu-satunya warna yang disukai klub-klub Jepang, warna putih juga kerap menjadi favorit untuk jersey tandang. Itu hampir dipakai oleh semua klub kecuali Yokohama Flugels, yang memakai warna putih sebagai warna utama mereka.

Hal itu membuat momen yang unik pada 1995, ketika Sanfrecce Hiroshima keliru membawa jersey tandang mereka [yang berwarna putih] ketika menyambangi markas Flugels. Sanfrecce akhirnya terpaksa meminjam jersey kandang replika yang dipakai oleh para suporter yang ikut ngeluruk ke kandang tim lawan, dan hasilnya Sanfrecce mampu meraih kemenangan 1-0.
 
 
Bahkan rival yang sudah dikenal sangat panas, seperti Shimizu S-Pulse dan Jubilo Iwata memakai jersey tandang Puma yang sangat identik pada tahun 2010 dan 2011.

Tetapi, ketika beberapa warna terlihat sangat umum daripada yang lain, salah satu warna yang jarang terlihat di lapangan J-League adalah warna hitam. Hanya beberapa tim seperti Oita Trinita dan Kyoto Sanga yang memakai warna hitam, dan bahkan hanya sebagai jersey ketiga mereka. Sementara itu Vissel Kobe memakai warna garis hitam putih pada awal berdirinya klub, tetapi penjualan klub ke Rakuten membuat warna jersey tim berubah menjadi merah, untuk menghormati perusahaan induk Rakuten.

Perubahan Vissel adalah yang pertama, tetapi setelah beberapa tahun dari masa jersey dua tahunan, semakin lebih banyak klub yang melepas desain baru setiap musimnya. Beberapa klub melangkah lebih jauh dengan meluncurkan desain spesial yang hanya dipakai satu atau dua kali dalam satu musim. Jersey emas Gamba Osaka adalah salah satu contoh, demikian juga jersey yang dikenakan Shonan Bellmare pada musim panas ini dengan menggunakan banyak warna yang terinspirasi dari festival bintang. Jersey musim panas unik lain adalah jersey yang dipakai oleh Sagan Tosu pada Agustus 2013, di mana mereka memakai jersey dengan motif semangka.

Loyalitas mendalam yang dimiliki suporter untuk klub J-League membuat mereka tetap membeli jersey baru setiap tahun, menghasilkan tribun cantik yang berwarna-warni memenuhi stadion setiap pekan.

Terkait