thumbnail Halo,

Kashiwa Reysol bergabung dengan J-League pada 1995 setelah meraih sukses di Liga Sepakbola Jepang pada tahun sebelumnya.

 

SEJARAH
Didirikan pada 1940 sebagai klub sepakbola yang mewakili Hitachi, Kashiwa Reysol bergabung dengan J-League pada 1995 setelah meraih sukses di Liga Sepakbola Jepang pada tahun sebelumnya.

Pertama kali bermarkas di tengah kota Tokyo di Kodaira, yang kini menjadi basis dukungan untuk FC Tokyo, Reysol pindah ke Chiba pada 1978, yang menciptakan rivalitas dengan JEF United Ichihara, yang bermarkas di sisi lain dari prefektur dekat Chiba City. Meski keduanya kerap berkompetisi di level yang berbeda, pramusim Chiba Gin Cup membolehkan suporter menikmati atmosfer derbi sebenarnya setidaknya sekali dalam satu musim.

Sukses Reysol memenangi gelar pertama J-League adalah saat ditangani Akira Nishino, yang mengambil alih klub pada 1998 setelah menangani Jepang di Olimpiade 1996. Bersama mantan pemain mereka, Reysol bisa membuat kejutan terhadap Kashima Antlers dengan memenangi Yamazaki Nabisco Cup pada 1999.

Tapi dibutuhkan lebih dari satu dekade bagi Reysol bisa memenangi trofi juara lainnya. Pada 2010, Nelsinho Baptista berhasil membawa timnya mentas dari J-2, dengan memaksimalkan kombinasi pemain muda Jepang dan pemain veteran asal Brasil. Setahun kemudian, mereka menjadi tim Jepang pertama yang bisa meraih gelar juara J-League setelah sebelumnya promosi ke divisi utama.

Pada Desember 2011, Reysol menjadi tuan rumah Piala Dunia Antarklub dan bisa mengalahkan Auckland City dan Monterrey sebelum takluk di semi-final dari Santos da Neymar dengan skor 3-1.

Setahun kemudian, Reysol mengalahkan Gamba Osaka di Piala Emperor 2012, sukses membalas kekalahan yang mereka rasakan pada empat tahun sebelumnya. Sukses mereka menjadi kebangkitan bagi klub, dengan stadion mereka selalu terisi penuh di setiap laga. Fans fanatik mereka, ditambah kesuksesan di Liga Champions Asia menjadikan klub ini menjadi salah satu dari bagian sukses sepakbola Jepang.

PEMAIN BINTANG
Superstar pertama Reysol adalah Careca, yang pernah menjadi tandem Diego Maradona di Napoli. Pemain asal Brasil itu mencetak 31 gol dan menjadi bagian penting dalam sejarah awal klub di J-League.

Hristo Stoichkov juga sempat bermain selama satu setengah musim di Reysol dan mencetak 13 gol dari 28 penampilan.

Nozomu Kato menjadi gelandang legendaris dengan bermain untuk Kashiwa selama 13 musim. Kato juga dikenal karena akurasi tendangan kedua kakinya dan menjadi figur penting yang membawa Kashiwa promosi ke divisi utama.

Tandem Kato di lini tengah adalah Tomozaku Myojin dengan bermain di Kashiwa Stadium selama satu dekade dan juga mewakili Jepang di Olimpiade 2000 Sydney dan Piala Dunia 2002.

Hong Myung-Bo dari Korea Selatan juga pernah bermain untuk Reysol selama tga musim dan menjadi kapten tim saat memenangi Nabisco Cup 1999.

Hiroki Sakai menjadi idola lokal dengan tampil mengesankan melawan Santos di semi-final Piala Dunia Antarklub 2011. Kini ia bermain untuk Hannover 96 dan menjadi bagian dari tim nasional Jepang.

STADION


Kapasitas stadion Hitachi Kashiwa Stadium hanya 16,000 tempat duduk dan memiliki jarak yang sangat dekat antara tribun dan lapangan. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri karena fans bisa mengintimidasi lawan. Pendukung di belakang gawang sangat vokal dan kerap menjadi alasan kapten tim menentukan di sisi mana mereka akan bermain pada babak pertama.

Stadion ini berjarak 20 menit dengan berjalan kaki dari Kashiwa Station. Reysol juga menggunakan stadion nasional Tokyo untuk laga penting, seperti saat melawan Urawa Reds.

WARNA DAN JERSEY

Reysol menggunakan jersey dengan warna kuning yang dominan saat bermain di kandang dan jersey warna putih saat bermain tandang. Di masa lalu, Reysol menggunakan jersey dengan warna hitam dengan aksen merah di desain mereka.

MASKOT

Rei-Kun, seekor monyet lucu, merupakan gambaran dari Sun King, tokoh monyet sakti dari literatur Cina. Rei-Kun juga merupakan suara dari klub lewat akun resmi Twitternya.

Terkait