thumbnail Halo,

Sebagai klub, Jubilo Iwata sudah eksis sejak 1972, sebagai bagian dari divisi olahraga Yamaha.

 

SEJARAH
Jubilo Iwata tak lolos dalam seleksi pertama J-League musim pertama pada 1993, dan baru bergabung setahun kemudian dan langsung menjadi salah satu poros kekuatan sepakbola Jepang dalam satu dekade pertama. Sebagai klub, Jubilo Iwata sudah eksis sejak 1972, sebagai bagian dari divisi olahraga Yamaha.

Jubilo memenangi kompetisi J-League pertama pada 1997, diikuti dengan kesuksesan di tahun 1999 dan 2002. Jubilo juga meraih sukses di Piala Nabisco 1998 dan Piala Emperor 2003, juga kejuaraan klub Asia di musim 1998/99, kompetisi yang menjadi cikal-bakal Liga Champions Asia.

Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak rival seperti Shimizu S-Pulse, yang membuat Jubilo terjatuh. Meski belum sampai terdegradasi, Jubilo sampai harus mengalami paceklik gelar dalam sepuluh tahun terakhir. Satu-satunya trofi yang berhasil diraih adalah Piala Nabisco 2010.

Pada 2008, Jubilo nyaris terdegradasi setelah selamat dari persaingan di babak playoff melawan Vegalta Sendai. Dengan membutuhkan satu gol lagi untuk bisa memenangi seri, menit-menit terakhir laga memaksa 11 pemain Jubilo bermain menyerang dan melepas belasan tendangan ke arah gawang lawan untuk bisa tetap bertahan di divisi utama J-League.

Di tahun 2000an, klub ini identik dengan Ryoichi Maeda, yang mana Death Goal-nya menjadi legenda. Di mulai pada 2007, tim pertama yang selalu kecolongan oleh gol Maeda selalu terdegradasi ke divisi dua.

Meski minim kesuksesan dalam beberapa tahun terakhir, Jubilo Iwata tetap menjadi salah satu klub papan atas dalam sejarah J-League, dan bersama Kashima Antlers dan Yokohama F. Marinos menjadi salah satu pilar sepakbola profesional Jepang.

PEMAIN BINTANG
Mantan pemain Messina dan legenda Juventus Salvatore Scillaci menjadikan Jubilo sebagai rumahnya dari 1994 hingga 1997, dan menjadi pemain Italia pertama yang berlaga di J-League dan membantu tim meraih gelar pertama mereka. Rekan satu timnya, gelandang Toshiya Fujita, memainkan peran penting dalam meraih gelar di tahun 1999 dengan menjadi kapten dan MVP liga.

Keduanya bermain bersama legenda Brasil Carlos Dunga antara 1995 dan 1998. Mantan pelatih Brasil itu bermain di 26 laga saat memenangi trofi juara 1997, tapi kemudian meninggalkan klub karena meningkatnya nilai mata uang, yang membuat klub harus mengurangi jumlah bayarannya.

Gelandang tengah Hiroshi Nanami menghabiskan 12 musim dengan Jubilo Iwata, di mana ia juga menjadi andalan bagi tim nasional Jepang dan tampil di Piala Dunia 1998. Ia menjadi salah satu pemain Jepang yang menembus Serie A dengan bermain untuk Venezia pada musim 1999/2000.

Nanami bukan satu-satunya pemain Jubilo yang bermain di luar negeri. Naohiro Takahara, MVP liga 2002 da topskor, juga bermain di Jerman setelah lima musim membela Iwata, dengan memperkuat Hamburg SV dan Eintracht Frankfurt sebelum kemudian kembali ke J-League.

Pemain Jubilo Iwata yang paling terkenal adalah Masashi 'Gon' Nakayama, yang bertahan di Jubilo sejak 1994 hingga kepergiannya pada 2009. Pada 1998, ia mencetak rekor dunia Guiness dengan melesakkan empat hattrick secara beruntun, hanya dua bulan sebelum menjadi pemain pertama Jepang yang bisa mencetak gol di Piala Dunia.

Lee Kuen-Ho, kapten tim nasional Korea Selatan saat ini, juga melakoni debutnya di Iwata, bermain di sana selama satu setengah musim sebelum dilepas ke Gamba Osaka pada musim panas 2009.

Stadion


Yamaha Stadium pertama kali dibuka pada 1978, dan kemudian terus dikembangkan dan dua kali direnovasi dengan kapasitas stadion saat ini lebih dari 15,000. Stadion ini juga digunakan untuk olahraga rugby.

Seperti halnya S-Pulse, Jubilo menggunakan Ecopa Stadium sebagai stadion kandang untuk pertandingan yang banyak dihadiri oleh fans.

WARNA DAN JERSEY

Jubilo pertama kali menggunakan biru gelap sebagai warna utama mereka, tapi selama beberapa tahun melakukan transisi menjadi biru yang lebih muda, yang menjadi warna dasar. Warna biru gelap lebih sering digunakan sebagai aksen dalam jersey mereka atau menjadi jersey ketiga.


Maskot

Jubilo-kun merupakan seekor burung yang terinspirasi dari jenis burung pemakan serangga. Pasangannya, Jubi-chan, baru muncul pada 2003.

Terkait