thumbnail Halo,

Meski minim sponsor, Trinita tetap bertekad membungkam peragu dan berjuang mendapat tempat di J1.

Sejarah
Oita Trinita termasuk salah satu klub terbaru di Jepang, dibentuk pada 1994 ketika mereka bergabung di divisi pertama prefektural liga sebagai Oita Trinity. Fini posisi pertama dua kali beruntun membuat klub bergabung ke JFL (ketika itu divisi kedua) pada 1996; pada 1999 mereka membantu membentuk divisi kedua J-League dan mengadopsi nama 'Trinita' untuk merepresentasikan dukungan fans lokal, sponsor dan pemerintah.

Di musim bersejarah pada 2002, Trinita menyabet gelar juara J2 dan akhirnya promosi ke J1. Meski mereka mengalami kesulitan untuk bertahan di kompetisi teratas, pelan-pelan mereka mencatat hasil memuaskan, naik dari peringkat 14 ke 11 di tiga musim perdana.

Era keemasan klub terjadi pada 2008, ketika mereka finis di tempat keempat dengan pertahanan terkuat di liga dan meraih gelar pertama dengan mengalahkan Shimizu S-Pulse 2-0 di Final Nabisco Cup.

Sayang, mereka gagal mengulang sukses di 2009, menyusul problem finansial karena minimnya sponsor yang memaksa pemotongan anggaran klub dan harus terdegradasi. Oita Bank Dome, struktur indah yang dibangun di atas bukit Oita City untuk Piala Dunia 2002, pernah menjadi tuan rumah untuk 22.000 penonton per pertandingan kandang; pada 2011, rata-rata penonton merosot tajam kurang dari 9.000 per pertandingan.

Di luar dugaan, klub berhasil finis di tempat keenam di musim 2012 dan berpeluang mendapat promosi melalui play-off sistem baru. Karena status bukan unggulan, Trinita perlu memenangkan dua pertandingan demi lolos ke promosi. Mereka secara mengejutkan mengukit kemenangan 4-0 di Kyoto Sanga dan dapat memberikan perlawanan dengan kemenangan 1-0 atas JEF United Chiba di National Stadium di Tokyo.

Meski memastikan tiket promosi, situasi finansial klub tidak mengalami peningkatan dan klub Kyushu dipastikan terdegradasi di sisa enam laga setelah menjalani musim buruk selama 2013.

Pemain Top
Trinita pernah menjadi "rumah" untuk beberapa striker top Brasil, misalnya Will yang menjadi bagian krusial di awal tahun klub, memproduksi 49 gol dari 85 penampilan dari 1998-2000.

Topskor Liga Brasil 2000 Magno Alves bergabung Trinita pada 2004, bertahan hingga dua musim berikutnya. Pada 2006, dia menjadi topskor di J-League dan Liga Champions Asia.

Mu Kanazaki, gelandang yang main untuk Trinita dari 2007-2009, tampil di beberapa pertandingan untuk Jepang dan saat ini tengah melebarkan sayapnya di Liga Segunda Portugal bersama klub Portimonense SC.

Hiroshi Kiyotake, yang menjadi rekan setim Kanazaki selama dua tahun, menemukan kesuksesannya di klub Jerman Nurnberg dan kini pemain reguler di timnas Jepang.

Mantan penjaga gawang Shusaku Nishikawa, produk akademi Trinita yang menjadi starter pada 2005-2009, membantu tim memenangkan trofi pertama pada 2008. Sekarang dia menjadi pelapis reguler di timnas, dia kiper yang membawa Jepang menang 2-1 pada laga kontra Korea Selatan di Piala Asia 2013.


Stadion


Dikenal sebagai Mata Besar dalam bahasa sehari-hari, Oita Bank Dime didesain oleh arsitek terkenal Kisho Kurokawa jelang Piala Dunia 2002. Selain dua pertandingan penyisihan grup, stadion ini juga menjamu laga kemenangan 2-1 Senegal atas Swedia di Babak 16 Besar. Atap stadion yang dapat dibuka tutup memungkinkan 43.000 fans menikmati pertandingan dan terhindar dari cuaca buruk. Dome juga menggelar beberapa pertandingan persahabatan dan kompetisi atletic serta acara konser. 

Warna dan Seragam

Warna dasar Trinita adalah biru, hingga 2006 warna mereka termasuk aksen kuning yang dalam beberapa tahun belakangan ini diganti dengan hitam.

Maskot

Niitan, maskot bentuk kura-kura, melambangkan ambisi klub 'pelan tapi pasti' dalam menuju kemenangan. Temputungnya berbentuk seperti sepakbola dan di bagian belakang terdapat gambar peta Prefektur Oita. Dia salah satu maskot terbaru di J-League, pertama kali tampil sebelum musim 2008.

Terkait