thumbnail Halo,

Cerezo ini belum pernah memenangi trofi juara sejak bergabung dengan J-League tetapi mereka dapat membanggakan program akademi mereka yang menelurkan banyak pemain bintang Jepang.

 

Sejarah
Cerezo Osaka adalah klub kedua dari kota metropolis Kansai yang bergabung ke J-League. Sementara Cerezo tidak bisa membanggakan prestise dan koleksi trofi seperti rival sekota Gamba, tim ini tetap memiliki sejarah panjang sejak 1957, termasuk tiga gelar Emperor Cup saat klub masih bernama Yanmar Diesel.

Tidak seperti Gamba, yang kantor utama dan stadionnya terletak di daerah sub-urban, Suita, Cerezo bermarkas di kota Osaka dan suporter mereka dapat berbangga karena menjadi klub ‘Osaka asli’. Dalam beberapa tahun terakhir, klub menciptakan system akademi yang dapat menghasilkan beberapa talenta top Jepang, yang kemudian banyak berkarir di Eropa.

Meski demikian, Cerezo, yang bergabung ke J-League pada 1995, masih berusaha mencari trofi pertama mereka, dan meski mereka hampir mendapatkannya beberapa kali, dan kegagalan mereka bahkan ada yang menjadi legendaris.

Kekalahan legendaris pertama mereka terjadi pada 27 Mei 2000, ketika mereka harus menerima kekalahan di menit injury time ketika menghadapi tim yang saat itu menghuni juru kunci, Kawasaki Frontale. Kekalahan itu membuat Cerezo gagal menjuarai periode pertama kejuaraan dan kehilangan hak untuk bermain di final.

Yang kedua terjadi lima tahun berselang pada 3 Desember 2005. Dalam musim pertama J-League menggunakan format satu musim, lima tim bersaing untuk merebut juara di hari terakhir. Cerezo membutuhkan kemenangan di kandang sendiri untuk bisa merengkuh trofi juara, tetapi gol telat FC Tokyo memaksa pertandingan berakhir imbang 2-2 dan rival sekota Gamba akhirnya berhak untuk mengklaim juara saat itu.

Untuk melengkapi penderitaan suporter, Cerezo kalah tiga kali di final Piala Emperor yaitu pada 1994, 2001 dan 2003.

Klub Sakura tersebut juga mengalami dua kali degradasi pada 2001 dan 2006. Setelah bangkit secara cepat di tahun pertama, mereka bertahan di J2 selama tiga tahun di tahun kedua terdegradasi. Mereka membuat comeback yang istimewa di J1 musim 2010 dengan memperoleh tiket ke Liga Champions Asia untuk musim berikutnya [di mana mereka bertemu Arema Indonesia di babak grup] dan kemudian mereka menjadi generasi baru Cerezo yang disegani di Jepang.

Pemain Top
Tradisi Cerezo menghasilkan striker terbaik Jepang dimulai dengan Hiroaki Morishima, yang menghabiskan 19 tahun karirnya bersama Cerezo dengan caps lebih dari 500 kali di semua ajang. Dia juga istimewa untuk Jepang, Morishima mencetak gol di Piala Konfederasi 2001 dan Piala Dunia 2002. ‘Mr. Cerezo’ adalah julukan Morishima. Ia memiliki nomor punggung delapan yang sudah sangat melekat dengan dirinya, dan pada tahun 2008, di mana ia pensiun, Morishima menyerahkan nomornya tersebut kepada penerusnya, yaitu Shinji Kagawa.

Rekan Morishima, striker Akinori Nishizawa, juga memperkuat klub dan negaranya dengan kebanggaan setelah memperkuat tim selama 15 tahun di J-League, ditambah dengan penampilan bersama timnas Jepang di Piala Dunia 2002 dan juga ikut merasakan atmosfer kasta tertinggi Belanda, Spanyol dan Inggris.

Pemain Cerezo yang paling dikenal oleh suporter di seluruh dunia, tidak lain tidak bukan adalah mantan pemain Borussia Dortmund yang saat ini bermain di Manchester United, Shinji Kagawa. Dia baru berusia 19 tahun ketika diserahi jersey nomor delapan oleh Morishima. Kagawa mencetak 27 gol di J2 musim 2009. Kurang dari satu tahun berikutnya, dia terbang ke Jerman, di mana ia memenangi dua gelar Bundesliga di bawah asuhan Jurgen Klopp.

Kagawa sekarang telah menjadi bintang besar dengan mencapai impian banyak pemain Jepang ketika ia menjadi pemain Jepang pertama yang bermain di Old Trafford, dan membantu Sir Alex Ferguson memenangi trofi Liga Primer Inggris terakhirnya.

Satu tahun kemudian, rekan satu timnya, Takashi Inui mengikuti dia ke Jerman, pertama ia bergabung dengan Bochum dan sekarang ia menjadi pemain Eintracht Frankfurt.

Pada tahun 2012, Hiroshi Kiyotake menjadi pemain nomor delapan terakhir yang masuk ke Bundesliga, ia dengan cepat menyegel posisi reguler di Nurnberg. Tiga Samurai Biru didikan Cerezo ini hampir dipastikan akan memperkuat Jepang di Piala Dunia 2014 nanti.

Stadion


Dibuka untuk Olimpiade Tokyo 1964, Nagai Stadium terus mengalami pengembangan dan direnovasi hingga mencapai kapasitas 50 ribu. Stadion ini menggelar tiga pertandingan Piala Dunia 2002 dan juga digunakan untuk beberapa kompetisi atletik. Nagai juga terkadang dipakai oleh tim nasional Jepang.

Suporter yang mencari pengalaman lebih mendalam dengan sepakbola mungkin lebih memilih Kincho Stadium, yang merupakan stadion khusus untuk sepakbola. Kapasitas saat ini masih sebesarr 20.500 tetapi stadion ini sudah berada dalam tahap pengembangan lagi.

Warna & Jersey

Untuk menyelaraskan dengan mana mereka [Cerezo adalah bahasa Spanyol dari bunga sakura], klub menggunakan warna pink dengan biru laut untuk jersey mereka. Selain itu, motif bunga Sakura juga kerap tampak di jersey klub, mengingat bunga itu bukan hanya symbol dari kota Osaka tetapi juga ikon Jepang.





Maskot

Mempresentasikan keberanian dan ke-elegan-an Cerezo, klub memakai dua serigala dari Spanyol, yaitu Robi dan ibunya, Madame Robina.

Terkait