thumbnail Halo,

Terletak di kaki gunung Fuji, klub Shizouka ini telah menjadi anggota yang memeriahkan J-League sejak musim inagurasi pada tahun 1993.

Sejarah
Shimizu S-Pulse adalah klub pendiri J-League yang unik. Mereka menjadi satu-satunya tim yang didirikan bebas dari pengaruh perusahaan Jepang. Mereka adalah klub yang benar-benar murni berbasis komunitas, yang memiliki visi ideal untuk liga di Jepang.  

Baik tim dan suporter klub sama-sama menyanjung gaya sepakbola Brasil, termasuk ensemble Samba di tribun. Tahun pertama S-Pulse sebagai klub professional hamper sepenuhnya positif, termasuk menjadi juara Nabisco Cup pada 1996.

Tetapi tahun yang paling menyenangkan untuk klub adalah antara tahun 1999 hingga 2002, ketika S-Pulse bersaing dengan klub tetangga, Jubilo Iwata, dan klub tangguh Kashima Antlers dan Yokohama Marinos, yang disebut sebagai salah satu tim terbaik Jepang. Musim 1999 menjadi tahun yang bersejarah, di mana S-Pulse mampu menjuarai periode pertama, namun harus menyerahkan titel juara sejati kepada Jubilo usai mereka kalah dalam laga final melalui babak adu penalti.

Setelah mengakhiri musim 1998 sebagai runner-up dan melaju ke final Emperor Cup tahun 2000, S-Pulse mencatatkan kemenangan bersejarah pada musim 2001, di mana mereka meraih dua gelar Xerox Supercup. Meski jarang merengkuh trofi juara setelah itu, S-Pulse tetap kompetitif di antara klub-klub Jepang lain, dan menjadi salah satu dari empat klub asli [bersama Marinos, Antlers dan Grampus] yang belum pernah terdegradasi.

S-Pulse mencapai empat laga final Piala domestic dalam beberapa tahun terakhir, yaitu final Emperor Cup pada 2005 dan 2010, dan final Nabisco Cup pada 2008 dan 2012, tetapi mereka gagal di setiap laga tersebut. Meski tidak pernah menang, mereka tetap menjadi salah satu klub yang memiliki suporter paling banyak, bermain di stadion yang disebut sebagai paling cantik di Jepang.

Pemain Top
Jika ada ‘Mr S-Pulse’ maka itu hampir pasti adalah Teruyoshi Ito, yang bermain untuk klub dari 1993 hingga 2010 dengan total caps hampir 600 di semua ajang. Gelandang bertahan itu mungkin terkenal di level internasional untuk golnya di Olimpiade Atalanta 1996, yang membawa Jepang menang secara mengejutkan atas Brasil dengan skor 1-0.

Suporter yang mengikuti S-Pulse dalam era emas mereka, tentu akan mengingat Alessandro Santos, yang menjadi pemain asing kedua yang memperkuat Jepang di pentas  internasional. Santos, pindah ke Jepang pada usia 16 tahun, dan menjadi pemain terbaik J-League pada 1999 dan bermain di dua Piala Dunia.

Selama lebih dari satu decade, Ryuzo Morioka menjadi pemain regular di lini belakang S-Pulse dengan caps sebanyak 277 kali. Dia menjadi pemain kunci Jepang saat Samurai Biru memenangkan Piala Asia 2000 dan juga bermain di Piala Konfederasi 2001 dan Piala Dunia 2002.

Alumni terkenal S-Pulse paling mutakhir adalah Shinji Okazaki, yang bermain di sana dari tahun 2005 hingga 2010. Setelah menjalani debut internasional pada 2008, striker berusia 27 tahun itu menarik minat Stuttagart, yang merekrutnya usai Piala Dunia 2010.

Gelandang asal Swedia dan mantan pemain Arsenal Freddie Ljungberg menghabiskan setengah musim di Nihondaira, yang menjadi klub terakhirnya sebelum pensiun pada tahun 2012.

Stadion


Terletak di pegunungan yang bisa melihat pemandangan kota Shimizu, Nihondaira mungkin adalah stadion yang paling cantik di Jepang. Stadion ini menjadi ikon dengan tribun nyaman dengan kapasitas 20 ribu dan dengan pemandangan menakjubkan dari kota di bawahnya dan juga gunung Fuji. Bagaimanapun juga, akses yang terbatas membuat klub ingin membuat stadion yang lebih dekat dengan transportasi massal.

Stadion multi-fungsi Ecopa, dibangun untuk Piala Dunia 2002, dipakai untuk kandang alternatif S-Pulse untuk pertandingan-pertandingan besar seperti Shizouka Derby menghadapi Jublio Iwata.

Warna & Jersey

Seperti Sanfrecce Hiroshima, S-Pulse awalnya mengenakan warna biru sebagai warna utama, tetapi mereka akhirnya menggantinya menjadi oranye untuk menyeimbangkan pemakaian warna di liga. Klub Shizouka ini tampaknya menjadi tren, dengan Albirex Niigata dan Omiya Ardija juga menggunakan warna oranye setelah itu.

Japan Airlines telah menjadi sponsor jersey klub dari tahun 1992 hingga 2005, menginspirasi  jersey ikonik dengan motif peta dunia. Peta dunia itu akhirnya hilang dari jersey S-Pulse pada tahun 2007, tetapi kembali lagi pada tahun 2012 untuk merayakan ulang tahun klub ke-20.


Maskot

Didesain oleh kartunis Amerika Guy Gilchrist, Nama Pal-chan datang dari bahasa Inggris, yaitu ‘pal’ yang berarti teman, untuk mempresentasikan hubungan suporter dan klub, juga dengan kata ‘pul’ dari S-Pulse. Dia ditemani oleh dua saudarinya, yang sama-sama bernama Copal-chan dan pacarnya Pikaru-chan.

Terkait