thumbnail Halo,

Salah satu klub terkuat di J-League di dekade kedua, Frontale terus menampilkan permainan menyerang yang atraktif dan tetap menjadi pesaing juara.

Sejarah
Berasal dari divisi sepakbola Fujitsu, yang ditemukan pada 1955, Kawasaki Frontale menjadi klub independen pada tahun 1997 saat mereka mengikuti Japan Football League (JFA). Setelah menempati posisi kedua pada 1998, mereka diterima oleh J-League untuk berpartisipasi di divisi kedua yang baru digelar.

Tidak memiliki klub profesional semenjang hengkangnya Verdy ke Tokyo, kota Kawasaki menyambut pendatang baru, Frontale, sebagai satu-satunya klub profesional di area itu.

Tetapi jalan mereka ke J1 sangat terjal, setelah memenangi inagurasi J2 musim 1999, Frontale kemudian terdegradasi pada tahun 2000 dengan mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah liga. Selama empat tahun di J2, suporter mereka terus berkembang dan bahkan mereka mampu menembus semi-final Emperor Cup.

Mengukir rekor pada tahun 2004 membawa Frontale kembali ke J1, dengan 105 poin dan 104 gol dari 44 pertandingan. Sejak 2005, tim Kawasaki menjadi langganan menempati posisi papan atas di liga.

Dipimpin oleh striker ganas asal Brasil, Juninho, dan pemain lokal Kengo Nakamura, klub ini terus berkembang tahun demi tahun, tetapi sayangnya mereka menjadi terkenal karena sering menjadi nomor dua.

Setelah kalah di final Nabisco League Cup tahun 2000, Frontale mampu menjadi nomor dua lagi sebanyak lima kali pada periode 2006 hingga 2009: tiga kali di J-League (2006,2008 dan 2009), dan dua kali di final Nabisco Cup pada 2007 dan 2009.

Meski tidak banyak trofi juara di tahun-tahun tersebut, Frontale dapat disebut memainkan sepakbola terbaik di Jepang, meraih hati banyak suporter, dan membuat klub mereka sebagai klub papan atas di Jepang dan juga di Asia, melalui seringnya mereka lolos ke Liga Champions Asia [di mana bertemu dengan Arema di babak grup]. Rivalitas dengan FC Tokyo, yang dikenal sebagai Tamagawa Classico, untuk menghormati sungai yang memisahkan Kawasaki dan Tokyo, yang saat itu terjadi di era JFL, disebut-sebut sebagai salah satu pertandingan Jepang yang paling panas.

Pemain Top
Bintang asing Frontale pertama adalah pemain muda asal Brasil, Tuto, yang mencetak 27 gol pada tahun 1998 dan 1999, dan membantu klub meraih promosi ke J2 ke J1.

Tetapi pemain asal Brasil yang paling terkenal di sana, tentu saja, Juninho, yang mencetak 214 gol dalam 355 penampilannya bersama klub. Ia juga berhasil menjadi top skor J2 pada tahun 2004 dengan 37 gol danjuga memenangkan sepatu emas J1 pada tahun 2007.

Datang dari kepulauan Okinawa, penyerang Kazuki Ganaha menjadi pemain asal Okinawa pertama yang bermain untuk tim nasional Jepang dan bermain lebih dari 240 kali untuk Frontale. Dia telah kembali ke klub kampong halamannya, FC Ryukyu, yang berusaha mendapatkan pengakuan untuk mengikuti J3.

Selain Juninho, Frontale juga diperkuat oleh salah satu striker terbaik Korea Utara Jong Tae-se. Disebut sebagai ‘the People’s Rooney’, pemain yang berasal dari Nagoya itu bermain di Todoraki Stadium selama empat setengah musim sebelum penampilannya di Piala Dunia 2010 membuat klub Jerman, Bochum, memboyongnya.

Rekan satu tim Tae-se, Eiji Kawashima juga tampil impresif di Afrika Selatan, menjadi salah satu pemain reguler kejutan di bawah asuhan pelatih Takeshi Okada dan membantu Samurai Biru menembus babak 16 besar. Salah satu dari sedikit kipper asal Jepang yang bisa memperkuat klub luar negeri, Eiji bergabung dengan klub Belgia, Lierse pada tahun 2010 dan sekarang bermain untuk Standard Liege.

Stadion


Todoroki Athletics Stadium memiliki sejarah panjang menjadi markas klub-klub J-League di masa lalu, termasuk Verdy Kawasaki [sekarang Tokyo Verdy] dan Toshiba FC [sekarang Consadole Sapporo]. Dibuka pada tahun 1962 dan dikembangkan pada tahun 1995, stadion ini menjalani proyek pemugaran yang besar, yang membuat tribun utama diganti dengan bangunan sementara. Tribun utama yang baru diperkirakan akan selesai pada musim 2015, termasuk ukuran yang jauh lebih besar dan sebuah mall di luar stadion.


Warna & Jersey

Warna turquoise dan hitam Frontale terinspirasi dari warna klub Brasil, Gremio, yang menjalin kerjasama bisnis pada tahun 1997.



Maskot

Fronta, lumba-lumba sungai, mempresentasikan lokasi Kawasaki yang terletak di pesisir, kecepatan para pemain Frontale dan hubungan akrab antara klub dan suporter tim.

Terkait