thumbnail Halo,

Wakil Tohoku tersebut membentuk hubungan dekat dengan suporter usai bencana pada Maret 2011, menginspirasi fans di seluruh dunia.

Sejarah
Salah satu klub yang terlambat masuk ke dalam sepakbola Jepang, Vegalta Sendai didirikan pada tahun 1988 dengan nama Tohoku Electric Power sebelum berubah nama menjadi Brummel Sendai pada 1994, tahun di mana mereka masuk ke Japanese Football League (JFL). Nama ketika di J-League, adalah pemadatan dari kata ‘Vega’ dan ‘Altair’, terinspirasi dari festival bintang di Jepang.

Mereka akhirnya promosi ke J-League pada tahun 1999, di mana mereka bergabung ke divisi dua J2 yang baru digelar. Tetapi setelah satu tahun berada di kasta tertinggi pada 2002, Vegalta menjadi ‘anggota tetap’ J2 hingga 2009, di mana mereka akhirnya kembali meraih promosi.

Di bawah asuhan pelatih Makoto Teguramori dan di atas lapangan dipimpin oleh pemain Korea kelahiran Jepang, Ryang Yong-gi, Vegalta kemudian menjadi salah satu kekuatan baru J-League, dengan menempati posisi empat pada musim 2011, yang juga ditandai dengan tragedi.

Vegalta bermarkas di Yurtec Stadium yang mengalami kerusakan parah pada tanggal 11 Maret 2011 karena gempa bumi, dan banyak suporter mereka meninggal karena terkena tsunami. Vegalta menjadi katalis untuk harapan setelah beberapa bulan usai bencana alam, dan komunitas J-League ikut bersatu memberi dukungan.

Suporter Sendai mendapatkan popularitas di Jepang karena chants dengan ‘gaya rock n roll’ mereka, dan mereka melakukan perjalanan dengan jumlah yang sangat besar, karena mereka harus menjalani banyak laga tandang, akibat rusaknya Yurtec Stadium dan untuk sementara Vegalta memakai Miyagi Stadium sebagai kandang.

Setelah gagal menembus tiga besar di 2011, Vegalta menjalani musim 2012 dengan jauh lebih kuat dan menempati posisi terbaik sepanjang sejarah klub, yaitu posisi runner-up, sekaligus mendapatkan tiket ke Liga Champions Asia 2013. Meski tersingkir di babak grup, itu adalah pencapaian yang sangat bagus untuk klub yang beberapa musim lalu bermain di divisi dua.


Pemain Top
Striker asal Brasil, Marcos, menghabiskan empat musim bersama Vegalta, mencetak 24 gol pada 2001 dan membantu timnya meraih promosi ke J1 untuk pertama kalinya.

Sebelum hengkang ke Sanfrecce Hiroshima, Hisato Sato menunjukkan potensinya di Vegalta dengan mencetak 20 gol pada tahun 2004 di J2. Pada 2003, dia bermain bersama Hajime Moriyasu, yang kemudian menjadi pelatihnya di Sanfrecce.

Meskipun dia bermain tidak mencolok untuk Vegalta pada musim 2003, Shigeyoshi Mochizuki cukup dicintai oleh suporter Jepang karena mencetak gol kemenangan di final Piala Asia 2000 menghadapi Arab Saudi.

Selama dua musim, Velgalta [yang saat itu bernama Brummell] mendapatkan legenda Koln dan Jerman Barat, Pierre Littbarski di skuat mereka. Gelandang sayap, yang fasih berbahasa Jepang, itu kembali ke Jepang pada tahun 2006 untuk melatih Avispa Fukuoka.

Stadion


Yurtec Stadium Sendai yang nyaman menamping 20 ribu fans untuk melihat aksi di atas lapangan, dengan alunan melodi lagu klub, Take Me Home, Country Roads menggema di seluruh tribun. Stadion ini bias diakses dengan menggunakan kereta api dan menjadi basis tim nasional Italia saat Piala Dunia 2002.

Ketika Vegalta membutuhkan stadion yang lebih besar mereka memakai Miyagi Stadium, yang berada di luar kota Rifu. Stadion ini menggelar tiga pertandingan di Piala Dunia 2002 dan memiliki kapasitas lebih dari 49 ribu, tetapi suporter harus menggunakan bus atau mobil karena tidak ada kereta api yang ke sana.


Warna & Jersey

Vegalta menggunakan warna emas dan biru sebagai warna klub dan lebih dari satu decade, jersey mereka memiliki motif bintang yang mempresentasikan Vega dan Altair.


Maskot

Vegatta, elang emas dengan tinggi dua meter, selalu menghibur suporter di laga Vegalta sejak 1999. Inspirasi maskot itu dating dari rasi bintang Aquilla, yang berarti elang dalam bahasa Latin.

 

Terkait