thumbnail Halo,

Di bagian terakhir ini kita akan membahas soal kompetisi J-League dalam beberapa tahun terakhir, termasuk ketatnya persaingan di J1 sebagaimana perluasan kompetisi di Jepang.


GOALOLEH   CESARE POLENGHI     PENYUSUN   ADHE MAKAYASA    

Tahun-tahun dari 2007 hingga sekarang adalah fase final dalam pematangan sepakbola Jepang, dan hal tersebut merupakan konsolidasi dari J-League. Sejak 2004, jumlah penonton terbilang stabil, dengan J1 rata-rata disaksikan oleh 18.000 hingga 19.000 suporter, dan 6.000 hingga 7.000 untuk J2. Sebuah angka yang bahkan mengalahkan beberapa liga di Eropa.

Kashima Antlers, yang sempat dihuni Zico selama tiga musim semi pada pertengahan 90-an, mengontrak Oswaldo Oliviera sebagai pelatih kepala. Pria Brasil itu sukses menghadirkan tiga gelar J-League dari 2007 hingga 2009 (sebuah rekor), dan melanjutkan seri kejayaan dengan memenangi Piala Emperor pada 2010 dan sebuah Piala Liga Yamazaki Nabisco pada 2011. Tim itu kemudian dilatih lagi oleh sosok Brasil lainnya, Jorginho, yang sukses mempertahankan gelar Piala Liga pada 2012. Antlers sendiri untuk saat ini merupakan klub dengan gelar terbanyak di Jepang, dengan total 20 piala.

Namun, ada banyak cerita lagi yang hadir dalam beberapa tahun terakhir. Tengoklah Nagoya Grampus pada 2010 dan Sanfrecce Hiroshima pada 2012 yang memenangi trofi J-League untuk pertama kalinya dengan dibimbing mantan pemainnya: Dragan Stojkovic dan Hajime Moriyasu.

Mungkin, apa yang terjadi di 2011 terbilang lebih menarik, saat tim promosi Kashiwa Reysol, yang ditukangi oleh juru taktik asal Brasil, Nelsinho, sukses memenangkan trofi J-League tepat setahun setelah mereka promosi dari J2 - sebuah peristiwa langka di sepakbola.

Di akhir musim tersebut, Reysol mewakili Jepang di Piala Dunia Antarklub, yang di mana mereka sukses merebut posisi empat besar setelah bertarung di babak semi-final melawan tim Brasil Santos. Saat itu, tim asuhan Nelsinho memberikan perlawanan nyata kepada Neymar Jr. dan rekan-rekannya.

Namun, dimensi internasional yang baru dicapai oleh sepakbola Jepang lebih baik jika dinyatakan dalam jumlah pemain yang dibesarkan di J-League dan dipekerjakan oleh klub-klub Eropa. Pada 2013, sekitar 30 pemain Jepang tinggal di benua tua, dengan sosok seperti Shinji Kagawa, Keisuke Honda dan Yuto Nagatamo semuanya sukses meraih gelar juara bersama klubnya masing-masing dan menjadi figur populer di dunia.

Pada 2010, Jepang memainkan Piala Dunia keempatnya secara beruntun di Afrika Selatan, dengan dipimpin lagi oleh Takeshi Okada, dan tampil secara positif. Mereka tersisih setelah kalah dalam adu tendangan penalti melawan Paraguay di babak 16 besar. Hasil tersebut membuktikan bahwa mereka lebih baik ketimbang kekuatan sepakbola seperti Italia dan Prancis yang tersingkir di babak penyisihan grup.

Selain sosok Honda, pemain yang menarik perhatian pemerhati sepakbola internasional di turnamen ini adalah Yuji Nakazawa dan Marcus Tulio Tanaka. Keduanya lahir dan dibesarkan oleh J-League, berposisi sebagai bek tengah, dan membantu lini belakang Jepang dengan hanya kebobolan dua gol dalam empat laga.



Setahun berselang, tepatnya pada 2011, Jepang dihantam oleh bencana alam paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir, yakni ketika gempa dan tsunami meluluhlantakkan area di sebelah utara negara itu pada 11 Maret.

Sepakbola lantas menjadi katalis untuk solidaritas, sebagaimana di seluruh penjuru negeri saling memberi support untuk membantu daerah yang membutuhkan bantuan. Pada 29 Maret, tim nasionalnya, yang dipimpin oleh manajer asal Italia Alberto Zaccheroni, berkumpul lagi di Osaka untuk menghadapi pemain all-star dari J-League yang kemudian diberi nama "Team as One". Partai malam itu dihiasi dengan sebuah gol dari pemain veteran Kazu Miura, yang saat itu berusia 44 tahun, yang lantas menandai rangkaian panjang acara solidaritas yang berlanjut hingga hari ini.

Terbentuknya persahabatan di kalangan suporter merupakan karakteristik yang meliputi J-League sejak hari-hari awal, dan meskipun para pendukung tersebut dipisahkan dalam ultras, mirip dengan mereka yang di Eropa, namun segala bentuk kekeresan hampir tidak pernah terdengar, dan mereka akan membulatkan suara untuk mengutuknya.

Keterlibatan klub dengan komunitas mereka telah membantu untuk menciptakan suasana yang sangat ramah di stadion. Bahkan, lebih dari 40 persen penonton di J-League saat ini adalah perempuan, dan sangat umum untuk mendapati anak-anak dan orang tua di tribun yang ingin menikmati pertandingan dengan keluarga mereka.

Di atas lapangan, sebagaimana pemain-pemain top hijrah menuju Eropa, mereka lantas digantikan oleh bibit baru dari sistem akademi klub, dengan sepakbola Jepang yang terus mengalami perkembangan baik secara taktik dan teknik.

Musim 2013 ini diisi dengan 18 klub yang bermain di J1 dan 22 di J2, dan mereka akan kedatangan 12 klub lainnya pada 2014 ketika mereka membuka divisi tiga (J3) yang pada akhirnya akan membuat klub profesional di Jepang ada 52.

Pertumbuhan sepakbola Jepang sebelumnya sudah direncanakan dengan matang dengan membuat program terencana yang oleh J-League disebut “Visi Ratusan Tahun” yang bertujuan untuk mempromosikan sepakbola dalam rangka menciptakan “Sebuah Negara Bahagia Melalui Olahraga.”

Prestasi yang telah digapai oleh sepakbola Jepang dalam 20 tahun terakhir terbilang mengesankan. Dan atas keberhasilan tersebut, diharapkan akan ada lebih banyak orang lagi di dunia yang akan menikmati J-League sebagaimana yang telah dilakukan jutaan fans di Jepang.

Gabunglah bersama Goal Indonesia di media sosial:
Facebook goal.indonesia
Facebook goal.indonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Twitter @GOAL_ID
Twitter @GOAL_ID

Terkait