thumbnail Halo,

Di bagian keempat rangkaian sejarah J-League, Goal menggambarkan kemenangan Gamba Osaka dan Urawa Reds di Benua Kuning serta awal mula karier pemain Jepang di Eropa.


GOALOLEH   CESARE POLENGHI     PENYUSUN   DEWI AGRENIAWATI 

Memasuki abad baru, sepakbola Jepang mulai mengalami fenomena yang puncaknya dapat dilihat sekarang ini: emigrasi konsisten dari bakat-bakat terbaik Jepang ke Eropa.

Diawali oleh sang pemberani Kazu Miura yang mengadu nasib ke Italia bersama Genoa pada 1994, jejaknya kemudian diikuti oleh beberapa pemain lainnya. Sayang, kariernya tak berjalan mulus. Sampai akhirnya muncul lah nama Hidetoshi Nakata ke Perugia pada 1998, mulai saat itu sepakbola Jepang mulai dipandang serius di Benua Lama.

Butuh usaha kolektif selama sepuluh tahun, tapi "Hide" akhirnya mencuri perhatian dengan sepasang gol ke gawang Juventus ketika berseragam AS Roma, sekaligus membuka jalan buat pemain lain yang ingin mengikuti jejaknya. Shinji Ono (di Feyenoord dari 2001)
, Naohiro Takahara (Boca Juniors mulai 2001), Junichi Inamoto (Arsenal mulai 2001), Shunsuke Nakamura (Reggina mulai 2002), dan banyak pemain lainnya, yang mendapat label "generasi emas" setelah sukses menyabet medali perak di Piala Dunia U-20 1999, mencoba peruntungan di luar negeri.

Karier Nakata di Eropa naik turun, sampai akhirnya dia memutuskan menyudahi petualangannya pada 2006, saat usianya belum 30 tahun. Tapi, dia pulang dengan kepala tegak, membawa Scudetto bersama Roma dan Coppa Italia yang dilklaimnya ketika berseragam Parma.

Kembali ke Jepang. Pada 2003 dan 2004 kompetisi didominasi oleh satu klub: Yokohama F. Marinos ("F" ditambahkan sebagai penghormatan kepada Fluegels). Diarsiteki Takeshi Okada, yang membawa Jepang di Piala Dunia 1998, The Sailors memenangkan gelar format "dua babak" pada 2003 dan secara dramatis menang di final 2004 atas Urawa Reds, setelah serangkaian ketidakberuntungan di kompetisi.

Berbasis di Saitama, kawasan utara Tokyo, Reds menjadi klub pertama yang mampu mengumpulkan banyak suporter. Dengan stadion berkapasitas 60 ribu kursi, yang dibangun untuk menggelar debut Jepang di Piala Dunia 2002, klub memiliki jajaran pemain kelas atas Jerman (Uwe Bein, Guido Buchwald, Michael Rummenigge, dll) yang memenangkan Emperor Cup pada 2005, trofi pertama mereka.

Rival utama mereka adalah klub pinggiran kota, Gamba, yang terletak sekitar 7 km di luar sungai Yudo di pinggiran utara Osaka. Persaingan antara kedua klub ini disebabkan banyaknya pertandingan kenangan yang dimulai pada 2005. Setelah saling sikut, masing-masing tim akhirnya mencatat kemenangan perdana mereka, gelar yang amat bersejarah: Gamba merengkuhnya pada 2005, sementara Reds akhirnya menyabet titel pertama di J-League di tahun berikutnya.

Melihat tahun-tahun yang menyenangkan tersebut, ada insiden yang paling mengejutkan yang terjadi di hari terakhir musim 2005. Pada 3 Desember, lima tim melangkah ke lapangan dengan kesempatan menyabet gelar: selain Reds, ada JEF United, Antlers, dan dua klub Osaka, dengan Cerezo mengoleksi poin lebih banyak dibandingkan yang lain dan menjadi satu-satunya tim yang menentukan nasib mereka.

Tim kuda hitam tampak di atas angin, karena mereka masih unggul 2-1 dari FC Tokyo di menit ke-90, tapi gol telat yang dicetak Yasuyuki Konno melempar mereka hingga ke peringkat lima klasemen dengan perbedaan selisih gol. Sang rival sekota, Gamba Osaka, yang menang 4-2 di Kawasaki Frontale akhirnya keluar sebagai juara. Trofi juara yang sudah dikeluarkan dari kotaknya di Stadion Nagai, karena sebelumnya hampir diberikan kepada Cerezo, dengan cepat dikirim ke markas Gamba.

Gamba dan Reds merupakan klub pertama setelah Antlers pada 1996 yang memenangkan J-League dengan format satu babak ketika liga kembali ke format tersebut pada 2005, setelah pada 2003 mereka mengadopsi sistem standar internasional: pertandingan 90 menit, tiga poin untuk tim pemenang, satu untuk hasil imbang, dan nol untuk kalah.




Dua klub yang sama juga menjadi yang pertama memenangkan Liga Champions Asia dalam format baru: Reds dan ribuan suporter setia sukses menggulingkan wakil Iran Sepahan pada 2007, sementara Gamba menyabetnya di 2008, setelah mengeliminasi Reds di semi-final. Situasi tersebut menjadi bukti era keemasan buat klub-klub Jepang di Asia. 

Sukses di turnamen Benua Kuning memberikan kesempatan kepada Gamba dan Reds berjumpa dua raksasa sepakbola Eropa di ajang Piala Dunia Antarklub: Reds menyerah dari AC Milan pada 2007, lalu Gamba dicukur 5-3 oleg Manchester United pada 2008, dua hasil terhormat untuk wakil Asia.

Mengapa terhormat? Karena terlepas dari kekalahan tersebut, dua pertandingan yang diperjuangkan habis-habisan oleh tim Jepang, membantu menaikkan pandangan dunia terhadap J-League, meski kampanye kurang memuaskan disuguhkan timnas di Jerman 2006.

Tapi, faktor paling penting mungkin adalah, meski akhirnya meninggalkan format dua babak, jumlah penonton terus meningkat, karena hampir semua perebutan gelar harus ditentukan hingga hari-hari terakhir musim kompetisi.

Sejak 2005, J1 tumbuh menjadi 18 klub, sama dengan jumlah sebagian besar liga top Eropa, sementara J2 masih terus berkembang, dengan melibatkan 12 klub pada 2001 dan 13 di 2006.

Sejak 2004 sampai 2008, satu tempat promosi dari J2 ke J1 diperebutkan melalui laga play-off kandang dan tandang yang dimainkan antara tim yang finis ketiga dari posisi buncit J1 dan ketiga di J2. Pertandingan yang disebut "Irekae-sen" ini menyuguhkan sejumlah musim drmatis dan penampilan bersejarah, termasuk kemenangan Ventforet Kofu atas Kashiwa Reysol dengan skor 6-2 pada 2005, di mana pemain asal Brasil, Bare, mencetak enam gol sekaligus, "double hat-trick".

Irekaesen berhenti setelah musim 2008, tapi sejak 2012 peringkat ketiga untuk promosi ditentukan melalui play-off antara mereka yang finis peringkat tiga dan enam di J2.


Gabunglah bersama Goal Indonesia di media sosial:
Facebook goal.indonesia
Facebook goal.indonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Twitter @GOAL_ID
Twitter @GOAL_ID

Terkait