thumbnail Halo,

Bagian ketiga ini berkisah tentang perjuangan tim-tim J-League di akhir 1990-an, kebangkitan Kashima Antlers & Jubilo Iwata, serta kejatuhan Yokohama Flugels.


GOALOLEH   CESARE POLENGHI     PENYUSUN   SANDY MARIATNA    

Periode 1996 hingga 2002 bisa dikatakan sebagai masa-masa sulit J-League. Dalam kurun waktu tersebut sampai dimulainya Piala Dunia 2002, J-League mengalami kemerosotan seperti keadaan ekonomi Jepang pada waktu itu.

Di tahun 1996 itu, J-League kedatangan dua klub dari area Kansai, yakni Cerezo Osaka (yang sudah promosi pada tahun 1995) dan Kyoto Purple Sanga. Tahun tersebut juga menandakan hadirnya klub yang bukan berasal dari pulau utama Jepang (Pulau Honshu) untuk pertama kali, yakni Avispa Fukuoka yang berasal dari utara Pulau Kyushu. Dengan komposisi 16 tim, tiap klub J-League kini melakoni bisa melakoni 30 pertandingan per musimnya untuk menyamai jumlah laga di kebanyakan liga-liga Eropa. Namun sebenarnya, bencana baru saja datang.

Dengan keadaaan ekonomi Negeri Sakura yang karut-marut, sepakbola tampaknya sama sekali tidak diperhitungkan. Rata-rata kehadiran penonton di stadion hanya sebesar 13.353 penonton per laga. Beberapa pemain bintang, seperti Pierre Littbarski (yang tampil di Japan Football League/JFL, liga divisi dua yang masih semi-profesional) dan Gary Lineker sudah pergi, termasuk Zico yang juga memutuskan pensiun.

Setelah di tiga tahun awal mencatat rekor kehadiran penonton (tahun 1995 mencapai 6,5 juta penonton), tiba-tiba antusiasme itu merosot tajam di tahun 1997 (kurang dari 3,5 juta penonton). Meski demikian, pada saat-saat ini lahirlah fans hardcore, yakni sekumpulan suporter yang mengikuti tim kesayangannya berlaga kandang-tandang, mendukungnya dengan spanduk dan bendera warna-warni, dan tentunya nyanyian 90 menit tanpa henti.

Tahun 1997, format liga kembali berubah menjadi dua ronde per musimnya (juara liga ditentukan lewat partai final antara pemenang ronde pertama vs pemenang ronde kedua). Format pertandingan pun juga berubah: pemenang dalam 90 menit pertama mendapat tiga poin, Gol pada perpanjangan waktu (V-goal) dihitung dua poin, sementara menang lewat adu penalti hanya dihitung satu poin.

Kashima Antlers muncul sebagai juara liga untuk pertama kali pada tahun 1996. Klub lain yang mendominasi pada era tersebut adalah Jubilo Iwata. Dominasi kedua klub ini benar-benar absolut. Tujuh musim selama kurun waktu 1996-2002, Antlers mengemas empat kali juara liga dan Jubilo meraih tiga tersisa. Selama 12 ronde yang dimainkan pada 1997 dan 2002, Antlers memenangi empat sedangkan Jubilo enam kali. Dalam tahun terakhir supremasi mereka, yakni pada tahun 2002, Iwata menjadi tim pertama yang memenangi kedua ronde, sehingga tak perlu J-League tak perlu mengadakan final untuk memastikan peraih gelar juara.

Beberapa pemain terkenal muncul dalam periode ini. Ada Dunga (Jubilo Iwata) yang tekenal karena memperkenalkan konsep "malicia" - sebuah kata dari bahasa Portugis - ke kamus Jepang. Pria Brasil ini sering masuk headline berita karena ketahuan "menghina" rekan setimnya sendiri selama pertandingan. Dunga tak pernah ragu untuk mengkritik youngster semacam Naohiro Takahara, dan juga tak terintimidasi oleh pahlawan lokal Jubilo, Hiroshi Nanami, Toshiya Fujita, ataupun sang striker legendaris Masashi "Gon" Nakayama.



Jika Jubilo Iwata punya Dunga, maka Kashima Antlers punya Leonardo, meski pada akhirnya ia meninggalkan Jepang pada akhir 1996. Leonardo, yang juga pemain Brasil, merupakan pemain berkelas yang tampil mengesankan dan cerdik. Ia termasuk dalam sedikit pemain dari luar J-League yang mau mempelajari bahasa Jepang.

Kehadiran duo Brasil di J-League itu tidak akan lengkap tanpa kehadiran Dragan Stojkovic. Gelandang serang asal Yugoslavia ini sempat membela Nagoya Grampus pada 1994 hingga 2001 dan disenangi fans karena permainan sepakbolanya yang sangat halus. Pixy, julukannya, adalah seorang playmaker yang sangat bertalenta. Stojkovic juga sempat membuat geram wasit Jepang dengan kelakuannya. Salah satunya adalah saat ia merebut kartu kuning dari wasit dan menodongkan balik kartu tersebut ke sang pengadil lapangan. Ia pun langsung diusir sang wasit.

Kembali ke persaingan Jubilo dan Antlers. Persaingan dua kuda pacuan itu mencapai puncaknya pada tahun 1999 dan 2000. Jubilo menjadi tim pertama Jepang yang memenangi Liga Champions Asia pada 1999. Sedangkan Antlers mencatatkan treble satu tahun setelahnya: memenangi liga, menjuarai Yamazaki Nabisco League Cup, dan merebut Emperor Cup.

Dua perkembangan besar terjadi pada struktur dan regulasi J-League, yakni pada tahun 1999. Pertama, adu penalti ditiadakan. Kedua, tim yang telah bertarung selama 120 menit akan diberikan masing-masing satu poin. Namun, perubahan yang sesungguhnya terjadi pada tahun itu juga, yakni diperkenalkannya J2, divisi dua, yang diikuti 10 tim. Perubahan ini membuat aktifnya sistem promosi dan degradasi.

Sejalan dengan kemerosotan ekonomi Jepang, ada pula klub yang ikut jatuh. Pada tahun 1998, Yokohama Flugels yang merupakan klub pelopor J-League, mengalami kebangkrutan. Mereka juga mengumumkan telah merger dengan rival sekota, Yokohama Marinos.

Di musim terakhirnya, ketika takdir buruk sudah dipastikan, Flugels menjadi tim kejutan di Emperor Cup. Tim yang dipimpin oleh pelatih asal Jerman Gert Engels ini melaju hingga babak final. Dukungan publik dan komuntas Jepang selalu mengalir kepada para pemain Fluegels. Mereka akhirnya berhasil mengalahkan Shimizu S-Pulse di final di mana laga tersebut dinobatkan sebagai partai paling dramatis dalam sejarah sepakbola Jepang.  

Klub yang bubar itu lalu dibentuk kembali oleh sekumpulan suporter dan diganti namanya menjadi Yokohama FC. Mereka masuk lewat JFL, yang merupakan divisi ketiga, lalu promosi ke J2 pada 2001. Keyakinan kuat dari para mantan suporter Fuluegels itu telah mengindikasikan ada passion dari publik Jepang akan sepakbola.

Segalanya berpuncak pada tahun 2002, tahun di mana Jepang dan Korea Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia. Timnas Jepang yang dipimpin oleh Philippe Troussier sanggup lolos ke babak 16 besar namun langkah mereka dihentikan oleh Turki, yang menjadi juara ketiga dalam turnamen itu. Meski demikian, penampilan tersebut sanggup mengobati kekecewaan Jepang di PD 1998, di mana tim Samurai Biru yang dilatih Takashi Okada bertarung dengan baik namun kalah di tiga pertandingan grup.

Pada 2002, J-League mampu mengasuh total 28 klub, hampir tiga kali lipat dari jumlah awal pada musim pembuka 10 tahu silam. Jumlah penonton kembali seperti dahulu setelah dampak positif dari Piala Dunia. J-League pun telah memasuki masa-masa optimisme tinggi setelah 10 tahun berdiri.


Gabunglah bersama Goal Indonesia di media sosial:
Facebook goal.indonesia
Facebook goal.indonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Twitter @GOAL_ID
Twitter @GOAL_ID

Terkait