thumbnail Halo,

GOAL.com Asia menganalisa data 20 tahun untuk menentukan siapa yang sesungguhnya juara diantara klub-klub Jepang.


ANALISIS   CESARE POLENGHI     PENYUSUN   DONNY AFRONI    

15 Mei 2013 menandakan peringatan ulang tahun ke-20 J-League yang pertama kali digelar di Stadion National, Tokyo. Penggemar sepakbola di Jepang merayakan perubahan di kompetisi profesional negeri tersebut, tapi hanya sedikit yang berani menilai performa masing-masing klub secara keseluruhan.

Kolom ini akan mencoba untuk menentukan klub mana yang telah memperlihatkan performa lebih baik di dua dekade awal liga, berdasarkan lima prinsip dasar: jumlah suporter, raihan gelar juara, performa lima tahun terakhir, kontribusi ke tim nasional di Piala Dunia, dan para pemain yang merumput di liga-liga Eropa.

Tujuan akhir dari ini semua adalah mencari jawaban dari pertanyaan sederhan: Klub mana yang merupakan terbaik di Jepang dalam 20 tahun pertama J-League?

JUMLAH SUPORTER

Klub teratas terkait berkaitan dengan jumlah suporter tidak perlu diragukan lagi milik Urawa Reds. Fans mereka tidak hanya fantastis dalam jumlah, mereka juga bergairah, loyal, dan vokal. Sudah lebih dari enam tahun berlalu sejak Reds mengangkat trofi, namun mereka tetap mendapat dukungan langsung lebih dari 40 ribu penonton di tribun Stadion Saitama setiap akhir pekan. Ini menempatkan Urawa di liga yang sama dengan klub-klub papan atas Eropa, dan jelas memperlihatkan potensi budaya suporter Jepang.

Klub berbasis di Saitama ini juga mempunyai pengikut di dunia maya; dalam hal traffic, jumlah pengunjung laman resmi Reds hanya tertinggal di belakang Gamba Osaka setiap bulannya. Juara Asia 2007 ini juga sukses membangun jaringan di sosial media, terdepan diantara klub-klub J-League di Facebook (lebih dari 18 ribu fans), dan tertinggal dari satu klub (FC Tokyo) di Twitter yang hampir mempunyai 30 ribu followers.

GELAR JUARA

Ketika berbicara gelar juara secara keseluruhan, klub-klub Jepang belum bisa menyamai Kashima Antlers. Klub Ibaraki tersebut sejauh ini sudah mengoleksi 21 trofi (tujuh gelar J-League, lima Piala Jepang, lima Piala Xerox, dan empat Piala Emperor); artinya rata-rata lebih dari satu setiap tahunnya!

Jubilo Iwata dan Tokyo Verdy (sebelumnya Verdy Kawasaki) menempati peringkat kedua dengan torehan masing-masing sepuluh trofi, diikuti Reds dan Gamba yang mengoleksi enam.

Dua tim terakhir memegang perbedaan, karena menjadi satu-satunya klub Jepang yang meraih gelar di Liga Champions Asia, masing-masing pada 2007 dan 2008. Jubilo dimahkotai raja benua kuning pada 1999, ketika kompetisi masih dikenal sebagai kejuaraan klub Asia.

PERFORMA LIMA TAHUN TERAKHIR

Dari enam klub Jepang yang pernah mendapatkan trofi, dua diantaranya (Verdy dan Gamba) sekarang bermain di divisi dua. Sebagai fans sepakbola yang hidup di masa sekarang, dan trofi masa lalu hanya memegang nilai relatif, kita juga harus mempertimbangkan kinerja terakhir sebagai faktor kunci. Hal ini sebaiknya dievaluasi dalam siklus lima tahun, kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk sekelompok pemain menjadi matang, dan untuk sebuah tim membangun identitas yang jelas.

Jika kita mengkalkulasi jumlah poin yang diperoleh klub-klub J1 antara 2008 dan 2012, akhirnya kita mendapatkan Nagoya Grampus dengan total 304 poin. Tempat kedua diduduki Antlers dengan nilai 285, serta Gamba berada di posisi ketiga, sekalipun mereka terdegradasi tahun lalu.

KONTRIBUSI KE TIM NASIONAL DI PIALA DUNIA

Sedikitnya 91 pemain Jepang telah dipanggil untuk tampil di Piala Dunia sejak 1998, dan 13 diantaranya berasal dari Antlers. Jubilo menyumbangkan sepuluh pemain, sedangkan Marinos delapan pemain, serta masing-masing S-Pulse dan Grampus yang memberikan tujuh pemain.

Antlers, Jubilo, Marinos, dan Grampus merupakan empat klub yang menyumbangkan para pemainnya ke empat Piala Dunia yang diikuti Jepang.

PEMAIN DI MANCANEGARA

Penilaian terakhir yang patut kita pertimbangkan adalah jumlah para pemain yang bergabung dengan sejumlah klub di liga bergengsi di Eropa. Antlers, Marinos, Reds, dan Gamba mempunyai enam pemain yang bermain di klub-klub divisi utama, atau kedua, di negara-negara dengan liga papan atas.

KESIMPULAN

Sepakbola bukan ilmu pasti, dan data yang disajikan di sini tidak berarti konklusif. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi sebuah bidikan dari kejayaan J-League selama 20 tahun.

Tapi ketika segala sesuatunya dipertimbangkan, sepertinya Kashima Antlers telah berjaya selama dua dekade pertama ini. Mereka telah mengoleksi 21 trofi di lemarinya, mengirimkan 13 pemain ke empat Piala Dunia, melahirkan pemain kelas Eropa, dan tetap menjadi tim paling konsisten.

Klub ini hanya minim gelar turnamen besar; sebuah misi yang belum terpenuhi, dan seharusnya membawa mereka lebih baik di tahun-tahun mendatang. J-League tentunya sudah mempunyai target sendiri, mengingat mereka menatap 20 tahun berikutnya.

Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!


GOAL.com hadir via ponsel di alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi GOAL.com secara langsung untuk OS ponsel Anda:


Terkait