thumbnail Halo,

Hitung mundur GOAL.com 50 berlanjut dengan winger asal Cili yang direkrut Barcelona berkat penampilan sensasionalnya bersama Udinese musim lalu.

Selamat datang di GOAL.com 50! Dalam edisi spesial ini, para editor GOAL.com di seluruh dunia memilih 50 pemain terbaik 2010/11. Hingga diumumkannya sang pemenang pada 21 Agustus, kami melakukan hitung mundur dengan memuat profil setiap pemain yang menembus 50 besar...

Kesediaan Barcelona merogoh kocek sedalam €37,5 juta untuk membeli Alexis Sanchez di musim panas ini rasanya bisa menjadi indikator kuat bahwa winger asal Cili itu adalah salah satu pesepakbola terbaik dunia musim lalu. Kecepatan laksana cahaya, tusukan berani, dan kepercayaan diri tinggi Sanchez di mulut gawang berperan vital dalam membantu Udinese menembus kompetisi impian, Liga Champions. 

Namun, seperti kebanyakan personel Udinese lainnya, Sanchez termasuk salah satu pemain yang kesulitan untuk menyuguhkan performa maksimal di awal musim, di mana Le Zebrette tumbang di empat laga pembuka. Menyusul hasil negatif tersebut, Sanchez bahkan harus rela dicadangkan pada tiga pertandingan beruntun seturut niat Francesco Guidolin mencari formula yang tepat untuk mengembalikan tim asuhannya ke jalur kemenangan.

Keadaan itu tak berlangsung lama. Sanchez dengan cepat kembali mematenkan tempat di starting XI dan menampilkan permainan yang jauh lebih baik seiring langkah I Friulani merangkak naik di klasemen Serie A.

"Saya sudah cukup lama mengenalnya [Sanchez]. Dia pemain hebat dan akan menjadi perekrutan luar biasa bagi kami karena bisa menambah kualitas tim."

- Lionel Messi

Dengan pengaruh sang speedster yang kian membesar dalam tim, I Bianconeri sukses mendongkrak posisi hingga ke tangga kedelapan mendekati pergantian tahun, meski Sanchez hanya mengemas sebiji gol dalam periode ini, kontra Lazio di partai pamungkas jelang liburan Natal. Torehan pada laga di Olimpico yang berakhir dengan kekalahan Udinese 3-2 itu sontak membuat keran gol Sanchez mengucur deras yang sekaligus mengatrol Udinese menuju zona empat besar.
MOMEN TERBAIK 2010/11

SERIE A
PALERMO 0-7 UDINESE
Gelontoran empat gol, termasuk double-stepover sebelum melewati kiper, mengantar Udinese membukukan kemenangan terbesar di Serie A musim lalu. Sanchez bahkan diganti pada menit ke-52 untuk mengurangi tekanan bagi tuan rumah!

Ia menambah catatan golnya di tiga gim pertama tahun 2011 kala menghadapi Chievo, AC Milan, dan Genoa. Permainan mengilap Sanchez itu tak pelak mengundang perhatian dari klub-klub besar. Scout Barcelona pun pertama kali terlihat memantau langsung Sanchez dalam kemenangan 4-2 atas Genoa tersebut.

Pemuda kelahiran Tocopilla, Cili, itu lantas mengamankan tiga angka bagi Udinese di markas Juventus dengan gol penentu yang dilesakkannya lima menit jelang bubar, meski tak lama kemudian ia harus menerima kartu kuning kedua dalam laga tersebut.

Begitu kembali dari suspensi dua pekan berselang, Sanchez langsung merobek gawang Sampdoria di Stadio Friuli. Dengan melesatnya Sanchez sebagai figur kunci dalam skema menyerang yang diusung Udinese, media di Italia yakin bahwa suatu saat klub top Eropa bakal membayar tinggi demi tanda tangannya.

Puncak tertinggi penampilan Sanchez -- dan juga Udinese -- terjadi di Renzo Barbera pada giornata 27. Tuan rumah Palermo sungguh tak beruntung di hari itu. Mereka menjadi korban keganasan Sanchez yang menggelontorkan quat-trick! Dengan gol keempat lelaki 22 tahun itu memberikan keunggulan telak 6-0 di menit ke-49, Udinese pun melepas pedal gas (meski akhirnya menambah satu gol lagi lewat penalti Antonio Di Natale), salah satunya dengan menarik Sanchez beberapa menit kemudian. Highlight paling mencolok pada laga itu adalah ketika Sanchez melakukan double-stepover sebelum melewati Salvatore Sirigu untuk menceploskan gol keduanya.

Sumbangan satu gol kontra Cagliari di partai away berikutnya -- Udinese kembali menang besar 4-0 -- menutup koleksi gol Sanchez musim lalu. Sempat dibelit cedera, Sanchez akhirnya kembali ambil bagian di sisa kompetisi, memberi kontribusi krusial berupa kiriman assist dalam kemenangan atas Lazio sebelum membantu menahan Milan di pekan pamungkas untuk mengunci tiket ke Liga Champions.

"Dengan melesatnya Sanchez sebagai figur kunci dalam skema menyerang yang diusung Udinese, media di Italia yakin bahwa suatu saat klub top Eropa bakal membayar tinggi demi tangannya."

Ketika Sanchez terbang ke Argentina untuk berkiprah di Copa America bersama tim nasional Cili, terkuaklah negosiasi kepindahannya ke Barcelona. Sekalipun demikian, Sanchez mampu menjaga fokus di lapangan. Ia menjaringkan gol penyama kedudukan melawan Uruguay, yang akhirnya keluar sebagai juara, di fase grup. La Roja melenggang dari Grup C dengan status tak terkalahkan sebelum terdepak oleh Venezuela di perempat-final.

Sesuai dugaan, Sanchez akhirnya merampungkan transfer ke Camp Nou begitu kembali ke Eropa. Kans berlaga bersama kampiun bertahan Liga Champions itu seakan menjadi reward yang pantas setelah performa menawan yang dipersembahkannya di kampanye lalu.


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait