thumbnail Halo,

Playmaker timnas Jerman yang bermain gemilang di musim pertamanya bersama Real Madrid ini meneruskan hitung mundur GOAL.com 50.

Selamat datang di GOAL.com 50! Dalam edisi spesial ini, para editor GOAL.com di seluruh dunia memilih 50 pemain terbaik 2010/11. Hingga diumumkannya sang pemenang pada 21 Agustus, kami melakukan hitung mundur dengan memuat profil setiap pemain yang menembus 50 besar...

Perkembangan sepakbola di era modern menggerus beberapa sektor yang dahulu begitu lekat dalam permainan olah kulit bundar, salah satunya adalah posisi nomor sepuluh. Di masa lampau, seorang playmaker biasanya mendapat keleluasaan dari pelatihnya untuk 'memamerkan' skill di lapangan.

Namun, sejak diciptakannya bola ultraringan, aset terpenting bagi pemain di pos tersebut, yaitu umpan terobosan, jarang lagi terlihat. Pasalnya, kebanyakan pemain jadi sulit mengukur umpan terobosannya secara konsisten. Tapi kasus tersebut tak berlaku bagi Mesut Ozil.

Tatkala berlabuh ke Real Madrid musim panas lalu, Ozil yang masih berumur 21 tahun diprediksi hanya akan menjadi pelapis Kaka. Tapi, akrabnya Kaka dengan cedera ditambah penurunan performa yang dialaminya memberikan kans lebih bagi Ozil untuk menunjukkan sinarnya, dan ia pun tak menyia-nyiakannya.

Pada tahun pertama di Madrid, anggota timnas Jerman itu mengafirmasi kelas yang diperlihatkannya di Piala Dunia 2010 dan berhasil mendongkrak permainannya ke level yang lebih tinggi. Berkat performa gemilangnya tersebut, eks pilar Werder Bremen itu mengamankan jersey nomor sepuluh Madrid musim ini, sebuah tribut terhadap perkembangannya dan simbol penghargaan untuknya di ibu kota Spanyol.

"Ozil bisa menjadi sentral permainan Real Madrid hingga dekade berikutnya. Zidane adalah legenda sejati, dan mungkin terlalu dini untuk membuat perbandingan, tapi Ozil memiliki segala yang dibutuhkan untuk menjadi bintang dunia yang sesungguhnya."

-
Emilio Butragueno

Yang paling kentara dari karakteristik Ozil adalah kapabiltasnya dalam mengatur serangan. Di area ini, dia adalah yang terbaik. Tak seorang pemain pun yang membukukan assist lebih banyak darinya di Liga Champions musim lalu. Di Primera Liga Spanyol, ia hanya kalah dari Lionel Messi. Catatan tersebut amat impresif mengingat pemuda kelahiran Gelsenkirchen itu jarang diturunkan selama 90 menit penuh. Cristiano Ronaldo akan selalu diingat dengan 53 golnya, tapi Ozil adalah tangan kanannya. Ia menjadi kreator 12 gol CR7.

MOMEN TERBAIK 2010/11

COPA DEL REY
SEVILLA 2-6 REAL MADRID
Ozil memimpin penyerangan Real dengan amat meyakinkan, ia mengirim tiga assist dan mendikte permainan di sepanjang laga. Di akhir musim, timnya sukses menggondol Copa.
Sebagai bagian dari kultur tempatnya tumbuh di Jerman, Ozil lebih mengedepankan efektivitas ketimbang gaya. Sekalipun begitu, permainannya tetap tampak elegan.

Dia bukan tipe yang suka melakukan selusin step-over sebelum melewati bek lawan dalam situasi satu lawan satu, melainkan lebih cenderung mendistribusikan bola lewat cara yang sederhana namun terlihat anggun.

Ozil benar-benar seorang pesepakbola yang efisien. Ia selalu mengambil keputusan tepat, baik itu saat bergerak ataupun mendistribusikan bola guna membangun serangan, dan jika telah menemukan timing yang tepat, ia akan melancarkan umpan maut yang memanjakan striker mana pun.

Seperti halnya bagi sebagian besar pemain Jerman dan Real Madrid, musim yang akan datang juga krusial bagi Ozil yang berambisi mengambil langkah lebih jauh dalam kariernya. Ozil memang sukses mengantar Real menggapai titel Copa del Rey di musim perdananya, tapi ia wajib menyuguhkan performa yang lebih baik lagi di kampanye depan demi mengesahkan tempatnya di antara pemain-pemain elite dunia.

Bersama Ronaldo, Ozil diharapkan dapat memimpin Madrid menuju gelar La Liga pertama dalam empat tahun terakhir serta mengakhiri dahaga trofi Liga Champions yang telah berlangsung selama hampir satu dekade. Di atas itu semua, pada akhirnya Ozil pun harus siap memikul beban sebagai tumpuan utama Jerman untuk merengkuh titel perdana sejak 1996.

"Dia bukan tipe yang suka melakukan selusin step-over sebelum melewati bek lawan dalam situasi satu lawan satu, melainkan lebih cenderung mendistribusikan bola lewat cara yang sederhana namun terlihat anggun."

Performa Ozil telah memunculkan komparasi dengan Zinedine Zidane, tapi perbedaan paling nyata di antara keduanya adalah dalam koleksi trofi. Namun, dengan usia yang masih 22 tahun, ia masih punya banyak kesempatan memenangkan trofi internasional pertama di umur yang lebih dini dibanding legenda Prancis itu. Dengan dukungan rekan-rekan setim baik di klub maupun timnas, musim cerah tampaknya terbentang di hadapan. Kini semua tergantung pada Ozil sendiri untuk menapakinya.


Ikuti GOAL.com Indonesia di
twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Mobile GOAL.com
Untuk keterangan lebih lanjut mengenai akses GOAL.com via ponsel,
termasuk cara mengunduh aplikasinya, klik di sini.

Terkait