thumbnail Halo,

Kartu as Liverpool yang memberikan kontribusi vital dalam perjalanan Uruguay menggapai titel Copa America ini meneruskan daftar pemain terbaik kami.

Selamat datang di GOAL.com 50! Dalam edisi spesial ini, para editor GOAL.com di seluruh dunia memilih 50 pemain terbaik 2010/11. Hingga diumumkannya sang pemenang pada 21 Agustus, kami melakukan hitung mundur dengan memuat profil setiap pemain yang menembus 50 besar...

Kendati Luis Suarez merupakan salah satu bomber tersubur di musim 2009/10 dengan 35 gol dari 33 laga Eredivisie, namanya belum benar-benar menarik perhatian hingga pergelaran Piala Dunia 2010. Setelah itu, rasanya hanya segelintir penggemar sepakbola yang tak ngeh dengan keberadaan anggota timnas Uruguay itu usai handball kontroversialnya kala menghadapi Ghana serta tiga gol yang diukirnya di turnamen terakbar sejagat itu.

Ada harga yang harus dibayar Suarez atas kesuksesannya melaju sampai semi-final bersama negaranya di Afrika Selatan. Ia jadi tak memiliki waktu istirahat yang memadai jelang kampanye 2010/11. Tapi, Suarez enggan mengeluh, bahkan melakoni start cemerlang dengan menyumbang gol bagi Ajax kala melawan PAOK di kualifikasi Liga Champions. Namun hanya beberapa hari berselang ia menghiasi headline dengan pemberitaan negatif. Suarez diusir keluar di menit ke-42 ketika Ajax menelan kekalahan dari Twente di ajang Johan Cruyff Schaal.

"Dia pemain impian bagi seorang gelandang. Begitu Anda melihatnya menampilkan pergerakan hebat, saat itu pula dia memberikan sebuah opsi untuk Anda."

-
Steven Gerrard

Imbasnya, Suarez terkena suspensi di pekan pembuka Eredivise, tapi ia tetap bermain mengesankan di Liga Champions dengan kembali masuk papan skor kontra PAOK juga melesakkan sebiji gol ke gawang Dinamo Kiev yang mengantar Ajax lolos ke fase grup. Eks bintang Groningen itu seakan kembali berlari menuju performa terbaiknya hanya sebulan setelah memasuki musim baru. Suarez mengemas enam gol dari tiga pertandingan antara 21 Agustus dan 11 September.

MOMEN TERBAIK 2010/11

 COPA AMERICA:
URUGUAY 3-0 PARAGUAY
Usai membawa Uruguay ke final Copa America dengan sepasang gol ke gawang Peru di empat besar, Suarez kembali tampil menawan dan membuka keunggulan timnya versus Paraguay di menit ke-12 yang sekaligus memuluskan langkah menuju tangga juara.
Sayang, segalanya memburuk dengan seketika bagi striker flamboyan itu tatkala Ajax bermain imbang dengan tamunya, PSV, pada November. Suarez menggigit bahu Otman Bakkal dalam sebuah percekcokan jelang laga berakhir dan dijatuhi skorsing berupa larangan bermain di tujuh pertandingan domestik oleh Federasi Sepakbola Belanda.

Gim Liga Champions versus AC Milan tiga pekan kemudian ternyata menjadi pertandingan terakhirnya bersama Ajax. Liverpool rela merogoh kocek lumayan dalam guna meminangnya di jendela transfer Januari dan mengajaknya berkiprah di Liga Primer.

Tanpa perlu menunggu lama, Suarez segera menghasilkan impak positif di klub barunya dan mencetak gol di partai debut melawan Stoke City untuk memenangkan hati fans. Highlight terbaiknya dalam balutan seragam Liverpool sejauh ini datang sebulan setelahnya. Kala itu, lelaki 24 tahun ini terlibat dalam proses terjadinya semua gol Liverpool dalam kemenangan 3-1 atas Manchester United.

Selanjutnya, Suarez tak pernah melepas pedal gas dan terus tampil impresif yang berujung pada kembalinya Liverpool ke persaingan zona Eropa. Akan tetapi, gol-golnya melawan Sunderland, Newcastle United, dan Fulham rupanya tak cukup untuk membantu The Reds finis di lima besar lantaran mereka ditekuk Tottenham Hotspur di partai kandang terakhir nan krusial.

"Kartu as Liverpool ini akan melanjutkan terornya terhadap bek-bek lawan dengan kecepatan, trik, determinasi, dan penyelesaian mematikan, yang membuatnya memiliki segala atribut yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu bintang Liga Primer paling terang."

Bagaimanapun, momen terbaik buat Suarez baru muncul setelah berakhirnya Liga Primer 2010/11. Ia mencapai klimaks di Copa America yang digelar di Argentina. Sang tuan rumah bersama Brasil dipandang oleh banyak kalangan sebagai favorit terdepan juara turnamen antarnegara Amerika Selatan itu, tapi Uruguay membuktikan diri sebagai yang terkuat berkat kontribusi vital kartu as Liverpool itu.

Suarez membukukan satu gol di fase grup, lalu menunaikan tugas sebagai salah satu algojo dengan sempurna dalam drama adu penalti kontra Argentina di perempat-final sebelum mengantar Uruguay ke partai puncak lewat sepasang golnya ke gawang Peru di semi-final.

Dianggap sebagai bintang utama yang perlu disorot, performa Suarez di final pun sama sekali tak mengecewakan. Ia membuka keunggulan timnya serta mengobrak-abrik pertahanan Paraguay sepanjang pertandingan, termasuk mengkreasikan gol kedua Diego Forlan di menit-menit akhir yang memastikan kemenangan Uruguay 3-0. Tak mengherankan jika ia lantas terpilih sebagai Pemain Terbaik Turnamen berkat sederet permainan memukaunya.

Liverpool tak keberatan memberikan istirahat lebih bagi Suarez untuk kembali mencapai kebugaran penuh usai Copa America. Dan setelah menjalani break tambahan tersebut, yang memang pantas didapatkannya sebelum kampanye 2011/12, sang bomber akan melanjutkan terornya terhadap bek-bek lawan dengan kecepatan, trik, determinasi, dan penyelesaian mematikan. Tak diragukan lagi bahwa Suarez memiliki segala atribut yang dibutuhkan untuk menjadi salah satu bintang Liga Primer paling terang pada musim penuh pertamanya di Inggris.


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait