thumbnail Halo,

Hitung mundur GOAL.com berlanjut dengan bek tangguh yang menjaga kestabilan lini belakang Barcelona di tengah absennya Carles Puyol.

Selamat datang di GOAL.com 50! Dalam edisi spesial ini, para editor GOAL.com di seluruh dunia memilih 50 pemain terbaik 2010/11. Hingga diumumkannya sang pemenang pada 21 Agustus, kami melakukan hitung mundur dengan memuat profil setiap pemain yang menembus 50 besar...

Jika meninjau karier Gerard Pique yang masih tergolong singkat, sulit untuk tak merasa kagum dan bahkan mungkin iri terhadap pencapaiannya yang sudah menggondol tiga titel La Liga, dua kali mengangkat trofi Liga Champions dengan menjungkalkan bekas klubnya, Manchester United, di final, merengkuh kejayaan di Piala Dunia 2010, dan... well, mendapatkan hati Shakira. Di usia 24 tahun, Pique telah meraih segalanya di sepakbola, dan yang terpenting adalah kemajuan pesat dalam performanya serta rasa lapar untuk meraih sukses lebih.

"Gerard Pique memiliki karier gemilang di hadapannya. Dia merengkuh gelar juara bersama Spanyol & Barcelona. Itu kemajuan yang amat menakjubkan."

- Franz Beckenbauer

Dari banyak aspek, kampanye 2010/11 menjadi simbol pengabsahan sejati ketangguhan sang stopper. Setelah menghabiskan sebagian besar waktunya sejak kembali ke Spanyol pada 2008 dengan bahu-membahu bersama Carles Puyol baik di level domestik maupun internasional, terpaan cedera yang menimpa sang kapten di paruh akhir musim lalu memaksa Pique berdampingan dengan pengganti temporer, praktis membuatnya seperti sendirian mengawal garis pertahanan.

MOMEN TERBAIK 2010/11

 LA LIGA:
VILLARREAL 0-1 BARCELONA
Dalam laga kunci dalam perburuan titel, Pique membantu membendung serangan dari kubu tuan rumah sebelum menuntaskan sebuah peluang di dalam kotak penalti untuk memberikan raksasa Catalan tiga poin berharga.
Para pengkritik Pique menyebut ia cenderung ceroboh dan seringkali terlalu bergantung pada ketenangan Puyol yang membantunya dengan pengalaman lebih dalam situasi sulit.

Namun, dengan absennya Puyol yang berpotensi mengacaukan keseimbangan lini belakang Barca, dan kurangnya alternatif yang tersedia, Pique harus membuktikan ia memiliki keteguhan mental demi kesuksesan klubnya. Fakta bahwa timnya menutup musim dengan raihan gelar La Liga dan Liga Champions pun menjadi bukti sahih bahwa Pique telah menapak level performa yang lebih tinggi.

Berduet dengan bek dadakan, Sergio Busquets atau Javier Mascherano, Pique menjadi organisator dan sukses menjawab tantangan yang mungkin sulit diatasi pemain yang paling berpengalaman sekalipun.

Rangkaian laga panas el clasico musim lalu bukan untuk mereka yang bernyali kecil, tapi Real Madrid, selain keberhasilan mereka di Copa del Rey, harus menelan kekecewaan dari sang seteru abadi, dan kemajuan performa Pique memainkan peran signifikan dalam membendung kengototan tim Jose Mourinho.

Di Liga Champions pun demikian, peran Pique sebagai pemain belakang yang rajin membawa bola kian mengonfirmasi julukan 'Piquenbauer' yang telah diperoleh sejak awal kariernya. Dalam sebuah tim di mana seorang kiper, Victor Valdes, pun harus benar-benar fasih mengontrol bola, Pique menambah kekokohan dalam gaya flamboyannya sekaligus menjadikannya pemain yang lebih komplet.

"Berduet dengan bek dadakan, Busquets atau Javier Mascherano, Pique menjadi organisator dan sukses menjawab tantangan yang mungkin sulit diatasi pemain yang paling berpengalaman sekalipun."

Lantas, apa lagi yang diinginkan oleh pemain yang telah memenangkan segalanya? Motivasi untuk kian meninggikan standar yang telah ditetapkannya bersama rekan-rekan setim -- standar emas sepakbola modern. Dengan musim berat yang kembali terbentang di hadapan mata, tak tampak tanda penurunan pada hasrat kuat Pique -- bagi Barca, bagi Spanyol, dan bagi dirinya sendiri, determinasinya untuk menjaga kesempurnaan tetap kuat seperti sebelumnya.


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait