thumbnail Halo,

Hitung mundur kami berlanjut dengan pemuda kelahiran Ludenscheid yang kepiawaiannya di lini tengah mengantar Borussia Dortmund menyambar titel Deustcher Meister musim lalu.

Selamat datang di GOAL.com 50! Dalam edisi spesial ini, para editor GOAL.com di seluruh dunia memilih 50 pemain terbaik 2010/11. Hingga diumumkannya sang pemenang pada 21 Agustus, kami melakukan hitung mundur dengan memuat profil setiap pemain yang menembus 50 besar...

"Saya membebankan target-target sulit untuk diri sendiri," ujar Nuri Sahin dengan optimisme tinggi pada Juli tahun lalu kepada Kicker. "Dan dalam kasus ini, itu berarti saya ingin menjadi yang terbaik." Saat ditanya apakah dia mampu bersaing dengan gelandang Bayern Munich, Bastian Schweinsteiger dan Mark van Bommel, dia menjawab, "Level saya dekat dengan mereka."

Saat melontarkan komentar tersebut, Sahin berstatus starter di Borussia Dortmund yang masih lekat sebagai penghuni papan tengah dan pemain pengganti di skuad timnas Turki. Walau ia terus berkembang sejak melakukan debut di usia 16 tahun pada 2005, pemuda kelahiran Ludenscheid ini mengakhiri kampanye 2009/10 dengan prestasi jauh di belakang Schweinsteiger, yang nyaris mengemas treble bersama klubnya dan menjadi bintang di Piala Dunia bareng Jerman.

"Dalam beberapa musim ke depan, Nuri Sahin akan menjadi salah satu gelandang terbaik di seantero Eropa."

-
Paul Breitner

Banyak yang mencibir komentarnya yang terkesan angkuh itu, tapi pada akhirnya Sahin menjustifikasi kepercayaan dirinya. Sepanjang perjalanan 2010/11, punggawa Dortmund itu tak hanya mengangkangi Schweinsteiger dalam dua kesempatan, tapi juga melejit sebagai pemain terbaik Bundesliga. Seperti klubnya, gelandang Turki ini dipandang sebelah mata saat menjejak awal musim, tapi mengakhirinya sebagai juara.

MOMEN TERBAIK 2010/11

 BUNDESLIGA:
BAYERN MUNICH 1-3 DORTMUND
Untuk kali kedua musim lalu, Sahin mengungguli Schweinsteiger, kali ini mengambil tempat di Munich. Dia sukses mendikte tempo, ciamik di kedua ujung lapangan, dan yang teristimewa adalah gol brilian yang dilesakkan dari jarak jauh untuk memberikan keunggulan bagi BVB.
Diplot sebagai gelandang sentral, Sahin adalah kepingan paling krusial dalam taktik yang diusung Jurgen Klopp. Peran pembagi bola dipercayakan pada Sahin, yang menyuguhkan kontrol dan distribusi istimewa. Ia juga memiliki skill mumpuni dalam duel perebutan bola dan kreativitas tiada tara dalam menyerang.

Berkembang semakin matang hanya dalam hitungan minggu, Sahin mengemban tanggung jawab sebagai konduktor orkestra BVB. Dengan kepemimpinannya, Dortmund sanggup melambung sebagai pemuncak klasemen Bundesliga dan tak tergeser hingga akhir musim.

Dari segi atribut, Sahin pantas dikomparasikan dengan Xavi dan Cesc Fabregas. Olah bola yang sempurna serta possession play yang ciamik -- tahu kapan harus mengoper dan kapan mendribel, bahkan ketika dikerubuti lawan -- adalah kemampuannya yang paling mencolok. Jika dilihat dari gaya permainannya, Sahin tampak seperti alumnus cantera Barcelona.

Bagaimanapun, Sahin amat berbeda dengan rekan-rekan sejawatnya asal Spanyol bila ditilik dari cara ia dilatih. Di Dortmund, Klopp awalnya mematok Sahin muda di pos ideal versinya, gelandang bertahan yang mengalirkan bola. Musim lalu, pemain 22 tahun itu mendapat peran anyar dalam aspek taktik, dan jauh lebih bebas menjelajah lapangan. Gagasan Klopp sederhana saja: pemain dengan skill seperti Sahin seharusnya senantiasa dekat dengan bola, baik itu di area penyerangan maupun pertahanan, di sisi lapangan ataupun di tengah.

Dengan talentanya yang diarahkan sangat spesifik, Sahin pun merekah. Di akhir musim, ia tak cuma menarik perhatian dari bos Turki, Guus Hiddink, tapi juga arsitek Real Madrid, Jose Mourinho. Malang bagi Dortmund, mereka membuat kesalahan fatal dalam menegosiasikan kontrak terkininya, mencantumkan klausul pelepasan di angka €10 juta. Mourinho pun langsung menyambar kans untuk mendatangkan Sahin ke ibu kota Spanyol, dan sang pemain melengkapi kepindahannya di bulan Mei.

"Dari segi atribut, Sahin pantas dikomparasikan dengan Xavi dan Cesc Fabregas... Jika dilihat dari gaya permainannya, dia tampak seperti alumnus cantera Barcelona."

Di Madrid, Sahin bergabung dengan rekan-rekannya sesama kelahiran Jerman, Mesut Ozil dan Sami Khedira. Ia menghadapi banyak kompetitor di lini tengah, tapi itu tak bakal membuatnya gentar. Dalam 12 bulan terakhir, Sahin melonjak dari level medioker ke kelompok elite.

Kini, di bawah bimbingan salah satu pelatih terbaik sepanjang sejarah sepakbola, Sahin pun menatap lompatan berikut dalam kariernya. Target musim lalu adalah Schweinsteiger. Musim ini, bisa jadi ia membidik puncak tertinggi.


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait