thumbnail Halo,

Penyerang Kamerun yang tampil tajam bersama Inter musim lalu ini melanjutkan hitung-mundur daftar terbaik GOAL.com.

Selamat datang di GOAL.com 50! Dalam edisi spesial ini, para editor GOAL.com di seluruh dunia memilih 50 pemain terbaik 2010/11. Hingga diumumkannya sang pemenang pada 21 Agustus, kami melakukan hitung mundur dengan memuat profil setiap pemain yang menembus 50 besar...

Samuel Eto'o membangun kariernya dengan menghasilkan performa memukau di laga-laga besar, dan tren itu berlanjut di kampanye lalu saat ia menjadi bintang utama bagi Inter, menggelontorkan lima gol di tiga partai final.

Usai meraih treble historis di bawah asuhan Jose Mourinho pada 2009/10, raksasa Italia itu gagal memenuhi ekspektasi dengan pergantian tongkat kepelatihan ke Rafael Benitez kemudian Leonardo.

Meski begitu, bisa dibilang Eto'o adalah satu-satunya pemain di kubu Inter yang performanya meningkat dibanding edisi sebelumnya. Ini sekaligus menjelaskan kenapa lelaki 30 tahun itu bisa melonjak 15 peringkat dalam daftar GOAL.com 50.

Menapak awal musim, Eto'o langsung menempatkan diri di trek yang tepat. Ia melesakkan sepasang gol guna mengantar Inter menaklukkan Roma 3-1 di Supercoppa Italiana, trofi pertama mereka musim lalu.

Selama periode singkat kepemimpinan Benitez yang banyak diwarnai kesulitan, Eto'o seringkali membantu bos tim asal Spanyol itu mencatat hasil bagus. Dwigol sensasionalnya membawa I Nerazzurri melakukan comeback dan memenangkan laga tandang melawan Palermo di Serie A.

Eto'o juga memberikan sumbangsih identik di fase grup Liga Champions: membukukan hat-trick dalam kemenangan 4-0 atas Werder Bremen dan mengemas dua gol lagi saat Inter menundukkan Tottenham Hotspur 4-3.

Torehan mantan bintang Barcelona itu juga menentukan raihan poin klubnya kontra Udinese, Cagliari, Brescia, Samporia, dan Twente di paruh pertama musim. Peran penting Eto'o dalam mendongkrak pencapaian timnya pun tak terbantahkan: Eto'o mengantar Inter mengukir hasil positif menjadi hal yang jamak musim lalu. Benitez tampak amat bersandar pada ketajaman sang bomber di lini depan.

"Saya pikir pemain-pemain lainnya tak akan tersinggung bila saya mengatakan bahwa Eto'o adalah protagonis utama kami musim lalu. Dia memiliki etos kerja yang begitu tinggi, dan tanpanya kami seperti Barcelona tanpa Messi."

- Presiden Inter, Massimo Moratti

Akhir tahun 2010 ditandai dengan silverware tambahan bagi Inter, dengan Eto'o masuk papan skor di final Piala Dunia Antarklub yang diselenggarakan di Uni Emirat Arab dalam kemenangan 3-0 atas wakil Afrika, TP Mazembe.

Dengan perbaikan yang hadir setelah eks arsitek AC Milan, Leonardo, menggusur tempat Benitez, posisi Eto'o sebagai bintang terdepan tetap tak tergantikan. Dua gol menghadapi Genoa di Coppa Italia disusul dengan torehan serupa versus Bologna dan satu gol kontra Cesena di Serie A -- ukiran lima gol sang frontman hanya dalam tempo tujuh hari ini mengangkat peringkat Inter di klasemen guna menantang rival sekota mereka dalam pengejaran titel juga memperbesar kans mengklaim piala domestik.

MOMEN TERBAIK 2010/11

 FINAL COPPA ITALIA:
INTER 3-1 PALERMO
Banyak sekali laga yang bisa dijadikan highlight dari performa Eto'o pada 2010/11, tapi dua penyelesaian apik menghadapi Palermo memberi ending manis di musim yang mengecewakan bagi Inter.
Dalam serentetan permainan apik yang dipersembahkannya, Eto'o juga sukses menunjukkan salah satu performa terbaik sepanjang kariernya dalam salah satu laga terseru di kancah Eropa.

Tertinggal 1-0 secara agregat setelah ditumbangkan Bayern Munich di San Siro, pria Kamerun ini hanya membutuhkan empat menit untuk menyeimbangkan kedudukan di Allianz Arena.

Tim elite Bundesliga itu lantas membalas dua kali, tapi Eto'o mengirim sepasang assist di paruh kedua, termasuk untuk gol kemenangan Goran Pandev yang membawa Inter melaju berkat keunggulan gol away.

Malang, Inter pada akhirnya harus terjungkal setelah secara mengejutkan dipermalukan Schalke dengan agregat 7-3 di babak perempat-final.

Namun demikian, Inter tetap mampu bangkit dari keterpurukan untuk finis sebagai runner-up di Serie A, meski itu juga menandai berakhirnya dominasi mereka selama lima tahun di liga, serta merengkuh trofi Coppa Italia. Mudah ditebak, Eto'o sekali lagi bersinar di momen vital dengan menyumbangkan dwigol di partai puncak versus Palermo dan menambah satu titel lagi dalam deretan koleksi pialanya.

Secara overall, Eto'o menorehkan rekor baru dalam kariernya dengan 37 gol dalam semusim, tipis melampaui statistik terbaik sebelumnya yang dibukukan di Camp Nou pada 2008/09 (36 gol). Catatan gol luar biasa ini juga ditambah dengan kontribusi 15 assist di semua kompetisi musim lalu.

"Peran penting Eto'o dalam mendongkrak pencapaian timnya tak terbantahkan. Eto'o mengantar Inter mengukir hasil positif menjadi hal yang jamak musim lalu."

Kesuburan Eto'o di kampanye lalu kian mengonfirmasi fakta yang sebenarnya sudah diketahui publik: Eto'o adalah salah satu striker terbaik di dunia yang diberkahi dengan kecepatan kaki dan kemampuan melesakkan gol serta mengkreasikan peluang. Dia merepresentasikan sesuatu yang hanya dimiliki segelintir bomber lainnya: konsistensi. Bagi publik, yang jadi pertanyaan hanyalah kapan Eto'o akan mencetak gol, bukan mampu atau tidaknya.


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait