thumbnail Halo,

Hitung mundur GOAL.com 50 dilanjutkan dengan centre-back asal Brasil yang berkembang pesat bersama Milan musim lalu.

Selamat datang di GOAL.com 50! Dalam edisi spesial ini, para editor GOAL.com di seluruh dunia memilih 50 pemain terbaik 2010/11. Hingga diumumkannya sang pemenang pada 21 Agustus, kami melakukan hitung mundur dengan memuat profil setiap pemain yang menembus 50 besar...

Usai melewati 12 bulan pertama yang amat impresif sebagai personel AC Milan, 2010/11 merupakan musim ketika Thiago Silva benar-benar menyemen namanya sebagai salah satu defender paling top di dunia.

Dominasi di garis pertahanan diperlihatkan sang Brasileiro secara konsisten menjadi fondasi kesuksesan kubu San Siro merengkuh titel. Milan hanya menelan tujuh gol di paruh kedua Serie A musim lalu.

"Dia pantas disebut centre-back terkuat di dunia. Musim lalu ia mendemonstrasikan banyak hal luar biasa, tapi musim ini dia telah berkembang, melangkah menuju kematangan, dan di setiap pertandingan menunjukkan  bahwa dirinya adalah seorang 'monster'."
- Massimiliano Allegri

Gagal mematenkan tempat di starting line-up tim nasional Brasil yang berkiprah hingga perempat-final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Thiago Silva menebusnya dengan tampil bagus di Milan. Ia mengawali musim dengan melesakkan gol kedua klubnya dalam kemenangan 4-0 atas Lecce di laga pembuka liga.
MOMEN TERBAIK 2010/11

SERIE A
AC MILAN 3-0 INTER
Dengan titel sebagai taruhan, kerja keras Silva yang dominan di lini defensif menjadi basis solid bagi I Rossoneri untuk meraup kemenangan atas sang rival sekota.

Menyusul kekalahan 2-0 di markas Cesena pekan berikutnya, Silva lantas membukukan rekor fenomenal. Dengan kehadirannya di lapangan, I Rossoneri hanya menderita sekali kekalahan lagi (tandang ke Palermo pada Maret) dan kebobolan lebih dari sebiji gol pada satu laga (imbang 4-4 versus Udinese di bulan Januari) di kelanjutan kampanye liga.

Tapi, statistik tersebut tak cukup untuk merepresentasikan keberhasilan eks bintang Fluminense itu mendongkrak permainannya ke level yang lebih tinggi.

Dengan Alessandro Nesta, duet regulernya, mulai menunjukkan sinyal penurunan lantaran dimakan usia, dan partner lain seperti Daniele Bonera serta Mario Yepes tak mampu mengimbangi kualitasnya, dapat dikatakan bahwa Silva seringkali mengkover tugas dua orang bek.

Daya antisipasinya yang istimewa, akselerasi super, pengambilan posisi yang cermat serta kemampuan fantastis dalam membaca arah permainan membantunya menambal lubang-lubang di lini belakang timnya.

Meski kaki andalannya adalah kanan, Silva menghabiskan mayoritas musim lalu sebagai bek tengah-kiri, dan ia secara konstan menunjukkan abilitas yang jarang dimiliki defender lainnya, mampu tampil dengan begitu nyaman di kedua sisi jantung pertahanan. Kendati hanya bermain di posisi naturalnya (bek tengah-kanan) saat berdampingan dengan Yepes di tengah absennya Nesta, angka keberhasilan penyerang lawan melewati Silva dapat dihitung dengan jari.

Kelebihan tersebut, dipadukan dengan kekuatan fisik natural, kehebatan dalam duel udara, serta keberanian untuk bertarung menjadikannya sosok bek yang nyaris sempurna di musim 2010/11.

Massimilano Allegri pun tak segan menyanjung tinggi-tinggi kualitas pemilik seragam Milan bernomor punggung 33 itu. "Dia seperti bertahan sendirian," ucap bos Il Diavoli itu usai hasil imbang melawan Palermo di Coppa Italia. "Dia pantas disebut sebagai centre-back terkuat di dunia. Musim lalu ia mendemonstrasikan banyak hal luar biasa, tapi musim ini dia telah berkembang, melangkah menuju kematangan, dan di setiap pertandingan menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang 'monster'."

Setelah melakukan start cemerlang, kehadiran Silva bagi Milan semakin vital saat memasuki pertengahan musim. Dengan seringnya skuad I Rossoneri kehilangan pemain di sektor defensif, yang terbukti amat merugikan dalam kekalahan tipis dari Tottenham di Liga Champions, kemudahan Silva dalam mengantar timnya mencatat clean sheet dan kemenangan di kancah domestik sungguh mencengangkan.

"Antisipasi, akselerasi, pengambilan posisi, serta kemampuan membaca arah permainan, dipadukan dengan kekuatan fisik natural, kehebatan dalam duel udara, dan keberanian untuk bertarung menjadikannya sosok bek yang nyaris sempurna di musim 2010/11."

Dalam raihan kemenangan vital atas Napoli, Juventus, dan Inter, Silva benar-benar tenang menjaga kekokohan pertahanan. Contoh gampang adalah di partai derby. Dia adalah alasan utama Milan sanggup membendung gempuran I Nerazzurri yang ngotot menyamakan kedudukan setelah gol kilat Alexandre Pato.

Dengan keberhasilan Milan mengunci titel usai laga melawan Roma yang kembali diwarnai clean sheet, ke-18 dalam 33 pertandingan bersama Silva, sang bek pun mengalihkan perhatian ke Copa America. Di turnamen tersebut, ia merupakan bagian skuad yang melaju sampai perempat-final sebelum tersingkir oleh Paraguay lewat adu penalti. Semua eksekutor Selecao gagal menunaikan tugas, termasuk juga Silva yang tendangannya diselamatkan Justo Villar.

Setelah menjalani musim yang menakjubkan di level personal, pemain 26 tahun itu wajib menjaga kestabilan performanya dan mengembangkan diri lebih jauh lagi sekaligus mendapatkan pengakuan sebagai bek terbaik dunia.


Following the 2-0 defeat at Cesena in the next game, the centre-back would go on to rack up the phenomenal record of only taking part in one more defeat (away to Palermo in March) and also only a single multiple-goal concession (the 4-4 draw with Udinese in January) in the remainder of the league campaign.

But it was in more than just numbers that the former Fluminense man was starting to move on to another level. With Alessandro Nesta beside him beginning to show signs of weariness, and other partners such as Daniele Bonera and Mario Yepes unable to match his quality, he could regularly be found doing the work of two men. His magnificent sense of anticipation, superb acceleration and fantastic reading of the game regularly helped to plug gaps in either defensive flank.

Playing the majority of the season as the left-sided centre-half despite being right footed, he constantly showed an ability few other defenders have in his comfort in defending to either side. The number of occasions he was turned by an opposition forward could be counted on one finger, despite only playing in his natural channel when partnered by Yepes in the absence of Nesta.

This, allied to his natural upper-body strength, excellent aerial ability and thirst for a challenge, made him a near-complete defender in 2010-11, with his coach Massimiliano Allegri referring to him exclusively in superlatives when asked about his No.33’s qualities. “He defended almost by himself,” said Allegri after a Coppa Italia draw with Palermo. “He is arguably the strongest centre-back in the world. Last season he demonstrated great things, but this season he has improved, is still maturing, and is showing in every game that he’s practically a monster.”

After an excellent andata, it was in the run-in that the Brazilian’s ability most came to the fore. With the Rossoneri short of numbers defensively at times, which would prove costly in the narrow defeat to Tottenham in the Champions League, the ease with which he carried his side on to clean sheets and victories domestically was amazing to watch.

In the vital wins over Napoli, Juventus and Inter in the run-in, Thiago Silva was simply irrepressible. In the derby in particular, he was the biggest reason why the Nerazzurri were held out during the long periods in which they pushed for an equaliser after Alexandre Pato’s early opener, keeping Giampaolo Pazzini’s contribution to a minimum.

With Milan having clinched the title against Roma with another clean sheet, the 18th in 33 games with the Brazilian present, the defender’s attention turned to the Copa America. There he was a part of the side which reached the quarter-finals before falling on penalties against Paraguay, Thiago Silva’s effort being saved as Brazil missed all four spot-kicks.

After an incredible season such as his, it would be tempting to say the only way is down. But somehow, the defender could yet perform even better in his relentless rise towards the ranking of the world’s greatest defender.
Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait