thumbnail Halo,

Hitung mundur berlanjut dengan gelandang Kroasia yang kontribusinya untuk Spurs musim lalu mengundang ketertarikan Chelsea ini.

Selamat datang di GOAL.com 50! Dalam edisi spesial ini, para editor GOAL.com di seluruh dunia memilih 50 pemain terbaik 2010/11. Hingga diumumkannya sang pemenang pada 21 Agustus, kami melakukan hitung mundur dengan memuat profil setiap pemain yang menembus 50 besar...

Bagi beberapa pesepakbola, jalan menuju pengakuan diri terbilang mulus. Lingkungan nyaman, kebebasan berekspresi, dan dorongan semangat tiada akhir menjadi hal lumrah, tapi tidak demikian buat Luka Modric. Gelandang berbakat ini harus melintasi jalur terjal untuk mencapai tempatnya sekarang.

Tumbuh di tengah kecamuk Perang Kemerdekaan Kroasia, Modric muda harus mengasah skill dalam permainan yang dicintainya di periode kekacauan negaranya. Kendati begitu, keteguhan hati serta gairah tinggi akhirnya membuka pintu bagi Modric menuju masa depan cerah. Kerja keras mengantarnya ke Dinamo Zagreb, klub tersukses sepanjang sejarah di Kroasia.

"Anda berpikir tim-tim lain memiliki deretan pemain bagus sampai akhirnya Anda melihat mereka bermain melawan Modric, dan Anda menyadari dia berada di level yang lebih tinggi."

- Harry Redknapp

Mengolah keterampilan sebagai gelandang serang kiri di PRva HNL setelah fase peminjaman di divisi utama Bosina, penampilan menonjol Modric di lapangan menghasilkan segudang trofi domestik yang akhirnya berujung kans bersinar di panggung yang lebih besar: transfer senilai €19 juta ke Tottenham.

MOMEN TERBAIK 2010/11

 LIGA CHAMPIONS 2010/11
TOTTENHAM 3-1 INTER
Setelah mengelabui Sulley Muntari, operan mematikan Modric memudahkan Rafael van der Vaart menceploskan bola melewati Julio Cesar dan mengirim peringatan untuk tim-tim besar Eropa yang lain.
Modric pada awalnya sempat kewalahan beradaptasi, gangguan cedera pun kian mempersulit keadaan, tapi sesungguhnya keputusan Juande Ramos (bos Spurs saat itu) untuk menempatkan Modric di posisi yang lebih dalamlah yang paling menghambat perkembangannya di Liga Primer Inggris.

Upaya pelatih asal Spanyol itu untuk mengeksploitasi jangkauan passing dan visi Modric melalui peran yang lebih ke belakang benar-benar gagal sehingga membuat banyak fans memberi penilaian miring pada rekrutan perdana klub di musim panas itu.

Akan tetapi, tak lama setelah Ramos pergi, manajer anyar Harry Redknapp mengembalikan posisi asli sang gelandang dan mematoknya lebih ke depan.

Mengonfirmasi kata-katanya bahwa "siapa pun yang pernah bermain di Bosnia dapat bermain di belahan dunia mana pun", merujuk pada pendekatan fisik di Premier League, Modric amat membantu pencapaian mengejutkan Spurs yang finis di empat besar sekaligus menyambar tiket ke Liga Champions.

Banyak yang meremehkan kapabilitas Tottenham di turnamen terakbar antarklub Eropa itu, dan beberapa mungkin akan lebih mengenang performa memukau Gareth Bale saat melawan Inter, tapi maestro kreatif inilah yang membantu laskar Redknapp melaju. Momen terbaiknya datang kala menghadapi Inter, gerak tipunya mengecoh Sulley Muntari sebelum mengirim bola kepada Rafael van der Vaart yang membuka skor dalam gim di White Hart Lane yang tak akan dilupakan suporter The Lilywhites.

Performa semacam itulah yang menjadikan Modric pemain yang begitu unik dan spesial. Dua kaki yang sama-sama hidup, postur mungil, kecepatan, dan skill istimewa membuat Modric bisa bergerak luwes, dengan maupun tanpa bola. Selain statistik ciamik -- Modric finis di tiga besar daftar pengirim umpan terbanyak serta jumlah intersepsi di EPL 2010/11 -- dedikasi dan kesahajaan pemain 25 tahun ini membuat Harry Redknapp mendeskripiskannya sebagai "pemain panutan".

Karena itu, tak mengherankan jika konsistensi mantan bintang Dinamo Zagred itu berbuah penghargaan Tottenham Hotspur Player of The Year versi Fans sekaligus mengundang ketertarikan dari Roman Abramovich.

"Dua kaki yang sama-sama hidup, postur mungil, kecepatan, dan skill istimewa membuat Modric bisa bergerak luwes, dengan maupun tanpa bola."

Pemilik Chelsea itu sama sekali tak menutup-nutupi keinginan klubnya untuk mendatangkan Modric, dan setelah proposalnya ditolak lebih dari sekali, sangat jelas bahwa Spurs berharap mempertahankan sang jantung tim. Tapi, Modric sendiri sudah mengungkapkan keinginan berlaga di Liga Champions bersama The Blues, yang tentunya menggelisahkan manajemen Tottenham.

Lantas, apa yang akan terjadi kepada Luka? Dengan transfer window memasuki setengah fase akhir, masa depan pria Kroasia ini masih jadi perdebatan hangat, tapi satu hal tampak pasti di tengah periode ketidakjelasan ini: tim mana pun yang mengamankan Modric di kampanye 2011/12 bakal memiliki pemain yang sangat berharga.


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait