thumbnail Halo,

Sebagai motor lini tengah Madrid, Alonso berdiri di peringkat ke-49 dalam daftar kami.

Selamat datang di GOAL.com 50! Dalam edisi spesial ini, para editor GOAL.com di seluruh dunia memilih 50 pemain terbaik 2010/11. Hingga diumumkannya sang pemenang pada 21 Agustus, kami melakukan hitung mundur dengan memuat profil setiap pemain yang menembus 50 besar...

Tak perlu diragukan bahwa Xabi Alonso adalah salah satu bintang paling bersinar selama rezim Manuel Pellegrini yang akhirnya harus ditendang dari kursi pelatih Real Madrid, dan setelah sukses mematok diri sebagai motor lini tengah di Bernabeu, gelandang sentral berkelas ini kian mengukuhkan reputasi dalam deretan pemain terbaik di posisinya dengan menyuguhkan servis yang sama ciamiknya di era Jose Mourinho.

Memasuki kampanye 2010/11 setelah jadi starter dalam semua pertandingan timnas Spanyol di Piala Dunia 2010 dengan keberhasilan menyabet titel kampiun, faktor keletihan mungkin menjadi masalah buat banyak pemain, tapi lelaki 29 tahun ini menunjukkan level kebugaran menakjubkan dengan melakoni 52 laga kompetitif bersama klubnya, jumlah penampilan yang jauh melebihi musim-musim sebelumnya selama karier profesional Alonso.

Memegang peran sebagai 'quarterback' Madrid di bawah arahan Pellegrini, sedikit mengejutkan bahwa pemain kelahiran Basque ini tetap melanjutkan posisi tersebut dalam kendali Mourinho, yang amat menilai tinggi permainan all-round-nya.

"Dalam polling terbaru yang digelar Marca, Alonso difavoritkan oleh 75 persen fans Real Madrid untuk menjadi suksesor Iker Casillas sebagai kapten klub."

Berdampingan dengan Sami Khedira di jantung tim, Alonso menjadi figur kunci yang membantu kubu Bernabeu tampil mendominasi dalam sebagian besar gim yang mereka mainkan, benar-benar mewakili julukannya, El Pulmon (Si Paru-paru), dengan menghembuskan napas kehidupan buat timnya secara kontinu.
MOMEN TERBAIK 2010/11

 FINAL COPA DEL REY:
REAL MADRID 1-0 BARCELONA
Mempersembahkan performa solid bagi timnya, Alonso juga mencaplok silverware perdana di Spanyol dengan membantu Madrid menaklukkan sang rival tersengit.

Sebelum edisi 2009/10, Madrid seringkali dikritik karena kurangnya kohesi antara lini pertahanan dan penyerangan. Tak dapat dibantah, kedatangan Alonso dari Liverpool menyediakan itu, dan meskipun tak begitu tampak sebagai kekuatan ofensif musim lalu, diam-diam ia memberikan link vital dari belakang hingga depan.

Dari posisinya yang berdiri di depan empat bek, jangkauan operan dan visi eks pilar Real Sociedad ini sering menghadirkan ancaman. Distribusi bolanya akurat, bervariasi, serta cerdas, dan ini membantunya mengkreasi secara langsung enam gol liga musim lalu.

Di masa lampau, kemampuan mencetak gol Alonso dari posisinya yang dalam acapkali mengundang pujian, kendati sepanjang kampanye lalu ia hanya mengemas sebiji gol -- torehan yang dianggap tak bermakna banyak sebagai gol terakhir dalam kemenangan 5-1 atas Murcia di Copa del Rey.

Ini merupakan perwujudan dari tingginya disiplin yang diterapkan Mourinho terhadap skuadnya, dengan sedikit menetapkan batas 'pengembaraan' sang gelandang sentral. Perubahan mindset ini sendiri tak memengaruhi permainan Alonso karena mentalitas bertahannya juga setara dengan kapabilitas mengatur serangan. Ia sering memutus alur serangan musuh dengan serangkaian tekel terukur.

Diusirnya mantan pemain Liverpool itu kala menghadapi Ajax -- satu-satunya kartu merah Alonso musim lalu -- bukan dikarenakan kekurangannya dalam teknik tekel, melainkan sebuah perencanaan pintar yang membuatnya dipinggirkan dari gim tak penting, versus Auxerre di matchday pamungkas fase grup Liga Champions, ketimbang berisiko mendapat suspensi untuk babak knock-out. Bersama Sergio Ramos, yang juga dikeluarkan gara-gara memperlambat waktu, Alonso dipanggil menghadap UEFA, namun tetap hanya menerima larangan bermain standar sebanyak satu laga.

Bahkan tontonan tak sportif ini pun belum mampu menolong Real Madrid merengkuh kejayaan kesepuluh di Eropa, tetapi, dengan asuhan Mourinho, mereka akhirnya mengakhiri paceklik trofi usai membekap Barcelona 1-0 lewat extra-time di final Copa del Rey sekaligus menghasilkan titel domestik perdana buat Alonso di Spanyol. Tak pelak lagi, ia memainkan peran penting di laga puncak, tampil hingga akhir dan berkinerja apik membendung lini tengah Tim Catalan yang terkenal paten.

"Distribusi bolanya akurat, bervariasi, serta cerdas, dan ini membantunya mengkreasi secara langsung enam gol liga musim lalu."

Copa terbukti menjadi satu-satunya pertempuran yang dimenangkan anak-anak Mourinho. Barcelona, dengan raihan mahkota La Liga dan Eropa, masih memenangkan perang. Apabila Madrid berniat mengakhiri dominasi sang seteru abadi musim depan, pastinya Alonso punya peran utama untuk dimainkan.

 

Mobile GOAL.com
Untuk keterangan lebih lanjut mengenai akses GOAL.com via ponsel,
termasuk cara mengunduh aplikasinya, klik di sini.

Terkait