thumbnail Halo,

Diego Milito adalah pemain terbaik kelima musim 2009/10 versi GOAL.com.

Inilah GOAL.com 50! Dalam edisi khusus ini, seluruh tim editor GOAL.com dunia memilih 50 pemain top sepanjang musim 2009/10. Kami menghitung mundur pengumuman pemenang hingga 10 Agustus dengan menampilkan profil setiap pemain yang masuk dalam daftar 50 besar...

Ibaratnya, Diego Milito adalah minuman anggur, semakin tua semakin bagus, tua-tua keladi. Ketika rekan-rekan seangkatannya mulai kesulitan, seperti sering dicadangkan atau meninggalkan klub besar, striker Argentina berusia 31 tahun ini sibuk meraih Treble dan mencatatkan namanya dalam sejarah.

Transisi dari tim ambisius tapi tak berprestasi ke tim besar tak pernah mudah, dan ketika Milito pindah dari Genoa ke Inter musim panas lalu dalam usianya yang masuk kepala tiga, beberapa orang meragukannya. Memang, Milito berhasil mencetak banyak gol di Spanyol dan Italia, dan ia juga berhasil duduk di peringkat kedua dalam daftar pencetak gol Capocannoniere di bawah Zlatan Ibrahimovic. Tetapi apakah ia mampu melakukannya di tim besar pertama dalam karirnya?

Ya, ia bisa dan telah membuktikannya. Torehan 30 gol di semua kompetisi cukup untuk membuatnya disebut sebagai striker terbaik Eropa musim 2009/10. Jika naluri mencetak gol David Villa tetap sebagai yang terbaik di dunia, Milito tak tertinggal jauh sebagai terbaik kedua, seperti yang ia tunjukkan musim lalu, karena ia mampu mencetak gol ke gawang tim besar maupun kecil.

Dipasang sebagai striker utama oleh pelatih Inter saat itu Jose Mourinho dalam formasi 4-2-1-3, Milito, yang menduduki peringkat ke-25 dalam 50 Terbaik GOAL.com 2008/09, bersinar bersama Wesley Sneijder yang bermain sedikit di belakangnya, serta bersama Goran Pandev dan Samuel Eto'o di sisinya. 'Il Principe' mencetak gol dari sisi kanan, kiri, dan tengah, dengan total 22 gol dari 33 penampilan menjadi starter di Serie A, dan juga memberikan empat assist.

Milito memang tidak mencetak hat-trick, tetapi ia mencetak banyak gol penting, saat derby Milan pada Agustus, ia mencetak satu gol dan memberikan dua assist dalam kemenangan 4-0, dan juga berhasil menyarangkan gol lawan pada Januari dalam kemenangan 2-0 atas Rossoneri. Di pertengahan Mei saat menghadapi Siena, lagi-lagi mantan penyerang Real Zaragoza itu yang menjadi perbedaan dalam gol tunggal dalam pertandingan yang menjadi salah satu titik penting keberhasilan Inter menjuarai Serie A Italia 2008/09 itu.

Diego Milito
Momen Musim Ini

Mencetak dua gol ke gawang Bayern Munich di final Liga Champions pada Mei 2010.
Hal serupa juga terjadi di Liga Champions. Inilah untuk pertama kali dalam kariernya, Milito ambil bagian dalam kompetisi antarklub Eropa tertinggi, tetapi ia tampil seperti seorang veteran di turnamen itu, dengan mencetak gol dalam enam partai berbeda.

Terlebih, pemain kelahiran Bernal itu berhasil mencetak gol ke gawang juara Inggris (Chelsea), Spanyol (Barcelona), dan Jerman (Bayern Munchen).

'Il Principe' juga berprestasi mencetak gol di setiap babak gugur Liga Champions, dan sangatlah layak bagi Inter dan Milito, ia menjebol gawang Bayern dua kali dalam final di Santiago Bernabeu, memimpin Inter menuju kemenangan 2-0 dan gelar Liga Champions pertama dalam 45 tahun. Milito juga mencetak gol tunggal pada final Coppa Italia lawan Roma pada awal Mei, dan memastikan perannya yang tak tergantikan dalam prestasi Treble bersejarah pada musim 2009/10.

Meskipun berhasil menunjukkan kemampuan mencetak gol dan ketajamannya, Milito tak pernah diberi kesempatan oleh pelatih Argentina Diego Armando Maradona pada Piala Dunia. Tentu saja, anda mungkin mengerti mengapa el Diego memilih Gonzalo Higuain - striker Real Madrid itu berusia 22 tahun, lebih serba guna, karena mampu bermain dari sayap lalu menusuk ke dalam dan juga berkembang pesat dalam dua tahun terakhir - tetapi Milito telah membuktikan dirinya di kompetisi Eropa, sementara mantan striker River Plate itu gagal. Banyak orang membayangkan bagaimana pengaruh Milito jika saja ia tampil sejak awal saat Argentina menghadapi Jerman di perempat-final.

Itu berujung pada pemikiran apakah Milito akan memiliki peluang lebih baik untuk meraih Bola Emas FIFA jika diberikan lebih banyak kesempatan di Afrika Selatan. Karena Albiceleste tak lolos ke semi-final dan Milito nyaris tak terlihat di Piala Dunia, mungkin peluang pemain berusia 31 tahun itu meraih gelar individu paling bergengsi di sepakbola sudah dibuang ke luar jendela dan ke sungai yang mengalir di luar.

Tendangan Bebas

Menurut Anda, apakah peringkat Diego Milito sudah sesuai?

Terkait