thumbnail Halo,

Didier Drogba adalah pemain terbaik ke-11 musim 2009/10 versi GOAL.com.

Inilah GOAL.com 50! Dalam edisi khusus ini, seluruh tim editor GOAL.com dunia memilih 50 pemain top sepanjang musim 2009/10. Kami menghitung mundur pengumuman pemenang hingga 10 Agustus dengan menampilkan profil setiap pemain yang masuk dalam daftar 50 besar...

Klub-klub elit di Eropa saat ini bermain dengan satu striker. Akibatnya, pertandingan berevolusi secara signifikan dalam satu dekade terakhir. Tercipta pendapat bahwa bermain dengan striker tunggal bisa menjadi sangat positif atau negatif tergantung mental personel yang mengelilingi sang striker.

Sistem 4-4-2 telah mati, setidaknya untuk saat ini, dan sukses Didier Drogba di Chelsea dalam beberapa tahun terakhir membuat klub-klub terbujuk mengubah sistem bermainnya lebih sering.

Drogba memiliki semua syarat yang diperlukan untuk menjadi focal point sebuah tim. Dia tak tertandingi dalam hal kekuatan, power, dan kegigihan mempertahankan kemampuannya. Dia adalah penghancur mematikan.

Dia memiliki obsesi tanpa batas untuk mencetak gol. Publik sepakbola mungkin belum lupa bagaimana dia bertengkar dengan Frank Lampard mengenai siapa yang harus menembak penalti di pertandingan terakhir musim lalu.

Ikon Pantai Gading ini berupaya keras menggunakan semua kemampuannya untuk mencetak gol, yang amat dibutuhkan untuk meraih Sepatu Emas Liga Primer kali kedua dalam empat musim, dan memberikan gelar musim 2009/200 kepada The Blues -- atau yang pertama sejak 2006.

Setiap striker menilai dirinya harus mencetak gol, dan menganggap gol-gol yang dibuatnya sebagai proyek pribadi. Mereka mencetak gol untuk dirinya, dan untuk tim.

Drogba seperti itu. Dia tampak mementingkan diri sendiri, tapi kehadirannya di starting line-up Chelsea secara terus menerus memperlihatkan betapa ia sangat penting bagi klub.

Pemain berusia 32 tahun itu mengoleksi 37 gol dalam 44 pertandingan di semua kompetisi, sebuah pencapaian yang mengagumkan. Ia dihormati, dan merasa Chelsea sangat tergantung padanya.

Sepanjang kariernya di Chelsea, mungkin hanya Luis Felipe Scolari yang gagal memahami manfaat apa yang dibawa Drogba untuk tim. Scolari harus membayar semua itu dengan pemecatan dirinya. Carlo Ancelotti tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan dibuat Scolari.

Drogba lebih dari sekadar pemain depan. Dia memiliki keunggulan psikologis atas lawan-lawannya. Setiap pemain belakang tahu apa yang diperlihatkan Drogba di sebuah pertandingan, tapi tak punya kekuatan menghentikannya. Drogba adalah senjata paling berbahaya, yang ditakuti semua defender dengan kemampuan apa pun.

Didier Drogba
Momen Musim Ini

Mengoleksi Bola Emas Liga Primer Inggris untuk kali kedua dalam kariernya.
Kemampuan set-piece-nya mendapatkan pengakuan sepanjang musim 2009/2010. Ketika pemain seperti Cristiano Ronaldo dan Robin van Persie dipuji berkat kepiawaiannya melepas tembakan bebas, keunikan teknik Drogba melepas tembakan dengan kedua sisi kaki membuatnya disejajarkan dengan semua pakar tembakan bola-bola mati.

Bahkan Drogba bisa lebih efektif. Ini diperlihatkan ketika Chelsea menghadapi Hull, Arsenal, dan Portsmouth, di Piala FA. Gol kemenangan Chelsea di final Piala FA di Wembley menjadikan Drogba satu-satunya pemain yang mencetak gol di enam final kejuaraan domestik itu.

Namun Drogba gagal memperlihatkan kemampuannya di Piala Dunia 2010, akibat patah siku sepekan sebelum perhelatan terbesar itu dimulai. Ia memaksakan diri bermain, tapi cedera yang belum pulih total membuatnya hati-hati.

Padahal, Drogba berharap memainkan peran penting bagi negaranya di Piala Dunia. Terlebih, dengan sejumlah bintang yang merumput di Eropa, Pantai Gading adalah salah satu harapan publik Afrika; yang ingin melihat salah satu warga benua-nya mencapai level tertinggi di Piala Dunia.

Cedera, penyisihan yang sulit -- karena satu grup dengan Brasil dan Portugal -- hanya menciptakan pengalaman mengenaskan bagi Drogba.

Di dalam negeri, Drogba dikecam karena ketidak-mampuannya memberi kontribusi lebih kepada Pantai Gading. Jutaan mil dari dari negaranya, Drogba mendapat penghargaan yang layak untuk selfish stereotype yang dimilikinya.

Drogba masuk ke dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time, untuk kerja kemanusiaan di negaranya. Ia mendonasikan £3 juta dari sponsorship fee untuk pembangunan sebuah sekolah. Ia tampil dalam satu sampul majalah bersama Bill Clinton.

Kemampuannya di lapangan masih tetap diakui, setidaknya sampai saat ini. Ia meraih penghargaan Pemain Terbaik Afrika 2010 kali kedua dalam kariernya. Ia terpilih sebagai Chelsea's Player of the Campaign, karena menjadikan The Blues PFA Team of the Season.

Bagaimana dengan musim depan?

Tendangan Bebas

Menurut Anda, apakah peringkat Didier Drogba sudah sesuai?

Terkait