thumbnail Halo,

Siapa bilang Paris Saint-Germain dominan berkat skuat mewah dengan deretan bintang? Faktanya, mereka mengilap justru berkat kontribusi pemain veterannya. Siapa saja?


GOALOLEH   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti Anugerah Pamuji di twitter


£119 juta adalah nilai yang digelontor Paris Saint-Germain dalam dua periode bursa transfer di musim ini untuk menggaet nama-nama kelas wahid seperti bek prospektif Brasil Marquinhos, fullback masa depan Prancis Lucas Digne, bomber kelas dunia Edinson Cavani, dan terkahir gelandang elegan Yohan Cabaye, yang melengkapi gemerlap pemain-pemain bintang di tubuh Les Parisiens pada Januari lalu.

Harapannya klasik, mendatangkan pemain dengan status superstar demi meraih kejayaan di kancah domestik dan lebih tinggi lagi di Eropa bahkan dunia.

Namun tahukah Anda, sederet nama superstar di atas kontribusinya tak seberapa bila dianalisis dengan para pemain veteran PSG di 2013/14 ini.

Sementara, mari hilangkan stigma dangkal menilai PSG tangguh lantaran dihuni taburan pemain kelas wahid, sebab hampir setengah dari starting XI reguler pelatih Laurent Blanc musim ini faktanya dihuni para prajurit veteran, yang mana mereka mampu memberi pengaruh signifikan dari pencapaian yang diraih PSG sejauh ini.

Zlatan Ibrahimovic [32 tahun], Maxwell [32 tahun], Alex [31 tahun], Thiago Motta [31 tahun] dan Thiago Silva [29 tahun], mereka lah si tua-tua keladi yang sukses membuat perbedaan di tubuh PSG! Squawka - situs statistik sepakbola - bahkan mencatat lima wajah senior ini mendominasi dalam deretan delapan penggawa paling kontributif di skuat PSG.

Konsistensi performa mereka pun dibuktikan sejak memulai musim. Mari kita bedah satu per satu.



Publik ibu kota jelas tak lupa ketika Alex tampil heroik mengantar tim merebut trofi pertama di musim baru, Trophee des Champions, ketika bentrok dengan Bordeaux sesaat sebelum tabuh genderang liga dibunyikan.

Saat laga tersebut kiranya bakal dilanjutkan ke babak extra-time, secara dramatis bek plontos ini mencetak gol telat yang menentukan kemenangan 2-1 atas Les Girondins. Pesta di akhir laga pun mewarnai awal sempurna dibukanya rezim Blanc, yang datang sebagai suksesor pelatih yang kini memoles Real Madrid, Carlo Ancelotti.

Sejak saat itu, posisi Alex tak tergantikan mendampingi Thiago Silva di jantung pertahanan tim.

Lima laga pertama liga berlalu mulus, Blanc coba menghargai kedatangan Marquinhos. Tak tanggung-tanggung, mantan bek AS Roma ini langsung dimainkan di laga bergengsi kontra AS Monaco. Rupanya, permainan dia di luar ekspektasi dengan akhirnya tim harus bermain seri 1-1.

Cedera Thiago Silva sempat menjadi berkah sekaligus ajang pembuktian bagi Marquinhos selama enam pekan selanjutnya. Meski impresif selama menjadi deputi dengan mampu mencatat tiga gol dan satu assist di semua kompetisi, Marquinhos terbilang gagal ketika berhadapan dengan klub besar. Dari tujuh kesempatan dia unjuk gigi, PSG mengalami kebobolan di tiga laga masif Ligue 1 - AS Saint-Etienne [2-2], Marseille [2-1], termasuk Monaco.

Puncaknya, Marquinhos bertanggung jawab atas hancurnya rekor unbeaten PSG di 36 laga ketika dikalahkan tim lemah, Evian TG, 2-0. Kali ini, Alex yang tidak tampil di laga itu. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan, duet Silva-Alex untuk sementara waktu memang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Hingga journee 26, tandem ini baru 11 kali kemasukan dari total 18 kebobolan.

Ganjaran kontrak baru berdurasi empat tahun pun tak sungkan dihadiahi manajemen buat Silva di awal musim ini. Ada pun Alex kontraknya bakal berakhir di pengujung musim nanti, tapi melihat kontribusinya yang sedemikian rupa, kiranya masa edar dua-tiga tahun lagi layak didapatkannya.

Di sektor kiri pertahanan tim juga menjadi milik Maxwell musim ini. Tak dinyana, dengan segala talenta yang dimiliki Digne, Blanc nyatanya lebih menomorsatukan bek kidal asal Brasil itu setelah Siaka Tiene hengkang ke Montpellier.

Keputusan Blanc tak keliru, Maxwell menjawabnya dengan mampu menjadi pemain terbaik kedua dalam urusan umpan silang setelah Lucas Moura. Setidaknya, per laga Maxwell sukses melepaskan satu crossing akurat dengan rasio umpan sukses mencapai 89,1 persen. Bukannya menyaingi, Digne justru banyak belajar dari seniornya tersebut.

“Talentanya bisa lebih besar dari saya ketika saya seusianya. Dia punya kemampuan seperti saya ketika masih muda. Kami terkadang berdiskusi bersama, kami berlatih bersama. Saya senang untuk memberinya nasihat positif," ujar Maxwell mengomentari eks fullback andalan Lille itu.

Tambahan kontrak satu tahun yang baru-baru ini diterima Maxwell seolah mempertegas jika dirinya memang masih diperlukan sekurangnya satu musim lagi sebelum Digne benar-benar menjadi suksesor.

Bagaimana dengan Motta? Tak seperti Ancelotti yang menganaktirikannya pada musim lalu, Blanc cermat membaca potensi Motta yang selaras dengan sistem permainan umpan-umpan pendek tim.

Menjembatani lini belakang dan depan, kehadiran Motta di pos gelandang bertahan dalam pendekatan 4-3-3 ala Blanc berjalan efektif. Motta, selain Marco Verratti, menjadi pemain terrajin dalam mendistribusikan bola ketimbang rekan-rekannya dengan produksi rataan umpan per pertandingan menyentuh angka 84,2. Persentasi umpan suksesnya pun tak main-main, mencapai 92,3 persen. Secara keseluruhan, Motta menjadi pemain ketiga terbaik setelah Ibrahimovic [51] dan Lucas Moura [39] dalam aspek menciptakan kans dengan total 32 kreasi sudah dibuatnya untuk PSG.

Tenaganya dalam membantu pertahanan tim juga tak bisa dianggap remeh. Rasio tekelnya per laga mencapai 2,6. Catatan itu untuk ukuran gelandang terbilang luar biasa dan ini membuktikan peran multifungsi pemain yang pernah merasakan treble winners bersama FC Internazionale tersebut.

Kekhawatiran posisinya bakal tergeser menyusul masuknya Cabaye juga bisa dibuang jauh-jauh, sebab sejak eks personel Newcastle United ini masuk, Motta tetap berdiri tegap di jajaran starting XI mendampingi Blaise Matuidi dan Verratti di sektor trio gelandang sentral tim.
    
Sepaket dengan Maxwell, kontrak gelandang Italia berdarah Brasil ini minggu lalu malah diperbarui sampai 2016 berkat kontribusi mencoloknya buat tim.

"Saya sangat senang bisa memperpanjang ikatan kerja dengan Thiago Motta. Pemain yang sangat luar biasa, elegan, dan melambangkan ambisi klub ini!" ujar presiden PSG Nasser Al-Khelaifi.

Dan satu nama veteran tersisa adalah Ibrahimovic, yang belakangan menjadi sorotan berkat ledakan golnya.

Ibra seperti "kelaparan" merobek gawang lawan sejak turut mendonasi gol dalam kemenangan 3-0 atas Valenciennes dua pekan lalu, yang mana torehan itu membuat dia memecahkan rekor gol tertinggi dalam kariernya, yakni 67 gol untuk satu klub, PSG.

Zlatan 'Ibracadabra' - Si tua-tua keladi yang tengah meletup hebat

Tak berhenti di situ, letupan sang bomber berlanjut ketika dia membuat lima gol dalam dua laga berturut-turut sepanjang pekan lalu: mencetak sepasang gol saat mengantar PSG unggul telak 4-0 atas Bayer Leverkusen di leg pertama fase 16 besar Liga Champions dan mengemas hat-trick saat menghajar Toulouse 4-2 di lanjutan liga. Kini Ibra pun memimpin topskor Ligue 1 dengan koleksi 22 gol meninggalkan jauh rivalnya Alexandre Lacazette [13] dan rekan setimnya, Edinson Cavani [13]. Di daftar topskor Liga Champions, pancapaian 10 gol Ibra membuatnya bersaing sengit dengan Cristiano Ronaldo yang sudah mendulang 11 gol.

Musim ini benar-benar menjadi periode gol terbaik Ibra dan harusnya ini bisa menjadi obat pelipur lara setelah dirinya absen dari Piala Dunia 2014. Secara total, Ibra telah menghimpun 42 gol di semua kompetisi musim ini. Catatan ini menyamai rekor 42 gol Ronaldo di seluruh kompetisi dalam semusim ketika dia berseragam Manchester United di musim 2008/09. Rengkuhan gol winger Real Marid itu tentu bisa dikangkangi Ibra mengingat sisa musim ini yang masih terbentang cukup panjang.

"Dia selalu saja membuat saya takjub. Teknik dan kekuatannya, sungguh sulit dipercaya. Kadang-kadang Anda merasa tak percaya dengan caranya mencetak gol," Maxwell yang angkat topi buat Ibra.

Menarik mencermati aksi lanjutan lima pejuang veteran ini ketika mereka kembali mendemonstrasikan kebolehan di partai prestisius bertajuk Le Classique kontra Olympique Marseille di journee 27 ini.

Dengan label bintang yang melekat pada diri pemain-pemain potensial seperti Javier Pastore, Lucas Moura, Ezequiel Lavezzi, Marquinhos, Digne, Cavani dan Cabaye, harusnya mereka bisa menjadikan lima pemain veteran ini sebagai titik panutan. Ketika masa emas para seniornya benar-benar mulai habis, sudah semestinya mereka-mereka yang muda yang saatnya beraksi!



Ligue 1 Prancis >> Halaman Khusus Sepakbola Prancis
>> Berita Sepakbola Prancis Lainnya
>> Semua Klub Ligue 1 & Panduan 2013/14
>> Klasemen Ligue 1 Prancis
>> Jadwal & Hasil Ligue 1 Prancis
>> Daftar Transfer Ligue 1 Prancis

Terkait