thumbnail Halo,

AFF Suzuki Cup 2012 sudah dan harus menjadi representasi kemajuan sepakbola Asia Tenggara.


CATATAN   AGUNG HARSYA  dari Bangkok, Thailand  Ikuti di twitter
Indonesia dipusingkan kekacauan organisasi; Thailand kelimpungan mencari jadwal yang pas untuk menggelar pemusatan latihan di sela-sela akhir musim kompetisi; Vietnam sedang memikirkan format kompetisi baru yang profesional; Filipina menunggu kepastian komitmen pemain-pemain keturunan hingga menit-menit terakhir; Singapura hanya menang tiga kali dalam 11 laga internasional sepanjang dua tahun terakhir; dan juara bertahan Malaysia dicibir media sendiri karena tak meyakinkan saat beruji coba.


AFF Suzuki Cup, trofi paling bergengsi di Asia Tenggara

Setiap dua tahun sekali, sepakbola Asia Tenggara bergeliat. Gemuruh AFF Suzuki Cup bergema mulai dari sudut kota Yangon hingga Bangkok, Manila hingga Jakarta. Inilah pesta sepakbola terbesar di Asia Tenggara dwitahunan yang menjadi barometer utama perkembangan sepakbola di kawasan ini.

Gebrakan ini dimulai ketika 16 tahun lalu federasi sepakbola Asia Tenggara (AFF) muncul dengan terobosan inovatif. AFF sepakat membentuk turnamen sendiri yang lepas dari pesta olahraga multicabang SEA Games. Alasannya, terbukti sepakbola selalu menjadi primadona tanpa cela di kawasan ASEAN. Ada pameo yang mengatakan "tidak lengkap menjuarai SEA Games tanpa memenangi medali emas sepakbola". Anggapan ini ditafsir dan diperluas dengan membentuk sebuah turnamen baru sebagai puncak piramida sepakbola Asia Tenggara. Belum lagi memperhitungkan animo mayoritas masyarakat Asia Tenggara yang menjadikan sepakbola sebagai olahraga nomor satu.

Dengan cepat pula sponsor menangkap keuntungan bisnis dari gagasan ini. Produsen minuman beralkohol asal Singapura, Tiger Beer, setuju menjadi penyokong utama sehingga untuk beberapa edisi turnamen dikenal dengan nama Tiger Cup. Untuk makin mendukung visi tentang kemajuan sepakbola kawasan, AFF sepakat hanya mengirimkan tim U-23 mengikuti cabang sepakbola SEA Games mulai 2001. Otomatis, Kejuaraan AFF sebagai ajang sepakbola tertinggi di Asia Tenggara. Cita-cita AFF bukan pula tanpa hambatan. Brunei Darussalam sempat menarik partisipasi akibat bertentangan prinsip dengan sponsor utama turnamen. Tiger Cup 1998 juga melahirkan momen paling kelam dalam sejarah sepakbola dunia ketika Thailand dan Indonesia menolak menang untuk menghindari tuan rumah Vietnam di semi-final dan diakhiri dengan gol bunuh diri Mursyid Effendi.


Thailand, juara edisi pertama dan tersukses bersama Singapura

Di atas podium, Thailand dan Singapura bergantian mendominasi enam edisi pertama turnamen. Masing-masing merebut tiga gelar juara. Pada dua edisi terakhir muncul juara baru, yaitu Vietnam dan Malaysia, yang berhasil menjadi pemuncak meski sempat terseok-seok di partai perdana. Prestasi terbaik Indonesia masih semata menjadi runner-up sebanyak empat kali. Tiga kali di antaranya bahkan terjadi berturut-turut, yaitu pada 2000, 2002 (saat menjadi tuan rumah), 2004, dan ditambah terakhir 2010.

Gebyar turnamen kian semarak seiring dengan perkembangan perekonomian Asia Tenggara. Setelah berlalunya krisis ekonomi akhir 1990-an, generasi kelas menengah mulai terbentuk. Puncaknya, dua tahun lalu, AFF dan PSSI berpesta pora ketika penonton berduyun-duyun memenuhi stadion Gelora Bung Karno Senayan menyaksikan kiprah apik Garuda sejak penyisihan grup hingga final. Saking menguntungkannya, sempat muncul selentingan Filipina sengaja melepas jatah menggelar laga semi-final pertama di kandang sendiri karena iming-iming guyuran fulus dari saku penonton Senayan. Ditutup dengan laga klasik antara Malaysia dan Indonesia di final, AFF Suzuki Cup 2010 dapat dibilang yang tersukses sepanjang sejarah turnamen.

"Ditutup dengan laga klasik antara Malaysia dan Indonesia di final, AFF Suzuki Cup 2010 dapat dibilang yang tersukses sepanjang sejarah turnamen"


Tapi, inilah sepakbola Asia Tenggara. Animo penonton berbanding lurus dengan prestasi tim. Jangan harap memperoleh dukungan jika tim Anda melempem. Indonesia jadi contoh paling jelas ketika jumlah penonton merosot drastis. Kapasitas stadion GBK Senayan tidak sampai terisi seperempatnya saat Indonesia beruji coba menghadapi Timor Leste dan Kamerun U-23 Plus pekan lalu. Bahkan sempat muncul pula pemandangan unik pada laga kualifikasi turnamen di Yangon, Oktober lalu. Kecewa dengan penampilan tim kesayangan yang lesu di laga pamungkas melawan Laos, suporter Myanmar berbalik mendukung tim lawan pada menit-menit akhir. Myanmar hanya perlu bermain imbang untuk melaju ke fase grup dan hasil 0-0 pun cukup bagi mereka guna mewujudkan misi tersebut.

Tidak semuanya buruk, Filipina berkembang menjadi antitesis. Seiring dengan keberhasilan menembus semi-final dua tahun lalu berkat program pencarian pemain-pemain keturunan, atau disebut "Fil-Fors", fans setia yang menyebut diri mereka "Kaholeros" dan "Ultras" mulai bermunculan seraya mencari identitas dalam mendukung setiap kali Azkals bertanding. Di atas lapangan, kehadiran para Fil-Fors menjadikan Filipina salah satu tim yang kini diwaspadai calon lawan. Padahal, sebelum 2010 Filipina kerap menjadi bulan-bulanan. Sepuluh tahun silam, Filipina mencetak rekor kekalahan terbesar dalam sejarah turnamen, yaitu ketika digilias Indonesia 13-1!
 
Apapun, show must go on. Turnamen jalan terus. Bangkok dan Kuala Lumpur akan menyedot perhatian para penggila sepakbola Asia Tenggara selama sepekan mulai Sabtu (24/11) lusa. Drama, yang hampir pasti terjadi setiap turnamen digelar, takkan terhindarkan. Di dalam maupun di luar lapangan.
Filipina, kuda hitam dan antitesis

Thailand menjadi favorit di Grup A, tetapi harus mewaspadai kebangkitan Vietnam, kuda hitam Filipina, serta kekuatan tersembunyi Myanmar. Grup ini diprediksi berjalan ketat karena dilihat dari materi pemain, keempatnya memainkan formasi striker tunggal. Thailand mengandalkan Teerasil Dangda yang sukses merebut sepatu emas liga musim ini; Vietnam masih mengedepankan Le Cong Vinh yang kian tak tergantikan karena Nguyen Viet Thang absen akibat cedera; Filipina mengandalkan permainan fisik dan serangan balik dengan Phil Younghusband atau Dennis Wolf sebagai tumpuan serangan; dan Myanmar menunggu seratus persen kebugaran striker veteran Yan Paing, yang sudah berpartisipasi sejak Tiger Cup 2002, untuk dijadikan andalan di depan gawang lawan.

Di Grup B, tuan rumah sekaligus juara bertahan Malaysia dikepung dua jiran, Singapura dan Indonesia. Tim terakhir yang dianggap sekadar melengkapi grup ini adalah Laos, yang lolos ke fase grup berkat "bantuan" Myanmar. Malaysia harus memulihkan kepercayaan diri tim karena serangkaian hasil buruk dalam uji coba; Singapura harus diwaspadai karena pelan-pelan mulai menemukan bentuk permainan terbaik; Indonesia, jujur saja, lebih banyak berkutat dengan masalah di luar lapangan; dan Laos mengutamakan para pemain muda untuk meraih pengalaman bertanding. Uniknya, jika Grup A diisi empat tim teratas Asia Tenggara dalam peringkat FIFA terbaru, Grup B terdiri dari empat tim terbawah.

Masih harus ditunggu apakah akan lahir juara baru di turnamen edisi kali ini. Tapi yang pasti, ditunjang dengan perkembangan ekonomi yang pesat, seperti ditunjukkan dengan munculnya banyak jalur penerbangan low cost carrier yang menghubungkan setiap pelosok kawasan ini, sesungguhnya sepakbola Asia Tenggara menuju perkembangan yang lebih baik. AFF Suzuki Cup 2012 seharusnya menjadi momentum untuk menatap lebih luas ke luar kotak, serta tidak melulu menonjolkan sikap chauvinistik. Tidak hanya berlaku bagi suporter maupun pengurus federasi masing-masing negara, tetapi juga bagi setiap insan sepakbola Asia Tenggara. Lebih banyak keuntungan yang bisa didapat dengan saling bekerja sama serta menjadikan turnamen sebagai tolok ukur utama kemajuan sepakbola kawasan ini.

Ikuti perkembangan terkini AFF Suzuki Cup 2012 di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Piala AFF serta informasi terbaru timnas termasuk jadwal, hasil, dan klasemen, dan ikuti perkembangan timnas Indonesia secara LIVE.


Terkait