thumbnail Halo,

Hari terakhir kualifikasi AFF Suzuki Cup 2012, GOAL.com menyaksikan perjuangan dua tim lolos ke fase grup dan suporter paling menuntut di dunia.

GOAL.com Indonesia   CATATAN
CESARE POLENGHI
ALIH BAHASA
AGUNG HARSYA

Menit 92. Timor Leste tertinggal 2-1 melawan Brunei dan mati-matian membutuhkan gol penyama kedudukan supaya melaju ke fase grup turnamen. Wasit asal Jepang meniup peluit tanda terjadinya pelanggaran di luar kotak penalti Brunei. Ini peluang terakhir Timor Leste. Leandro terlihat tenang saat bersiap menendang. Akhirnya dia melepaskan tembakan bertenaga, bola melengkung, dan...

Kembali ke pagi hari terakhir saya di Myanmar, telepon dari teman saya Myo membangunkan saya dari tidur dan dengan cepat kami sudah berada melintasi kota dengan sebuah taksi. Tujuan akhir kami, lapangan latihan Yangon United. Jauh dari jalan kota yang ramai, kompleks olahraga klub terletak di sudut kota Yangon yang tenang. Fasilitasnya bernuansa seni. Lapangan baru sintetis dengan tribun di kedua sisi, gym berdinding kaca, kolam renang, asrama atlet yang megah, dan sebuah bis tim bercat hijau dan biru sebagai warna kebesaran klub terparkir di luar.

Zwe Hlaing Hmee, sekjen klub adalah seorang pria muda yang saya temui malam sebelumnya di gala dinner. Dia bilang sedikit soal tujuan klub. Idenya adalah tentu saja mengembangkan sepakbola lokal ke level berikutnya dan Yangon United benar-benar serius soal itu. Saat didirikan, pada 2009, mereka membuka sebuah uji coba di seluruh tempat di penjuru negeri untuk mengisi skuat sejumlah tim di berbagai level usia muda, mulai dari 11 tahun hingga skuat utama. Sebanyak 300.000 orang mengikutinya untuk mendapatkan peluang bergabung ke klub dan akademi.

Yangon United kini memiliki ambisi di tingkat regional. Setelah gelar liga domestik kedua, mereka menatap jenjang kompetisi di Asia. "Semua yang dibutuhkan sepakbola Myanmar," saya bilang kepada Zwe saat berpamitan dan berterima kasih atas sambutannya, "adalah selusin klub seperti Yangon United." Ya, benar-benar kunjungan yang mengesankan.

Saat kami tiba sore harinya di stadion Thuwunna untuk menyaksikan hari terakhir pertandingan kualifikasi, cuaca sangat terik. Myanmar dan Laos bermain 0-0 tanpa semangat. Satu-satunya pertandingan dalam turnamen yang tidak menarik. Ribuan penonton tidak rela. Saat sepuluh menit tersisa, mereka mulai berteriak, "Laos, Laos!". Pertandingan berakhir dengan diabaikannya tim tuan rumah, mereka ditolak suporter sendiri, meski sukses lolos dengan rekor tiga kali menang dalam empat laga, serta menjaga rekor tak terkalahkan dan hanya kebobolan satu gol. Suporter Myanmar pasti lah suporter yang paling menuntut yang pernah saya saksikan. Sorakan mereka hanya ditujukan untuk Laos, yang kini berharap adanya mukjizat pada laga terakhir.

Itu sungguh terjadi. Kelelahan akibat harus bermain selama sepuluh hari yang ketat telah mendera saya dan saya menangkapnya saat menyaksikan Timor Leste tertinggal dua gol menghadapi Brunei sampai akhirnya membalas satu gol saat pertandingan tersisa 12 menit. Mereka butuh satu gol untuk melaju. Semua berlangsung dengan tempo tinggi hingga akhirnya tendangan bebas di menit-menit akhir. Saya sudah berdiri di belakang gawang untuk memotret foto terakhir saya begitu bola ditendang ke arah gawang.

Dalam waktu yang sangat singkat, gambar-gambar selama sepuluh hari belakangan melintas dalam benak saya. Datang ke tempat yang baru, langit biru di atas stadion yang kuno, para pemain muda yang bersemangat, kisah-kisah pelatih petualang, teman-teman baru yang dengan suka hati mengantarkan saya berkeliling Yangon saat malam, stupa bersepuh emas di Pagoda Shwedagon...

Bunyi hantaman bola ke tiang menyadarkan saya dari lamunan. Pertandingan selesai dengan para pemain Timor yang kalah terbaring lesu di atas lapangan. Beberapa merutuk, yang lain menangis. Sungguh sebuah akhir yang brutal dari kekejaman sepakbola. Sejarah sepakbola negara kecil ini gagal menemui kejayaan hanya dengan jarak satu dua centimeter.

Di konferensi pers, Emerson tidak terlihat lemas. Dia berterima kasih kepada para pemain dan semua orang. Dia mengucapkan selamat buat Myanmar dan Laos. Dia tahu masih ada sejarah yang bisa ditorehkan bagi Timor Leste dan sepakbola Asia Tenggara.

Terima kasih sebesar-besarnya untuk semua yang membuat perjalanan saya terjadi: teman-teman redaksi GOAL.com, AFC dan WSG, para pelatih, dan para pemain, orang-orang yang ramah di federasi sepakbola Myanmar, supir-supir taksi di Yangon, gadis pelayan yang memasakkan saya lasagna pada pukul 2 pagi di 365 Restaurant saat saya kelaparan. Dan, tentu saja, terima kasih kepada pembaca sekalian.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.

Terkait