thumbnail Halo,

Memasuki hari terakhir kualifikasi AFF Suzuki Cup 2012 terungkap lah kejanggalan sekaligus rahasia terpendam Yangon.....

GOAL.com Indonesia   CATATAN
CESARE POLENGHI
ALIH BAHASA
AGUNG HARSYA

Kurang dari 24 jam kualifikasi AFF Suzuki Cup akan selesai. Sontak saya merasa seperti seorang pelajar di hari terakhir karyawisata. Saya sudah berkemas-kemas dan siap menyampaikan selamat tinggal kepada Yangon, stadion Thuwunna, dan semua teman baru di sini. Saya senang dengan pengalaman kunjungan ini sekaligus sedih karena ini harus berakhir. Tapi begitulah hidup, kan?

Hari ini malam gala dinner dan menjadi kesempatan untuk menemui semua orang yang membuat beberapa hari terakhir terasa istimewa. Para panitia hadir, begitu juga delegasi Jepang yang menjadi sponsor utama, federasi tuan rumah, wartawan, dan para pelatih tim-tim yang telah menghibur saya serta para fans.

Pertama saya berjumpa Emerson. Saya langsung merasakan semangat dan ketegangannya untuk pertandingan berikutnya. "Esok pertandingan yang sangat, sangat besar," ujarnya segera. Timor Leste datang ke Myanmar mungkin tanpa ekspektasi, tapi mereka hampir mewujudkan sebuah mukjizat.  Saya mengobrol lebih jauh dengan pelatih asal Brasil itu yang jelas tampak fokus untuk tantangan itu. Dia juga puas dengan pencapaian tim sejauh ini. Kami setuju hanya bermain saja esok dengan peluang untuk lolos sudah merupakan pencapaian yang luar biasa bagi tim muda lagi baru itu.

Dalam jarak beberapa meter ada Kokichi Kimura, saingan sengit Timor Leste untuk memperebutkan peringkat kedua babak ini. "Apakah Anda siap untuk pertandingan esok?" tanya saya dalam bahasa Jepang bahkan sebelum menyapanya. "Pertandingan? Pertandingan apa?" sambutnya sambil tertawa. Entah apa dia berlagak, tapi kelihatan jelas tingkahnya tidak ditutup-tutupi. Dia bilang sedang bekerja untuk meningkatkan kemampuan para pemain, bukan untuk menjadi juara. Hal itu diperkuat dengan fakta dia menggunakan seluruh pemain dalam skuat dalam tiga pertandingan.

Ketika saya merenungkan sisi Yin dan Yang dari Kimura dan Emerson, kami semua diajak memasuki ruang makan. Kami duduk di meja bundar dan gala dinner dimulai dengan cuplikan video berdurasi lima menit tentang delapan pertandingan yang sudah dimainkan. Beberapa digelar sehari sebelumnya, tapi sudah terasa seperti bagian sejarah saga sepakbola. Sungguh menakjubkan betapa cepatnya masa kini menjadi sejarah dan hampir menjadi legenda, ujar saya dalam hati.

Sungguh mengejutkan pula betapa orang-orang sepakbola menjadi cepat akrab dengan tim dan para pemainnya. Sepekan lalu saya hampir tidak tahu apa-apa tentang lima tim peserta, tapi dengan menyaksikan gambar-gambar cuplikan, saya hampir mengenali semua pemain. Seolah-olah kami semua menjadi bagian dari kisah yang sama, yaitu tentang perjalanan sepakbola yang dimainkan Oktober 2012 di sebuah tempat yang sangat jauh: Yangon, Myanmar.

Pertunjukan gala dilanjutkan dengan sajian tarian tradisional dan beberapa sentuhan modern yang terasa aneh bagi saya di sebuah panggung yang kecil. Tapi buat saya, ini menjadi kesempatan untuk mengobrol lebih banyak dengan wartawan lain di meja media, bertukar kartu nama dan saling menyapa, dan minum minuman Muntepulciano merah. Saya senang berada di lingkungan yang berbicara dengan bahasa yang tidak saya pahami, sementara wine Italia di Myanmar sini terasa lebih eksotis. Begitulah, malam pun berlalu.

Suasana keakraban dan antusiasme memuncak ketika Suzuki dan sponsor-sponsor lain membagi-bagikan door-prize. Semua orang gembira. Seorang pria mabuk yang berulang-ulang mencoba memeluk saya berhasil mendapatkan hadiah kamera digital, tapi dia menjatuhkan kotak saat menerimanya. Emerson juga mendapat hadiah, meski saya tak yakin apa yang dimenangkannya. Rasanya itu pertanda bagus buatnya!

Hadiah utama adalah sebuah skuter Suzuki. Kalau saya memang, saya mungkin akan mengendarainya sampai ke Singapura saat pulang dan singgah di beberapa tempat untuk menyaksikan sejumlah pertandingan liga lokal Asia Tenggara. Namun, hadiah itu didapat seorang pria yang lebih pantas memperolehnya ketimbang saya.

Ironisnya, saya diberitahu, di Yangon dilarang mengendarai sepeda motor.

Bagaimana mungkin saya tidak memerhatikannya? Apalagi mengingat saya baru saja mengunjungi Saigon, tempat lebih banyak sepeda motor ketimbang manusia? Kejanggalan ini (sebuah kota Asia tanpa kendaraan roda dua) ada di depan mata saya, tapi butuh sebuah gala dinner untuk membuka kunci rahasia utama Yangon!

Saya kembali ke hotel tepat pada saat Italia mengalahkan Armenia. Hebatnya pertandingan itu disiarkan televisi! Tapi perhatian saya terganggu karena saya terus memikirkan kota tanpa sepeda motor ini.

Saya akan memikirkan sepakbola keesokan hari ketika kita mendapati dua tim yang berhasil lolos.

Esok hari terakhir di Yangon.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.

Terkait