thumbnail Halo,

Seperti yang tersaji selama kualifikasi AFF Suzuki Cup 2012 sepekan terakhir di Yangon, tampaknya masa depan sepakbola Asia Tenggara akan cerah.

GOAL.com Indonesia   CATATAN
CESARE POLENGHI
ALIH BAHASA
AGUNG HARSYA

Meski menderita sakit perut dan demam ringan, saya menyeret langkah menuju stadion Thuwunna untuk kali keempat pekan ini. Ada dua pertandingan bagus lainnya yang harus disaksikan. Laos tampil hebat dan sukses memukul Brunei 3-1; sedangkan Myanmar meski kesulitan menciptakan gol, pada akhirnya mampu menumbangkan Kamboja dengan kekuatan fisik dan melesakkan tiga gol dalam setengah jam terakhir pertandingan.

Hari yang sangat lembab dan saya kembali duduk empat lima jam di bangku tribun pers yang keras. Modem bekerja tersendat-sendat mencoba berkomunikasi dengan dunia. Saya beberapa kali masuk lapangan untuk memotret sejumlah foto dan beberapa kali saya merasa kelelahan serta dehidrasi karena masalah kemarin.

Namun, tidak pernah sekalipun saya merasa bosan atau tertekan berada di sini. Alasannya sederhana. Di Yangon saya menyaksikan banyak pertandingan menarik dan berjumpa orang-orang yang ramah. Saya mendapat semua jawaban dari apa yang saya cari. Beberapa hari belakangan saya bertambah yakin, sepakbola kian berkembang di Asia Tenggara.

Jadi, seiring dengan hampir pastinya Myanmar merebut tiket ke fase grup, Timor Leste dan Laos akan berjuang pada laga terakhir untuk melaju, sedangkan Brunei butuh mukjizat; saya lebih baik mulai merangkum sejumlah pokok pikiran dengan membeberkan tiga elemen yang saya yakini menjadi puncak sukses sepakbola di kawasan ini. Dari semuanya, Jepang menjadi contoh positif dari negara Asia yang mampu mendulang sukses mengembangkan sepakbola di beberapa dasawarsa terakhir.

Pertama dan yang terutama, negara-negara Asia Tenggara perlu berinvestasi menciptakan sistem pembinaan usia muda. Mereka butuh rencana jangka panjang srta mengembangkan struktur yang melibatkan klub-klub lokal, terutama sekolah. Infrastruktur memang jadi masalah, tapi organisasi pemayung lebih penting, yang memberikan arahan jelas serta kualitas instruktur dalam proyek tersebut.

Sembilan puluh lima persen sepakbola di Jepang hari ini masih dimainkan di lapangan keras tanpa rumput. Ini tidak membuat mereka berhenti mencetak pemain sekelas Shinji Kagawa atau Yugo Nagatomo. Di tingkat yang lebih tinggi, fasilitas bagus memang diharapkan, tapi untuk merangsang anak-anak belajar sepakbola, yang dibutuhkan adalah perencanaan, niat baik, dan kompetensi.

Kedua, federasi dan liga harus bekerja sama dalam menunjang tim-tim dengan pemain asing dan pelatih yang paling baik. Krusial pula membantu bakat lokal berkembang, tapi memilih sejumlah pakar dari mancanegara dapat mempercepat pertumbuhan sepakbola Asia Tenggara, juga dengan menciptakan daya tarik bagi tim-tim domestik.

Lagi-lagi, kita harus melihat Jepang. Sepakbola takkan bisa seperti sekarang tanpa para pemain seperti Zico dan Dunga, dan sekarang tanpa maestro seperti Alberto Zaccheroni. Myanmar dan Laos membuktikan diri di kualifikasi AFF Suzuki Cup dengan penampilan sepakbola menawan. Bukan kejutan karena mereka ditangani Park Sung-hwa dan Kokichi Kimura, dua pelatih Korea Selatan dan Jepang yang berpengalaman.

Terakhir, perkembangan sepakbola lokal menuntut dukungan pers setempat. Dengan hampir suksesnya Myanmar lolos dari kualifikasi, hati saya hancur menyaksikan majalah mingguan setempat masih memuat foto Cristiano Ronaldo dan Frank Lampard di sampul depan. Padahal semestinya David Htan dan Kyi Lin.

Tidak ada yang salah menikmati sepakbola Eropa, tapi media pun harus ambil bagian mempromosikan para pahlawan Asia Tenggara. Sekali lagi harus saya sebut kasus Jepang, ketika di awal 90-an TV dan majalah tanpa henti menekan timnas mereka seolah-olah tim tersebut Brasil-nya Pele. Tapi saya tidak heran antusiasme tersebut, meski terdengar artifisial, memberikan kontribusi besar yang mengubah Samurai Biru menjadi tim yang kita kenal saat ini.

Sepakbola bukan olahraga yang sederhana. Kalau memang benar, negara seperti Cina, yang berpopulasi 1,3 milyar jiwa dan cukup makmur untuk berinvestasi dalam sepakbola, akan mendominasi. Tapi tidak dan mungkin mereka perlu melewati beberapa generasi sebelum mampu mencapai level yang dibutuhkan untuk bersaing dengan tim-tim terbaik. Hal serupa berlaku untuk sepakbola Asia Tenggara. Butuh banyak kerja keras dan kesabaran, tapi yang saya lihat di Yangon memberikan saya sikap optimistis akan masa depan.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.

Terkait