thumbnail Halo,

Luis Suarez menjadi pencetak gol tersubur di Liga Primer Inggris, dan melalui periode meyakinkan di Anfield musim ini, namun kerap bermasalah di lapangan.


OLEH   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Sepertinya akan menjadi satu hal yang cukup sulit bila menyebut Luis Suarez, bomber Liverpool, dapat memenangkan PFA Player of the Year.

Ada banyak alasan yang memperkuat kenapa pemain internasional Uruguay tersebut terbilang belum layak memenangkan penghargaan terbaik tahunan untuk seluruh pemain yang berkancah di Liga Primer Inggris itu.

Tak bisa dimungkiri, noda isu rasisme yang melibatkan dirinya dengan fullback Manchester United Patrice Evra hingga saat ini agaknya masih menyisakan kesan tersendiri di benak publik. Belum lagi reputasi seorang diver yang sudah melekat di diri pemain 26 tahun itu. Namun, Suarez sejatinya perlahan terus berjuang memulihkan nama baiknya dengan menaati sanksi yang sempat diterimanya dan membatasi aksi teatrikal dia di lapangan.

LUIS SUAREZ
 MUSIM SUAREZ SEJAUH INI
PERTANDINGAN
GOL
UMPAN
40
29
10
NILAI RATA-RATA
APA KATA MEREKA
"Dia tipe pemain menyenangkan untuk diajak bekerja sama. Dia pemain sejati, dan mungkin tampak aneh. Pemain yang berlatih setiap hari dan ingin terus berlatih setiap hari. Dia begitu bergairah dan memiliki kerendahan hati. Dia membuat tim menjadi bahagia. Dia memiliki kualitas, penyelesaian akhir, dan itu yang menjadikannya sebagai pemain kelas dunia."
- Brendan Rodgers
Walau demikian, si topskor Liga Primer Inggris ini tampaknya tetap jauh dari kata favorit untuk memenangkan gelar pribadi tersebut. Kenapa? Semua kembali lagi bermuara pada status dia di ranah sepakbola negeri Ratu Elisabeth yang kadung telah dicap sebagai seorang lakon 'bandit'.

Satu momen yang semakin menggerus nama sucinya datang pada Januari awal tahun silam, di mana Suarez membuat hand-ball sebelum menceploskan si kulit bundar ke gawang tim dari Conference, Mansfield Town, untuk membawa Liverpool menang krusial, 2-1, di ajang Piala FA.

Tak pelak insiden di pertandingan itu sukses memainkan moral Suarez selama dua minggu. Serangkaian pembicaraan di situs-situs jejaring sosial mengenai prilaku Suarez di lapangan meluap deras, beriringan dengan penilaian minor yang dilontarkan salah seorang komentator terkenal yang memandu pertandingan tersebut. Para pengamat pun sepertinya memang tidak perlu mengamati tayangan ulang untuk mencerna kejadian apa yang telah dilihat: kumatnya 'penyakit' lama Suarez.

Dalam konteks ini, fans setia tentu akan menyorot tajam satu kasus yang tengah merundung pemain kesayangannya. Bahkan mereka hanya cenderung sekali melihat insiden tersebut, dan membuat pandangan mereka sendiri terhadap kenyataan apa yang disaksikan. Meminjam istilah yang familiar dalam sebuah olahraga: curang. Sepertinya publik sudah terlanjur basah menilai Suarez demikian. Dan seroang pemain yang curang akan sulit memantaskan diri memenangkan beragam gelar apapun.

Namun bila menentang sikap dan prilaku dia dengan bukti performa yang ditonjolkan olehnya di lapangan, tidak menutup peluang kalau Suarez sesungguhnya berhak menerima penghargaan PFA pada bulan depan. Faktanya sejauh ini dia telah mengemas 22 gol di Liga Primer musim ini, surplus tiga gol dari para pesaing terdekatnya dalam urusan jebol-menjebol gawang, yang mungkin saja bisa menahbiskan dirinya untuk merengkuh titel pemain terbaik Inggris. Tapi, sekali lagi, ini akan menjadi satu perwujudan yang sulit.

Bila menilik jejak rekor dia secara statistik, Suarez gemilang. Rataan konversi peluang bersih yang mampu dikreasi pria kelahiran Salto ini sejatinya tidak bisa diremehkan. Suarez mampu mencatatkan 58 persen peluang bersih, lebih baik dari rival dia dalam persaingan merebut titel PFA ini: Robin van Persie (36%) dan Gareth Bale (55%). Seharusnya fakta ini bisa menjadi bahan pertimbangan tim penilai untuk menempatkan Suarez berdiri di podium titel pribadi paling prestisius di ranah Britania Raya. Selain itu, Mantan bomber Ajax ini (79%) lebih banyak memproduksi kans dibanding van Persie (49%) dan Bale (65%), sementara Suarez boleh dibilang bermain bagi tim yang sedang kurang kompetitif di musim ini.

Namun, statistik impresif ini bahkan belum cukup untuk menjustifikasi kepantasan Suarez. Namun tidak ada juga angka pasti yang bisa menjelaskan sebarapa banyak jumlah penonton yang menyangsikan kapabilitas Suarez.

Inilah kombinasi sempurna yang dimiliki Suarez, gabungan kualitas estetika dan efektivitas performa yang fantastis, berpadu dengan kinerja luar biasa yang dia pertontonkan di level teratas. Akan tetapi malang bagi Suarez, kelebihan dia sepertinya bukan satu-satunya hal yang dipertimbangkan tim juri PFA. Penghargaan ini juga mengedepankan popularitas. Sementara reputasi Suarez di Inggris? Anda sendiri yang menilai...








Terkait