thumbnail Halo,

Inilah saatnya Jose Mourinho membuat sejarah baru dengan membawa Real Madrid meraih 'La Decima'.


OLEH   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Tanpa perlu pikir panjang, Cuneyt Cakir, wasit yang memimpin laga Manchester United kontra Real Madrid di leg kedua perdelapan-final Liga Champions, mengeluarkan kartu merah dari sakunya untuk mengusir si winger Portugal, Nani. Dan tak lama setelah momen kontroversial itu, The Red Devils pun diterjang mimpi buruk. Harapan treble pasukan Sir Alex Ferguson musim ini seketika pupus. United yang berharap bisa melalui musim ini dengan menggoreskan raihan historis, sirna begitu saja.

Membawa bekal gol tandang pada leg kedua di Old Trafford, skuat Fergie diunggulkan bisa melengserkan Los Blancos. Ditambah lagi, sebelum laga banyak yang menggadang-gadang pertandingan bakal berjalan dahsyat dan prediksinya tetap memfavoritkanUnited keluar sebagai pemenang. Tapi sayang, para petaruh sepertinya harus gigit jari karena hasil akhir berbicara lain.

"Tim terbaik kalah," ujar Jose Mourinho pascalaga. Mungkin belum tentu pelatih lain akan mengatakan hal jujur seperti pria Portugal itu.

Di leg kedua ini secara taktik Ferguson memang membuat fans sedikit terkejut dengan keputusannya mengedepankan Danny Welbeck ketimbang Wayne Rooney. Hal ini dilakukan untuk setidaknya membingungkan kubu Madrid secara strategi. Keputusan Fergie ini juga dimaksudkan untuk mengimbangi kehadiran Xabi Alonso di lini sentral Madrid.



Sesaat sebelum kick-off bos United itu menyiasati betul jika mantan gelandang Liverpool ini akan menjadi sosok kunci permainan Los Blancos, dan terbukti, peran khusus Welbeck untuk membatasi ruang gerak Xabi sempat menyulitkan sang kreator menyervis si megabintang, Cristiano Ronaldo.

Statistik mencatat Xabi hanya mengirim 16 kali umpan di babak pertama dengan akurasi 69 persen, kubu tuan rumah benar-benar menutup lubang dari lini kedua tim tamu.

Akan tetapi celah akhirnya terbuka ketika Luka Modric masuk sementara Welbeck diplot ke posisi penyerang kiri - sebuah perubahan yang disusul munculnya keputusan kontroversi seorang Cuneyt Cakir dengan mengartumerah Nani.

Tak sedikit kalangan menyatakan keputusan wasit sudah benar, salah satunya sosok ikon United sendiri, Roy Keane. Menurutnya, ada atau tidak adanya sentuhan fisik berlebihan di dada Alvaro Arbeloa, Nani seharusnya bisa menyadari jika dia sudah mengangkat kakinya terlalu tinggi. Ada juga sejumlah pihak yang mengomparasi momen perduelan itu tak ubahnya "karate kick" ala Nigel de Jong terhadap Xabi di final Piala Dunia 2010.

Lantas yang menjadi perdebatan panjang adalah kenapa harus ada kartu merah? Momen pelanggaran yang dilakukan Nani ini hampir tidak jarang terjadi bagi seorang pemain yang 'terjebak' dalam posisi bola udara, dan fokus Nani hanya tertuju bagaimana dia mengontrol si kulit bundar, sementara Arbeloa mencoba masuk ke dalam kendali kaki sayap Portugal itu. Tabrakan pun tak terhindari, dan si fullback sepertinya sengaja mendekati Nani. Barangkali mengeluarkan kartu kuning akan menjadi lebih tepat tentunya. Seketika emosi pun pecah. Ferguson meledak, marah besar. Seluruh publik Old Trafford pun demikian.

United goyah, dengan masuknya Modric, ditambah kartu merah Nani, pertandingan pun berubah 180 derajat. Madrid terlihat lebih lentur, penuh kreativitas. Dan mungkin ini adalah kontribusi terbaik Modric sejauh dia membela skuat Mourinho, tampil percaya diri sebagai pengatur serangan dan membuat sebiji gol gemilang yang menyeimbangkan keadaan, meninggalkan Tom Cleverley yang mati gerak sebelum menaklukkankiper David De Gea.

Tak lama setelah gol Modric itu, Madrid tidak mengendurkan permainan alias seketika memanfaatkan momentum untuk menekan tuan rumah secepat mungkin, hasilnya, sang bekas anak didik, Ronaldo, pun berhasil mematrikan nama di papan skor untuk membalikkan keadaan. Tak ada selebrasi berlebihan, sederhana, memperlihatkan wujud rasa hormat Ronaldo pada eks klub yang membesarkan namanya, namun tetap membuat bungkam publik Manchester merah.

Ronaldo dan Modric boleh mejadi pahlawan di laga itu. Namun jangan luput pula menyoroti legenda Manchester Ryan Giggs, yang dalam laga itu menahbiskan penampilan ke-1000 di level klub, menjaga setiap pergerakan Ronaldo di sayap kanan. Dalam beberapa musim terakhir, Giggs telah membuat sejumlah momen fantastis di pengujung kariernya, dengan energi-energi yang masih tersisa. Rasanya, menempatkan Giggs di kubu yang kalah seperti tidak adil.

Babak kedua memang menjadi milik Madrid, tetapi sejatinya United sempat tersulut untuk bangkit di sepuluh menit terakhir. Namun jatuh bangun Diego Lopez di sepanjang paruh kedua membuat gawang dia terbebas dari kemungkinan gol yang bisa mengubah hasil akhir menjadi lebih seru lagi.

Welbeck, Giggs, Rafael, Nemanja Vidic, dan Nani pantas mendapat kredit khusus di laga itu. Tersingkirnya United seperti tidak adil bagi mereka. Dan kekalahan ini tentu akan menjadi menarik untuk kemudian melihat bagaimana mereka mengatasi tahap-tahap berikutnya setelah di awal musim mereka menuai hujan kritik atas performa melempem. Sekarang mereka semua hanya tinggal mengalihkan konsentrasi pada perburuan gelar Liga Primer Inggris, lalu trofi berikutnya Piala FA.

Boleh jadi musim ini adalah milik Madrid. Apalagi, mereka terus memupuk tekad meraih 'La Decima' - sebutan untuk gelar kesepuluh Eropa. Tentu tak ada kata lain selain kerja keras dan terus menjaga konsistensi.

Selamat Madrid!

Terkait