thumbnail Halo,

Sama-sama tumbang di partai pertama Pra-Piala Asia, jelas bahwa Singapura, Thailand, Malaysia Vietnam, dan Indonesia harus membenahi banyak hal untuk mengimbangi kubu elite Asia.


CATATAN   BIMA SAID     PENYUSUN   DEDE SUGITA    
Kegagalan terbaru dari seluruh tim Asia Tenggara mendapatkan sebiji poin pun di laga perdana kualifikasi Piala Asia membuktikan bahwa setelah segala euforia Piala AFF sekitar tiga bulan lalu, kita masih jauh untuk menandingi dominasi kubu Timur dan Barat dalam peta persepakbolaan Asia.

Di antara Asia Tenggara dan Asia Timur saja, hanya tiga negara yang memenangi laga pada Rabu: Jepang (3-0 atas Latvia), Korea Utara (1-0 atas Laos, dan Filipina (1-0 atas Myanmar). Tiga pertandingan itu semuanya persahabatan.

Sementara itu, tak satu pun dari lima tim Asia Tenggara yang memenangi laga pembuka grup dalam perjalanan menuju Australia 2015. Dimulai dengan dipermalukannya runner-up Piala AFF, Thailand, 3-1 oleh Kuwait di hadapan pendukungnya sendiri, diikuti kekalahan Indonesia 1-0 dari Irak di Dubai. Keadaan berubah dari buruk menjadi parah ketika Malaysia menderita kekalahan 2-0 di tangan Qatar, Vietnam tumbang 2-1 di kandang dari UEA, dan sang kampiun AFF, Singaopura, terkapar 4-0 di Yordania.


Al-Kuwait meraih titel Piala AFC kedua mereka tahun lalu
Di level klub, tak satu pun dari klub Asia yang pernah mencapai final Piala AFC, kompetisi tahunan yang digelar sejak 2004 antara klub-klub domestik daari 14 "negara berkembang" AFC

Namun kita tak perlu menanti sampai Rabu lalu untuk menyadari bahwa sepakbola Asia makin jauh tertinggal di belakang seluruh negara lain di Asia. Atau benarkah kita menyadarinya? Mari kita berkilas balik sedikit. Malaysia, Indonesia, dan Vietnam semuanya mendapat tiket otomatis ketika mereka menjadi tuan rumah bersama Piala Asia pada 2007. Empat tahun kemudian di Qatar, tak ada satu tim pun dari sepuluh anggota ASEAN yang lolos. Kemudian, hanya Singapura, Thailand, serta Indonesia yang melangkah ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Asia, dengan seluruhnya gagal mencapai babak IV alias fase akhir.

Di level klub, tak satu pun dari klub Asia yang pernah mencapai final Piala AFC, kompetisi tahunan yang digelar sejak 2004 antara klub-klub domestik daari 14 "negara berkembang" AFC. Hanya Geylang United dan Home United FC dari Singapura (keduanya pada 2004), wakil Vietnam, Binh Duong (2004), klub Thailand, Muangthong United (2010) dan Chonburi (2011) yang berhasil menapaki babak semi-final. Sementara segelintir tim Asia Tenggara yang telah mencapai Liga Champions Asia dianggap sebagai bulan-bulanan di babak grup, predikat yang sayangnya tepat.

Jadi ke mana kita melangkah dari sini? Pertama-tama mari kita simak pandangan singkat dari setiap edisi GOAL.com di Asia Tenggara tentang apa yang terjadi pada Rabu.

Singapura

Kolaps total di babak kedua, kurangnya kebugaran dan keyakinan. Itulah bagaimana Teo Teng Kiat dari GOAL.com Singapura menggambarkan kegagalan Singapura di pertandingan melawan Yordania.

"Begitu babak kedua dimulai, semuanya menurun dari sana dan bisa lebih buruk lagi jika bukan karena penyelesaian buruk dari tim tuan rumah. Singapura adalah raja ASEAN, tapi kami masih jauh untuk disejajarkan dengan raksasa-raksasa Asia," kata Teng Kiat.

"Beberapa pemain terlihat tidak yakin mereka dapat memetik hasil bagus, kepercayaan diri yang ditampilkan selama Piala AFF benar-benar absen di sini."

 

Thailand

Lini pertahanan yang tanpa pertahanan, terlalu rileks bermain di laga kandang, permainan ceroboh, umpan-umpan silang berkualitas rendah dan sebuah keputusan buruk adalah sejumlah pemicu kekalahan 3-1 Thailand atas Kuwait, demikian menurut Teerapatra Rundhasevi dari GOAL.com Thailand.

"Laga persahabatan menghadapi UEA dibatalkan akibat aplikasi visa yang terlambat. Pada akhirnya, tim nasional hanya bermain melawan klub lokal berperingkat rendah," tambah Teerapatra.

Terakhir kali Thailand melakoni laga eksebisi di rumah lawan adalah pada 2010 silam melawan Afrika Selatan, tuan rumah Piala Dunia yang ingin menguji stadion baru mereka. Friendly tandang berikutnya masih belum diketahui.

 

Malaysia

Meski tampil berani dan amat disiplin, Harimau Malaya sedikit kurang dalam segi konsentrasi serta inovasi, begitu klaim chief editor GOAL.com Malaysia, Falah Abdullah.

"Passing kami jauh dari memuaskan," tutur Falah. "Kendati pelatih Rajagopal tampak telah merampungkan pekerjaan rumah terkait sisi pertahanan, penyerangan dan passing kami mengecewakan. Lini tengah kekurangan kreativitas yang sesungguhnya dan para striker harus 'mengejar bayangan' sepanjang laga."

Falah juga menyalahkan keputusan buruk Rajagopal yang tak menurunkan para pemain Malaysia Super League yang sedang in-form sebagai starter.

"Pada laga di mana kami tak dapat menggunakan servis Safee Sali dan Norshahrul Idlan, pertanyaan kenapa topscorer MSL, Fauzi Roslan, ditinggal di bangku cadangan sepanjang pertandingan hanya dapat dijawab sendiri oleh Rajagopal. Playmaker Kelantan, Norfarhan Muhammad, juga hanya digunakan di sebagian laga."

 

Vietnam

Chief editor GOAL.com Vietnam, Erick Bui, melihat pendekatan yang lebih positif dari timnasnya.

"Setelah tereliminasi secara memalukan di Piala AFF, Federasi Sepakbola Vietnam menggelar revolusi untuk tim nasional. Beberapa pemain veteran, termasuk bintang top yang di bawah performa, Le Cong Vinh, didepak untuk memberi ruang buat para youngster. Mayoritas tim sekarang terdiri dari para pemain U-23 yang belum pernah mengumpulkan satu cap pun," jelas Erick.

Tapi meski menampilkan performa bagus, Vietnam masih tak punya jawaban untuk dua kelemahan utama mereka selama bertahun-tahun.

"Kurangnya seorang finisher andal telah menghantui Vietnam selama lebih dari sepuluh tahun," lanjut Erick. "Saya juga tak bisa cukup menekankan seberapa besar harga yang telah dibayar Vietnam karena kelemahan dalam mengantisipasi bola-bola udara. UEA adalah tim yang jarang menggunakan bola-bola udara sebagai senjata dalam menyerang, tapi di saat pertama mereka memakainya, Vietnam langsung kecolongan gol yang akhirnya menjadi penentu kemenangan buat tim tamu."

 

Indonesia

Dari mana harus memulai dengan tim nasional saya sendiri? Asisten editor GOAL.com Indonesia, Agung Harsya, bertanya-tanya: "Adakah negara lain dengan situasi lebih buruk dari Indonesia?"

Sebelum laga, jadwal uji coba antara Indonesia dan Yordania masih belum jelas. Hanya dua hari sebelum laga mereka akhirnya terbang ke Amman, di mana kurangnya kebugaran serta dinginnya cuaca berkontribusi dalam kekalahan telak 5-0.

"Hasil tersebut membuat fans pesimistis. Di Dubai, Indonesia bermain dengan pertahanan solid dan "hanya" kalah 1-0 dari tim Irak yang dipenuhi pemain muda. Tapi kekalahan adalah kekalahan," tukas Agung.

Tak cukup sampai di sana. Sehari berselang, PSSI menunjuk Luis Manuel Blanco sebagai pelatih kepala baru menggantikan Nil Maizar. Keputusan ini dibuat tanpa persetujuan komite eksekutif PSSI, melainkan atas rekomendasi dari Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan kisruh antara PSSI dan asosiasi tandingan KPSI belum terselesaikan, pemerintah Indonesia menjadi semakin terlibat dalam pergerakan yang mungkin berujung hukuman FIFA.

 

Asia Tenggara yang Lebih Bersatu

Dengan kelemahan kita telah diketahui, langkah berikut yang perlu diambil adalah meningkatkan kualitas sepakbola di Asia Tenggara dan menanggulangi permasalahan setiap negara, baik itu kurangnya kualitas kompetisi domestik, infrastruktur dan organisasi yang buruk, atau hanya gap dalam talenta fisik.

Chelsea
Chelsea pada Jumat mengumumkan rencana tur musim panas 2013 ke Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Bukan hal mengejutkan tim-tim Liga Primer Inggris dan klub-klub top Eropa lainnya datang ke Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, dan Jakarta untuk uji coba pramusim mereka.

Namun tetap ada harapan dalam wilayah yang bisa dianggap sebagai yang paling bergairah soal sepakbola, dengan sebagian besar dari 600 juta penduduknya jatuh mencintai permainan ini. Bukan hal mengejutkan tim-tim Liga Primer Inggris dan klub-klub top Eropa lainnya datang ke Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, dan Jakarta untuk uji coba pramusim mereka.

Namun gairah saja tak cukup ketika sepakbola kita memerlukan peningkatan, dan jelas bahwa sepakbola Asia Tenggara hanya dapat ditingkatkan secara kolektif, bukan individual. Demi mengimbangi kualitas Asia Timur dan Barat, pertama-tama kita perlu saling membantu satu sama lain. AFF, sebagai organisasi teratas di wilayah kita, memainkan peranan penting dalam hal ini. Bayangkan jika sebuah kompetisi dapat meningkatkan kualitas sepakbola kita dalam jangka panjang, membuat federasi-federasi berkolaborasi dan secara kolektif meningkatkan standar permainan di wilayah kita.

Dan ini membawa kita ke topik pembahasan berikut: bisakah ASEAN Super League melakukan persis seperti itu?

Bersambung...



GOAL.com hadir via ponsel di alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi GOAL.com secara langsung untuk OS ponsel Anda:


Terkait