thumbnail Halo,

Cesare Polenghi dari GOAL.com Asia menganalisa mengapa, di tengah berbagai masalah, sepakbola Italia masih menyimpan harapan


OPINI   CESARE POLENGHI     PENYUSUN   DEFANIE ARIANTI    
Pada kolom sebelumnya, saya kerap mengkritik sejumlah aspek sepakbola Italia, menunjuk kepada masalah-masalah utama yang menghambat perkembangannya dalam beberapa tahun terakhir. Tiga permasalahan utama adalah: pemilik klub yang tidak kompeten dan memiliki sindrom megalomaniac; pers yang partisan dan kerap melontarkan lelucon tidak pantas; ditambah pelaku kriminal terorganisir yang membayangi sepakbola Italia, tak peduli apakah mereka hooligan atau pelaku judi ilegal yang memanipulasi pertandingan dan pemain.

Namun, kali ini, saya ingin merayakan kembalinya Mario Balotelli ke Serie A dengan menyambut tiga aspek positif dalam sepakbola Italia saat ini: semakin banyaknya pemain muda, kesuksesan model bisnis Juventus dan kualitas laga secara keseluruhan.

Kurangnya modal untuk berinvestasi membeli pemain bintang memaksa klub-klub Serie A menajamkan sisi imajinasi mereka dalam membangun skuat, dan hasilnya adalah peluang pemain muda yang semakin terbuka. Di Italia, pendukung klub-klub besar memiliki tingkat kesabaran yang tipis, dan pemain muda yang dimainkan secara prematur kerap berujung memojokkan pemain yang bersangkutan – karena itulah muncul tradisi ‘mengirimkan’ pemain ke klub-klub kecil agar mengasah mental mereka.

Tren ini berubah drastis, terutama di musim ini, artinya banyak pemain di bawah 21 tahun yang memiliki kesempatan untuk bermain secara reguler, bahkan di klub-klub besar. Contoh paling menonjol sejauh ini adalah: Stephan El Shaarawy, M’Baye Niang, Mattia De Sciglio (semuanya pemain Milan), Lorenzo Insigne (Napoli), Alessandro Florenzi dan Mattia Destro (keduanya di Roma) untuk para pemain Italia.

Tapi selain itu masih ada  Paul Pogba (Juventus), Juan Jesus (Inter), Stefan Savic (Fiorentina), Mauro Icardi (Sampdoria), Erik Lamela dan Marquinhos (Roma). Milan dan Roma khususnya sepertinya mengambil kebijakan untuk membina pemain-pemain muda, sesuatu yang tentunya bisa membantu para pemain muda Azzurri berkembang secara cepat guna melakoni tantangan baru skuat Italia besutan Cesare Prandelli.

Kabar baik kedua adalah rencana Juventus untuk memasuki era baru. Stadion pribadi mereka, yang merupakan pusat rencana Andrea Agnelli, selalu penuh terisi; pembukuan mereka terlihat baik, dan tim berhasil memuncaki klasemen setelah lolos ke fase gugur Liga Champions.

Sayangnya, menduplikasi apa yang dilakukan Juventus tidak akan mudah, dan birokrasi Italia tidak membantu klub-klub yang ingin melakukan hal tersebut. Akan tetapi, Juve tidak sendirian dalam perkembangan tersebut: keluarga Pozzo, pemilik klub Udinese, contohnya, melakukan bisnis dengan sangat bagus dalam beberapa tahun terakhir sehingga mereka bisa membeli dua klub lain, yaitu klub Championship Watford dan Granada di La Liga. Granada sendiri merupakan klub yang secara mengejutkan membungkam Real Madrid, akhir pekan lalu.

Napoli, Lazio dan Fiorentina juga terlihat berada di jalur yang benar, dan klub yang berhasil lolos ke Liga Champions tentunya akan memiliki uang cukup untuk berinvestasi di bursa transfer musim panas.

Terakhir, bagi mereka yang cukup peduli untuk memperhatikan, perhelatan liga Italia masih menyuguhkan laga-laga yang layak dinikmati. Secara teknis, kendati formasi tiga bek kini banyak diterapkan, tim-tim Italia masih melakoni laga dengan gaya berbeda dam memiliki taktik bertahan yang masih terbilang unik di Eropa. Hal itu juga dikarenakan tempo pertandingan yang tidak terlalu ekstrim seperti, contohnya, Liga Primer Inggris.

Intinya sangat sederhana: Italia tahu bagaimana cara bermain bola, sesuatu yang telah mereka tegaskan di Euro 2012 dan, contohnya, kesuksesan Juventus akhir-akhir ini serta tereliminasinya jawara Eropa, Chelsea.

Sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan sepakbola Italia, dan analisa menyeluruh situasi saat ini juga tidak menyisakan banyak ruang untuk rasa optimis. Meski demikian, penting untuk diingat bahwa kita membicarakan tentang negara di mana sepakbola nyaris seperti agama, di mana gairah dan cinta untuk sepakbola melahirkan banyaknya pemain maupun fans. Karena itu, sulit untuk tidak membayangkan masa depan yang cerah di ujung kegelapan sepakbola Italia sejak 2006 silam.



Ikuti perkembangan terkini sepakbola Italia di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Serie A Italia lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Italia.

Terkait