thumbnail Halo,

Managing editor GOAL.com Asia Cesare Polenghi menganalisis betapa bagusnya pertandingan Juventus-Inter, meski ada banyak hal yang bisa menggangu.

GOAL.com Indonesia   ANALISIS
CESARE POLENGHI 
PENYUSUN
HAPPY SUSANTO

Setelah tidak terkalahkan dalam 49 pertandingan, hari kekalahan buat Juventus akhirnya tiba. Ya, sang juara bertahan menelan kekalahan 3-1 di tangan FC Internazionale, Minggu (4/11) dini hari WIB. Ini juga untuk pertama kalinya Bianconeri kalah di stadion yang baru.

Kekalahan itu layak diterima Juventus dalam sebuah pertandingan yang berlangsung cukup menarik. Nerazzurri memiliki organisasi permainan yang bagus, meski bersifat pragmatis.

Ada banyak taktik hebat yang dilakukan pelatih Inter Andrea Stramaccioni dalam membuat pertandingan ini menjadi memesona. Penampilan individual pemain-pemain Inter juga memberi keuntungan buat tim.

Juventus cukup beruntung bisa unggul cepat lewat aksi Arturo Vidal, meski sebelumnya sudah ada momen dalam posisi off-side. Mereka juga sempat mengancam dengan sejumlah peluang jelang pertandingan babak pertama akan berakhir. Tapi, mereka gagal memanfaatkannya. Sebaliknya, Inter memiliki sejumlah peluang terbaik. Penampilan gemilang itu salah satunya ditunjukkan Diego Milito, yakni tiga shot dengan dua gol.

Ironisnya, penampilan itu kebalikan dari pertandingan di musim lalu, tepatnya pada 25 Maret 2012. Saat itu, striker asal Argentina itu seharusnya bisa mencetak hat-trick di babak pertama, namun gagal memanfaatkan semua peluang. Itu adalah pertandingan tuan rumah Juventus yang kemudian "membunuh" permainan di babak kedua dan menang 2-0.

Analisis tentang masalah-masalah aktual Juventus mungkin dimulai dari pertandingan itu (lawan Inter di kandang sendiri pada musim lalu). Gol kedua pasukan Antonio Conte itu dicetak Alessandro Del Piero, yang saat itu setiap orang setuju kalau kelemahan Si Nyonya Tua adalah di barisan striker. Masalah itu kemudian dialami hingga musim panas lalu, namun mereka tetap gagal mencari solusi.

Dibandingkan musim lalu, Juventus menggantikan Marco Borriello dengan Nicklas Bendtner (mungkin terlalu dini menilai penampilan striker asal Denmark itu, namun sejauh ini ia belum impresif) dan Del Piero dengan Sebastian Giovinco. Pemain yang terakhir disebut memiliki peluang mencetak gol, yakni pada menit ke-25, serta peluang-peluang lainnya. Namun, ia belum membuktikan menjadi pemain menentukan di Turin. Sejauh ini mencetak tiga gol, semuanya tidak menentukan pertandingan.

Masalah Juventus memang di sektor penyerang. Dari 23 gol yang mereka lakukan di musim ini, hanya sembilan yang dilakukan para striker, dengan rata-rata 40 persen. Menurut Gazzetta dello Sport, dalam sepuluh tahun terakhir, hanya Juventus yang terburuk. Bahkan musim lalu, hanya rata-rata 37 persen. Dalam hampir satu dekade ini, kontribusi striker dalam mencetak gol mencapai sekitar 65-70 persen.

Itulah masalah Juventus dalam urusan mencetak gol dalam tiga pertandingan sebelumnya. Di antara pertandingan terakhir di Liga Champions lawan Nordsjaelland dan dua pertandingan terakhir di kompetisi domestik, Juventus hanya melakukan shot 77 kali, dengan mencetak hanya empat gol.

Ada yang berpendapat kalau taktik Conte tidak cocok untuk barisan striker, yang lebih banyak bekerja menciptakan ruang, yang kemudian bisa dieksploitasi oleh barisan gelandang. Memang benar striker-striker mereka mendapat banyak peluang, tapi tidak jarang itu disia-siakan. Menurut data statistik, di Serie A musim ini, Mirko Vucinic bisa disebut sebagai striker terbaik Juventus, yang bisa mencetak satu gol di setiap enam tendangan. Sebaliknya, Milito memiliki rata-rata mencetak satu gol dalam dua tendangan.

Masalah lebih besar sebenarnya terjadi di sepakbola Italia. Paolo Tagliavento, wasit yang melakukan empat kesalahan di pertemuan Milan-Juventus pada musim lalu, kembali melakukannya pada Sabtu lalu. Selain tidak menentukan posisi off-side Kwadwo Asamoah saat terjadi gol Juventus, ia tidak memberikan kartu merah untuk Stephen Lichtsteiner. Padahal, ia sebelumnya sudah mendapat kartu kuning dan seharusnya mendapat kartu merah setelah melakukan tekel brutal.

Di babak kedua, Tagliavento mulai memberi kartu kuning untuk sejumlah pemain Juventus, yakni Andrea Pirlo, Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci. Sang pengadil juga memberi hadiah penalti untuk Inter, meski Milito menganggap itu adalah penalti lunak. Namun, secara keseluruhan, kurang berkompetennya wasit jelas terlihat. Beruntung, itu bisa diimbangi dengan permainan yang berlangsung bagus. Kemenangan yang meyakinkan ini membuat persaingan gelar menjadi kembali terbuka.

Dalam konteks ini, pernyataan presiden Inter Massimo Moratti sempat mengganggu. Ketimbang merayakan kemenangan, petinggi klub ini tampaknya lebih tertarik membuka "peti mati" yang sudah dikubur pada 2006. "Kartu merah tidak diberikan [untuk Lichsteiner] adalah sebuah kesalahan yang dilakukan dengan tujuan," keluh pria berusia 67 tahun itu usai pertandingan.

Meski tidak ada hubungannya dengan masa lalu, namun di Italia, bahkan anak kecil pun tahu kalau Inter punya "skeletons in the closet" (rahasia-rahasia di masa lalu yang tidak mau diungkap). Faktanya, tidak ada seseorang pun yang butuh kembali jauh ke belakang untuk mencari pertandingan di mana Inter memanfaatkan kesalahan yang dilakukan wasit. Itu terjadi di Derby Milan pada empat pekan yang lalu.

Moratti tentunya bukan satu-satunya orang yang melakukan kesalahan berbicara, namun yang jelas, ia melewatkan peluang menjadi "sang juara yang bagus." Sebaiknya presiden klub itu berhenti terus mengeluh tentang wasit, tapi fokus dengan nilai-nilai positif di dalam sepakbola Italia yang tidak akan pernah datang dengan terlalu dini.

Ada sebuah catatan positif yang bisa disimpulkan: siapa saja yang menyukai permainan, memiliki brand baru kejuaraan Serie A yang akan dilihat ke depan. Inter sebaiknya sekarang membuktikan, kemenangan briliant di Turin bukanlah suatu momen “Pazza Inter” ("Inter Gila"), namun adalah sebuah era yang baru.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Italia di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Serie A Italia lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Italia.

Terkait