thumbnail Halo,

Ini memang eranya para pesepakbola hebat, tapi monopoli klub besar cukup memprihatinkan dan berpotensi menjadikan permainan mudah diprediksi.

Oleh
Carlo Garganese

Ronaldo, Casillas, Messi, Iniesta, Pirlo, Drogba, Xavi, Ashley Cole – para penghuni deret terdepan daftar GOAL.com 50 termasuk di antara yang terbaik dari generasi terkini di posisi masing-masing. Dan di 2011/12, para superstar ini berulang kali mendemonstrasikan kenapa mereka akan dikenang sebagai legenda.

Ronaldo dan Messi mencetak jumlah gol mencengangkan: total 133 gol jika dikombinasikan, para kontingen Spanyol amat menentukan dalam mengantar negara mereka mengukir trofi mayor internasional ketiga secara berturut-turut dengan menjuarai Euro 2012, Pirlo berperan penting membantu Juventus dan Italia bangkit dengan kejeniusannya mengatur permainan, sementara Drogba membawa Chelsea merengkuh titel idaman Liga Champions dengan gol-gol vitalnya, termasuk melesakkan penentu kemenangan dalam adu penalti di babak final.

50 pemain yang menghiasi daftar terbaik GOAL.com adalah creme de la creme di sepakbola. Para figur penting dari tim yang meraih gelar mayor umumnya sudah dikenal publik. Para jawara di Liga Spanyol, Inggris, Italia, Jerman, serta Eropa (Liga Champions dan Euro) menyumbang 35 pemain dalam daftar, ditambah enam pemain dari Barcelona yang mencaplok Copa del Rey musim lalu.

Kehadiran empat penjaga gawang dalam daftar menunjukkan bahwa kita tengah berada di era keemasan untuk posisi di bawah mistar. Kendati beberapa kalangan mungkin prihatin dengan kekurangan kualitas di area lain, seperti lini belakang, keberadaan Iker Casillas, Gianluigi Buffon, Joe Hart, dan Petr Cech adalah sesuatu yang pantas dirayakan. Dengan menempati urutan kedua, Casillas, kiper nomor satu Real Madrid, mencapai hal yang secara virtual mustahil, mengingat hanya ada satu penjaga gawang sepanjang sejarah yang pernah memenangi Ballon d'Or: Lev Yashin pada 1963.

Daya jual klub sepakbola -- yang kini telah menggapai popularitas serta kualitas di level internasional -- sebelumnya tak pernah mencapai tingkat begitu tinggi seperti sekarang, dengan tim-tim seperti Real Madrid, Barcelona, Juventus, AC Milan, Chelsea, Manchester United, dan Arsenal melampaui batas-batas negara dan manjaring fans lebih banyak di seluruh penjuru dunia, di antaranya berkat peran media.

Di tengah ekspansi dan globalisasi ini, tetap ada catatan yang patut jadi perhatian. Klub sepakbola memang semestinya dinikmati bersama oleh massa, baik di dalam maupun di luar lingkup olahraga, namun nyatanya sekarang ini bal-balan hanya didominasi oleh sejumlah tim dari beberapa negara saja. Ada lingkaran di antara klub-klub elite yang seolah tak pernah terganggu -- para tim kaya baru seperti Manchester City dan Paris Saint-Germain adalah contoh pengecualian yang jarang terjadi.

43 pemain di daftar GOAL.com 50 berbasis hanya di empat liga: La Liga (18), Liga Primer Inggris (13), Bundesliga Jerman (7), dan Serie A Italia (5). Di antara jumlah ini, 33 pemain berasal dari enam klub saja: Real Madrid (9), Barcelona (6), Manchester City (6), Juventus (4), Chelsea (4), dan Borussia Dortmund (4). Tahun lalu, 45 dari 50 pemain terbaik berasal dari liga "empat besar", jumlah identik juga menghiasi daftar edisi 2010.

Dominasi Elite | 33 pemain dalam GOAL.com 50 berasal hanya dari enam klub.

Dalam sedekade terakhir, kompetisi antarklub paling prestisius, Liga Champions UEFA, sejatinya -- kecuali sukses mengejutkan FC Porto pada 2004 dan kiprah mencengangkan klub seperti AS Monaco atau Schalke 04 -- hanya diperebutkan oleh sepuluh klub dari empat negara yang telah tersebut di atas: Manchester United, Arsenal, Liverpool, AC Milan, FC Internazionale, Juventus, Barcelona, Real Madrid, serta Bayern Munich. Dalam tujuh musim ke belakang, cuma ada satu semi-finalis yang berasal dari luar empat negara itu: Olympique Lyon pada 2009/10.

Sementara persaingan di Bundesliga Jerman tergolong merata, dengan empat kampiun berbeda dalam enam tahun terakhir (meski hanya Bayern yang secara konsisten bisa berbicara di Eropa), destinasi dari titel Liga Primer, Serie A, dan La Liga relatif mudah diprediksi. Baru pada musim lalu Manchester City dengan dana gemuknya mampu mengakhiri duopoli Manchester United-Chelsea. Tak ada klub selain Juventus, Milan, dan Inter yang dapat merengkuh scudetto sejak 2001, sedangkan Real Madrid dan Barcelona di Spanyol menguasai gelar Primera Division sejak 2004. Dalam tiga musim terakhir, jarak antara duo raksasa Matador itu dengan tim peringkat ketiga adalah 25, 21, dan 30 poin. Ini mengilustrasikan seberapa signifikan perbedaan kekuatan sepasang pelakon el clasico itu dengan klub-klub lain di Spanyol.

Dalam sepakbola sekarang ini berlaku sistem dua golongan: pertama para elite yang memiliki seluruh talenta serta uang, dan kelompok kedua yang sama sekali tak punya kans untuk mendobrak ke puncak piramida, kecuali investor kaya datang seperti yang telah kita lihat dengan Manchester City dan Paris Saint-Germain.

"Dengan sumber daya tak terbatas, sebuah klub bisa membeli pemain seperti yang telah dilakukan PSG, atau Manchester City, atau Chelsea, tapi secara overall sepakbola jadi menderita," demikian komplain manajer Arsenal, Arsene Wenger, belum lama ini.

Bukan kebetulan bila tim-tim yang banyak mengirim wakilnya dalam GOAL.com 50 umumnya adalah mereka yang menghabiskan uang terbanyak. Dalam lima musim panas terakhir -- sebelum bursa transfer kali ini, Real Madrid menghabiskan total €606 juta (pengeluaran bersih €389 juta) hanya untuk berbelanja pemain baru. Barcelona menggelontorkan €409 juta (€360,6 juta), dan yang paling boros Manchester City dengan €658 juta (€518 juta).

Dalam sepakbola sekarang berlaku sistem dua golongan: pertama para elite yang memiliki seluruh talenta serta uang, dan kelompok kedua yang tak punya kans untuk mendobrak ke puncak piramida

Meski begitu, sepakbola tak pernah terbiasa didominasi oleh segelintir elite secara eksklusif.

Sebelum format dan nama baru Liga Champions diperkenalkan pada 1992, European Cup menampilkan para pesaing serius dan juara yang dianggap oleh generasi muda sekarang sebagai klub semenjana. Kisah sukses Celtic 1967 yang dikenal dengan julukan "Lisbon Lions", Nottingham Forrest yang diperkuat Brian Clough, Hamburg dengan Felix Magath, Steaua Bucharest dengan Gheorge Hagi, Red Star dengan Dejan Savicevic pada 1991, Sampdoria era Gianluca Vialli serta Roberto Mancini, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Sayangnya, bahkan klub-klub legendaris seperti Ajax -- yang merengkuh tiga titel European Cup berurutan di awal 1970-an dengan skema Total Football dan mengandalkan trio Johan Cruyff, Piet Keizer, dan Johan Neeskens, sebelum generasi emas lain lahir dan mencaplok Liga Champions 1995, kini tak punya kesempatan untuk menantang di jalur juara.
 
Di kompetisi domestik, semula persaingan tak hanya melibatkan Real Madrid dan Barcelona di Spanyol, atau Juventus dan duo Milan di Italia. Menjelang dan saat baru memasuki pergantian milenium, Atletico Madrid, Deportivo La Coruna, dan Valencia sempat merasakan nikmatnya menyabet mahkota  La Liga. Di awal 1980-an, region Basque mendominasi Spanyol dengan Real Sociedad dan Athletic Bilbao berbagi masing-masing dua gelar dalam empat tahun.

Antara 1983 dan 1991, terdapat tujuh peraih scudetto berbeda, termasuk cerita laksana dongeng yang dialami Verona saat mencuat sebagai yang terbaik di Serie A 1984/85. Saat itu, setiap tim bisa bermimpi memiliki pemain kelas dunia dalam skuat, bukan hanya klub elite. Di pertengahan 1980-an, Verona punya Preben Elkjaer dan Hans-Peter Briegel, Udinese dengan Edinho, dan sebelumnya Zico, Sampdoria -- Trevor Francis dan Graeme Souness, Fiorentina -- Daniel Passarella, Inter -- Karl-Heinz Rummenigge dan Liam Brady, Juventus -- Michael Laudrup dan Michel Platini, Roma -- Zbigniew Boniek dan Toninho Cerezo, Torino -- Junior, Napoli -- Diego Mardona. Bahkan AS Avellino, kini berkiprah di Lega Pro Prima Divizione (divisi III) mampu mendatangkan pemain sekelas Ramon Diaz (bintang tenar Argentina di masanya).

Memang tak bisa dimungkiri bahwa uang merupakan faktor kunci yang menarik para pemain tersebut di masa keemasan Serie A -- seperti yang tengah berlaku untuk para superpower Liga Primer dan La Liga saat ini. Namun kekayaan ketika itu tak hanya dinikmati oleh segelintir klub saja. Kekayaan dan talenta kala itu tersebar di seluruh peserta liga, yang tentu memastikan tergelarnya kompetisi sengit.

Alhasil, penghargaan personal seperti Ballon d'Or ketika itu pun menunjukkan representasi yang sehat dari klub-klub dan liga-liga yang ada. Lima dasawarsa silam, 27 pemain menerima vote untuk Ballon d'Or edisi 1962. Mereka berasal dari 24 klub dan 11 liga berbeda. Pada 1972, 27 kandidat berasal dari 21 klub dan 14 liga. Setiap klub, kecuali Ajax dan Bayern, mengutus hanya satu pemain. Pada 1982, 19 pemain yang masuk nominasi berasal dari 13 klub di delapan liga.

Bandingkan Ballon d'Or 1982 dengan GOAL.com 50 tahun ini, di mana 19 bintang teratas hanya berasal dari tiga liga dan delapan klub. Bahkan sepuluh tahun lalu, Ballon d'Or 2002 masih memperlihatkan pemerataan, dengan 27 kandidat berasal dari 15 klub dan enam liga.

Monopoli talenta top | 43 pemain dalam GOAL.com 50 hanya berasal dari empat liga

Lantas, apa yang bisa dilakukan otoritas sepakbola untuk memulihkan keseimbangan?

Presiden UEFA, Michel Platini, telah mengambil inisiatif dalam upaya mencapai tingkat persaingan yang lebih merata. Regulasi Financial Fair Play (FFP) memang menuntut klub-klub agar tak besar pasak daripada tiang, tapi hasil perjuangan Platini ini sepertinya belum membuahkan hasil nyata. Dana €100 juta yang telah dikeluarkan PSG musim panas ini menyiratkan bahwa klub-klub masih bisa menemukan celah untuk menghindari "polisi" FFP.

Pada akhirnya, kecuali para elite mau mengendurkan kendali yang mereka genggam, akan sulit bagi para tim yang secara finansial tertinggal untuk menutup gap. Spanyol menghadirkan ilustrasi sempurna mengenai "korup"-nya distribusi uang hak siar televisi. Seperti dijelaskan presiden Malaga, Abdullah bin Nasser Al-Thani, karena kesepakatan dilakukan secara individual oleh tiap klub, itu berarti bahwa Real Madrid dan Barcelona menerima sekurangnya €100 juta lebih banyak per tahunnya dari uang TV ketimbang kebanyakan pesaing mereka di La Liga. Sistem tak simetris ini adalah satu tantangan unik yang mesti dicari solusinya oleh badan otoritas sepakbola.

Harus ada aturan, aturan yang dipaksakan, untuk memastikan bahwa uang TV didistribusikan secara merata, sehingga tim-tim seperti Ajax bisa menuai buah dari akademi muda klub yang terkenal paten dan tak harus merelakan pemain-pemain berbakat pergi ketika beranjak dewasa, sehingga talenta kelas top bisa tersebar di seluruh peserta liga dan tidak terkonsentrasi di dua tim besar saja, sehingga negara-negara yang pernah melahirkan klub juara di European Cup seperti Rumania, Skotlandia, dan Belanda tak hanya menjadi feeder league.

GOAL.com 50 memang mengingatkan kita bahwa kita sedang hidup di eranya para pesepakbola hebat. Tapi, bila otoritas sepakbola ingin menghindari cabang olahraga ini menjadi sangat mudah diprediksi, maka maka tanggung jawab mereka adalah memastikan agar kehebatan ini jauh lebih tersebar.


SIAPA TERATAS DALAM DAFTAR
50 PEMAIN TERBAIK 2012
VERSI GOAL.COM?

Terkait